Oleh : Indra Efendi Rangkuti

MEDANSPORT.ID – MEDAN – Jepang akan bertemu Swedia pada pertandingan ketiga atau penutup Grup F Piala Dunia 2026. Pertandingan Jepang dengan Swedia akan berlangsung di Stadion Dallas, Amerika Serikat pada Jum’at, 26 Juni 2026, pukul 06.00 WIB.

Jepang sudah 6 kali bertemu dengan Swedia di berbagai pertandingan Internasional. Jepang belum pernah meraih kemenangan, Swedia meraih 4 kemenangan dan 2 pertandingan berakhir imbang. Pertemuan terakhir kedua tim terjadi pada pertandingan persahabatan yang berlangsung pada 25 Mei 2002 di Olympic Stadium, Tokyo Jepang. Saat itu kedua tim bermain imbang 1-1. Gol Swedia dicetak oleh Marcus Allbäck dan gol Jepang dicetak melalui gol bunuh diri pemain Swedia Johan Mjällby.

Pelatih Jepang saat itu adalah Philippe Troussier dan pelatih Swedia adalah Lars Lagerbäck dan Tommy Söderberg. Kini di Piala Dunia 2026 ini Jepang dilatih Hajime Moriyasu dan Swedia dilatih Graham Potter.

Berdasarkan peringkat FIFA edisi terbaru, Jepang menempati urutan 16. Mereka akan melakukan pembuktian kekuatannya terhadap Tunisia yang berada di peringkat 36. Namun, peringkat FIFA tidak bisa jadi tolok ukur utama untuk mengukur kekuatan tim yang akan bertanding.

Menatap laga krusial ini, Jepang datang dengan motivasi tinggi. Setelah imbang 2-2 melawan Belanda pada laga perdana, skuad asuhan Hajime Moriyasu langsung mengamuk dengan membantai Tunisia 4-0 pada pertandingan kedua.

Hasil tersebut membawa Jepang duduk di posisi kedua klasemen sementara Grup F dengan 4 poin. Nilai Jepang sama dengan milik Belanda di puncak klasemen, Tapi Belanda unggul produktivitas gol.

Sementara itu, Swedia kini tertahan di peringkat tiga dengan 3 poin. Tim asuhan Graham Potter datang ke Dallas dalam kondisi compang-camping dan mental terluka. Swedia yang sempat berjaya menghajar Tunisia 5-1 di laga perdana, malah hancur lebur disikat Belanda dengan skor telak 1-5 pada laga kedua. Kekalahan tersebut menjadi catatan buruk bagi Swedia karena kalah dengan selisih tiga gol atau lebih di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak final Piala Dunia 1958.

Secara peluang, Swedia sebenarnya masih punya peluang lolos ke babak 32 besar, minimal lewat jalur tim peringkat tiga terbaik. Syaratnya, Victor Lindelof dan rekan – rekannya harus bisa tampil solid dan tidak tumbang dengan skor telak lagi.

Kekalahan telak Swedia dari Belanda pekan lalu langsung memicu badai kritik dari publik Swedia. Bek tengah, Isak Hien, jadi bulan-bulanan pendukung Swedia karena dianggap biang kerok keroposnya lini belakang Swedia. Isak Hien tiga kali kecolongan lewat umpan silang mendatar.

Melihat anak asuhnya dihujat habis-habisan, Graham Potter pasang badan membela anak – anak asuhnya. Potter menilai hujatan publik di media sosial pasca kekalahan lumrah, sebab semua orang sedang kecewa, tapi sangat tidak adil jika kesalahan cuma ditimpakan ke satu pemain saja

Barisan pertahanan Swedia remuk redam sejak Brian Brobbey mencetak dua gol pada menit ke-5 dan ke-17, yang memberikan kendali penuh kepada tim Belanda. Meskipun Anthony Elanga sempat menyulut harapan dengan memanfaatkan serangan balik untuk memperkecil ketertinggalan pada menit ke-59, disiplin tim benar-benar hancur berantakan. Cody Gakpo mencetak dua gol brilian secara beruntun di babak kedua, dan Crysencio Summerville menambah gol di menit ke-89 untuk semakin memperparah kekalahan Swedia.

Yang memperburuk keadaan, frustrasi taktis memuncak saat Gabriel Gudmundsson, Yasin Ayari, dan Lucas Bergvall sama-sama mendapat kartu kuning, sehingga Swedia hanya mengumpulkan tiga poin dan harus berjuang keras untuk memperbaiki pertahanan mereka.

