Liga 1

Minim Regenarasi Dan Hilangnya Taji Si Mutiara Hitam

Pemain Persipura, Boaz Salosa saat dipercaya menjadi pemain Timnas. (Ist)

MEDANSPORT.ID- Persipura Jayapura, ya nama ini begitu ditakui setiap lawan yang akan berhadapan dengannya. Di manapun berlaga, tim berjuluk Mutiara Hitam ini selalu memperlihatkan keganasannya. Sehingga wajar jika mereka menjadi tim dengan pengoleksi gelar terbanyak Liga 1 (gabungan Perserikatan dan Galatama) yakni musim 2005, 2008-2009, 2010-2011, 2013. Mereka juga empat kali menjadi runner-up pada musim 2009-2010, 2012, dan 2014.

Tapi tim menakutkan itu seakan kehilangan aura. Bagaimana tidak, selama dua musim ini, performa buruk selalu ditunjukkan di sejumlah laga. Boaz Solossa dkk hanya mampu menutup musim lalu di posisi 12 klasemen.

Ironisnya lagi, dalam enam pertandingan yang dilakoni pada musim 2019, Persipura belum pernah menang sekalipun dan hanya mampu meraih tiga poin dengan hsail seri tiga kali yang diperolehnya.

Terakhir, Tim Bumi Cendrawasih dihajar Arema FC 1-3 di Stadion Gajayana, Malang, Kamis (4/7/2019). Sebelum pertandingan tersebut, pelatih kepala Persipura, Luciano Leandro, terpaksa dilengserkan dari tim.

Kesabaran manajemen Persipura ke pelatih asal Brasil itu habis. Mereka kecewa berat saat Persipura hanya bisa bermain imbang 1-1 melawan klub promosi Semen Padang di Stadion Mandala, Jayapura.

"Keputusan ini dibuat atas kesadaran bersama dengan Luciano. Terimakasih atas kontribusinya selama ini, semoga Luciano sukses dengan karier ke depannya," ucap Tommy Mano, Presiden Persipura dilansir dari bola.com.

Tim Mutiara Hitam dulunya terkenal dengan tim yang diisi pemain-pemain bertalenta yang secara signifikan meningkatkan performa dan prestasi tim. Boaz Solossa, Ian Kabes, Immanuel Wanggai, Christian Worabay, Ricardo Salampessy, Gerald Pangkali, adalah pemain belia alumnus PON 2004.

Bahkan Boaz, ia melejit jadi superstar. Ia menjelma jadi penyerang terbaik Indonesia pasca era Bambang Pamungkas. Ia satu-satunya bomber lokal yang bisa eksis di persaingan perburuan sepatu emas yang selalu didominasi penyerang-penyerang asing.

Boaz tercatat menjadi pencetak gol terbanyak Indonesia Super League musim 2008-2009 (28 gol), 2010-2011 (22 gol), 2013 (25 gol). Berbarengan dengan itu ia juga didapuk sebagai pemain terbaik. Pada musim 2016 ia juga jadi best player Torabica Soccer Championship.

Sayang, pemain-pemain yang masuk generasi emas sudah mulai dimakan umur. Boaz kini sudah masuk usia 33 tahun (kelahiran 16 Maret 1986). Demikian pula Wanggai dan Kabes. Ricardo malah usianya lebih uzur lagi, 35 tahun.

Persipura masih mengandalkan tenaga mereka, yang masuk periode pengujung karier. Manajemen Persipura bisa dibilang gagal melakukan regenerasi tim. Agak ironis karena Papua dikenal sebagai provinsi yang produktif mencetak pemain-pemain bertalenta.

Persoalannya mereka tak pernah dapat porsi besar menjadi tulang punggung Tim Mutiara Hitam. Di sisi lain, pemain-pemain senior mereka satu per satu mulai kehilangan taji. Dua musim terakhir manajemen Persipura memberikan porsi besar pada darah muda. Sayangnya, mereka terlihat gagap menghadapi persaingan keras kompetisi. Butuh waktu bagi mereka untuk menjadi matang.