Indra Efendi Rangkuti

Jepang datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah tampil impresif pada pertandingan sebelumnya. Tim asuhan Hajime Moriyasu berhasil mencatat kemenangan besar 4-0 atas Tunisia dan menjadi salah satu tim paling konsisten di turnamen.

Jepang mencetak sejarah sebagai tim Asia pertama yang berhasil menyarangkan empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia saat menghadapi Tunisia. Kemenangan ini menjadi bukti ketajaman lini serang mereka. Penyerang Feyenoord, Ayase Ueda, tampil menonjol dengan mencetak dua gol serta menyumbangkan satu assist dalam pertandingan tersebut.

Selain itu, Daichi Kamada turut mencatatkan namanya sebagai pencetak gol tercepat Jepang di Piala Dunia, yakni pada menit keempat saat melawan Tunisia. Pemain yang musim lalu hanya mencetak satu gol dalam 46 penampilan untuk Crystal Palace ini, kini telah mengoleksi dua gol di turnamen.

Pasukan Hajime Moriyasu sedang dalam tren positif, dengan catatan sembilan pertandingan tak terkalahkan, termasuk kemenangan atas raksasa sepak bola seperti Brasil dan Inggris. Dengan empat poin di tangan, hasil imbang melawan Swedia sudah cukup bagi Jepang untuk memastikan finis di dua besar Grup F. Jepang kini telah melalui sembilan pertandingan tanpa kekalahan. Dalam rangkaian itu, mereka bahkan mampu menundukkan tim besar seperti Brasil dan Inggris.

Setelah memimpin lini depan sebagai titik fokus berbahaya dalam taktik menyerang yang dirancang Hajime Moriyasu, Ayase Ueda tetap menjadi ujung tombak yang sangat energik dan percaya diri di lini depan tiga pemain Jepang. Ueda beroperasi dengan mulus di lini depan saat memimpin serangan melawan Tunisia. Untuk menembus formasi pertahanan Swedia yang kokoh secara fisik, peran Ueda akan sangat krusial. Ueda harus memanfaatkan pergerakan cerdasnya, kemampuan penyelesaian akhir yang eksplosif, serta kerja keras yang konsisten untuk meregangkan bek tengah lawan, menarik penjaga posisinya keluar dari tempat, dan membuka celah vital di sepertiga akhir lapangan bagi ancaman sayap seperti Kota Sano dan Junya Ito untuk dimanfaatkan.

Tugas menghentikannya diemban oleh bek tengah Isak Hien, jangkar pertahanan vital di barisan belakang asuhan Graham Potter. Hien memimpin blok tengah selama pertandingan Swedia sebelumnya, berusaha mempertahankan formasi tiga bek di bawah tekanan luar biasa saat melawan Belanda. Meskipun struktur pertahanan Swedia pernah mengalami momen-momen sulit, Hien memiliki atribut fisik kelas atas untuk menantang Ueda Ia harus mempertahankan konsentrasi penuh dan komunikasi yang sempurna di area tengah bersama Victor Lindelöf dan Gustaf Lagerbielke, memastikan ia memanfaatkan posisinya untuk menetralkan pergerakan tajam Ueda ke tengah dan mencegah Jepang mendapatkan momentum transisi sejak awal.

Daichi Kamada ditugaskan untuk mengatur ritme penguasaan bola dan membuka celah pertahanan lawan bagi Jepang. Kamada tampil gemilang di lini tengah saat melawan Tunisia, menerobos ke depan untuk memberikan tusukan – tusukan yang vital dan mencetak gol. Melawan Swedia, tujuan utamanya adalah menemukan ruang di antara lini, mendistribusikan bola dengan kecepatan vertikal tinggi, dan memberi umpan kepada Keito Nakamura dan Ritsu Doan yang melakukan pergerakan melebar yang eksplosif. Jika Kamada diberi waktu dan ruang untuk berbalik dan menghadapi barisan belakang, visinya akan dengan mudah mengacaukan blok pertahanan Swedia.

Gelandang andalan Swedia, Jesper Karlström, berupaya mengganggu ritme kreatif yang mengalir lancar itu. Ia menjadi tumpuan lini tengah Swedia dan berusaha memberikan perlindungan taktis selama pertandingan yang sulit melawan Belanda. Aksi defensifnya saat tidak menguasai bola serta kedisiplinannya dalam transisi akan diuji secara maksimal di Dallas Stadium. Karlström harus secara agresif mengatur posisinya bersama rekan-rekan di lini tengah, Benjamin Nygren dan Alexander Bernhardsson, untuk mempersempit ruang di tengah lapangan, menekan pemicu serangan Kamada, dan melindungi tiga bek belakangnya guna memastikan Jepang tidak sepenuhnya mendominasi sepertiga tengah lapangan dan memaksa Swedia bertahan dalam formasi pertahanan yang tidak berkelanjutan.

Pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, diprediksi tidak banyak merombak line-up dan tetap main dengan formasi andalan 3-4-3. Skema ini terbukti ampuh saat Jepang menggilas Tunisia empat gol tanpa balas di laga sebelumnya.

Swedia diprediksi bakal merespons kekalahan memalukan 1-5 dari Belanda dengan memperkuat lini tengah dan belakang melalui formasi 3-5-2. Duet striker maut Alexander Isak dan Viktor Gyokeres dipastikan kembali jadi tumpuan utama Swedia

Jepang menghadapi beberapa kendala cedera menjelang pertandingan penting ini. Penyerang Takefusa Kubo tengah memulihkan diri dari cedera lutut yang dialami saat bermain imbang melawan Belanda. Selain itu, Shuto Machino belum bisa tampil di Piala Dunia karena sakit.

Di kubu Swedia, bek tengah Karl Hein dan Victor Lindelof diperkirakan akan tetap mempertahankan posisi mereka di starting eleven, meskipun gagal membendung serangan Belanda pada pertandingan sebelumnya.

Pertanyaan saat ini adalah posisi Jepang di akhir klasemen Grup F setelah laga melawan Swedia nanti. Sebelum Piala Dunia, FIFA telah mengumumkan kriteria yang digunakan untuk menentukan peringkat di berbagai grup, jika jumlah poin tidak cukup untuk menentukan hasilnya. Jika terjadi kesamaan poin, FIFA akan mempertimbangkan lima faktor untuk menentukan hasil akhir.

Pertama-tama, dilihat hasil head-to-head antar negara, kemudian selisih gol. Baru setelah itu, jumlah gol yang dicetak pada fase grup akan dipertimbangkan. Kriteria keempat adalah klasemen fair play, dan jika hal itu pun tidak memberikan solusi, maka FIFA akan melakukan undian.

Peringkat fair play diterapkan selama fase grup. Setiap kartu kuning bernilai satu poin minus, dan setiap kartu merah tidak langsung (dua kali kartu kuning sehingga menjadi kartu merah) bernilai tiga poin minus. Kartu merah langsung bernilai empat poin minus. Kartu merah langsung yang diterima pemain setelah sebelumnya mendapat kartu kuning, bernilai lima poin minus. Negara dengan poin minus paling sedikit akan menempati posisi teratas dalam peringkat.

Jepang tidak menerima satu pun kartu kuning atau merah saat melawan Belanda. Sebaliknya, pemain Belanda Micky Van De Ven, Crysencio Summerville, dan Memphis Depay justru mendapat kartu. Oleh karena itu, Jepang berada di atas Belanda dalam klasemen fair play. Seandainya Jepang juga menerima tiga kartu kuning, maka Belanda akan kembali berada di posisi yang lebih menguntungkan. Peringkat FIFA akan menjadi penentu, dengan Belanda di peringkat delapan dan Jepang di peringkat enam belas.

Jika menjadi juara grup, Jepang akan menghadapi tim peringkat kedua dari Grup C, yang sudah pasti ditempati Maroko. Jika finis di posisi kedua Jepang akan menghadapi juara grup C yaitu Brazil. Tentu hal ini juga harus mendapat perhatian dari Hajime Moriyasu selaku pelatih Timnas Jepang.

Melihat data dan fakta yang tersaji di atas saya prediksi laga akan berlangsung ketat dan menarik.Dengan keunggulan individu dari para pemain dan permainan atraktif Jepang dalam membongkar pertahanan lawan maka saya prediksi Jepang akan menaklukkan Swedia dalam laga penutup Grup F ini

Namun tentunya skuad Jepang perlu waspada karena tentunya Swedia akan mencoba bangkit dari keterpurukan dan berusaha mengimbangi permainan Jepang dengan serangan balik yang cepat dan agresif.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan