Oleh : Indra Efendi Rangkuti

MEDANSPORT.ID – MEDAN – Brazil akan bertemu Jepang pada pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026. Pertandingan Brazil dengan Jepang akan berlangsung di Stadion NRG, Houston, Texas, Amerika Serikat  Amerika Serikat, pada Selasa, 30 Juni 2026 pukul 00.00 WIB.

Brazil dan Jepang sudah bertemu 14 kali di berbagi ajang.  Dalam pertemuan itu Brazil berhasil memenangkan 11 pertandingan,Jepang memenangkan 1 pertandingan dan 2 kali berakhir imbang. Terakhir kali Brazil dan Jepang bertemu pada 14 Oktober 2025 di ajang Kirin Challenge Cup di Ajinomoto Stadium, Tokyo.

Saat itu Jepang menang 3-2 atas Brazil.Gol kemenangan Jepang dicetak oleh Takumi Minamino, Keito Nakamura dan Ayase Ueda.Sedangkan gol Brazil saat itu dicetak oleh Paulo Henrique dan Gabriel Martinelli.

Indra Efendi Rangkuti

Pelatih yang menangani Brazil saat itu adalah Carlo Ancelotti dan Jepang dilatih oleh Hajime Moriyasu. Kini keduanya masih melatih Brazil dan Jepang di Piala Dunia 2026 ini. Skuad kedua tim juga sebagian besar masih sama. Tentunya dengan kondisi demikian kedua tim sudah saling memahami kekuatan masing – masing.

Berdasarkan peringkat FIFA edisi terbaru, Brazil menempati peringkat 5. Mereka akan melakukan pembuktian kekuatannya terhadap Jepang yang berada di peringkat 17. Namun, peringkat FIFA tidak bisa jadi tolok ukur utama untuk mengukur kekuatan tim yang akan bertanding.

Kemenangan Jepang atas Brazil dalam pertemuan terakhir kedua tim pada 14 Oktober 2025 menimbulkan optimisme bagi Jepang bahwa Brazil bisa mereka taklukkan. Ketika itu, Jepang bahkan tertinggal lebih dahulu. Tantangan bagi Jepang kini adalah mengukir catatan serupa di turnamen yang sebenarnya.Tentu suatu kebanggaan bagi Jepang jika bisa menaklukkan sekaligus menyingkirkan Brazil sang Juara Piala Dunia 5 kali ini dari Piala Dunia 2026 ini.

Jepang dan Brazil sama-sama lolos dari fase Grup Piala Dunia 2026 dengan catatan tidak terkalahkan. Jepang melaju sebagai Runner-up Grup F dengan raihan 5 angka, hasil dari 1 kali menang dan 2 seri. Sementara itu, Brazil datang dengan status juara Grup C. Brazil punya 7 angka, unggul selisih gol dari Maroko yang menjadi Runner-up.

Jika hanya melihat tren, Brazil lebih positif. Setelah imbang 1-1 melawan Maroko, tim asuhan Carlo Ancelotti menang 3-0 secara beruntun lawan Haiti dan Skotlandia. Pemain kunci Vinicius Junior sudah mencetak 4 gol. Sebaliknya, meski Jepang tercatat membantai Tunisia 4 gol tanpa balas, di laga pemungkas fase grup, pasukan Hajime Moriyasu imbang 1-1 melawan Swedia.

Identitas taktis Jepang berpusat pada kekompakan pertahanan yang beralih menjadi serangan ke depan yang dinamis dan secepat kilat. Kecerdasan spasial yang luar biasa dari para pemain kreatif mereka memungkinkan pemain Jepang bergerak bebas di antara lini-lini pertahanan lawan dan memanfaatkan ruang yang ditinggalkan oleh bek sayap lawan yang bermain agresif.

Saat menghadapi tim-tim yang menguasai bola secara terus-menerus, Jepang mengandalkan blok tengah yang sangat disiplin, menahan tekanan awal sebelum melepaskan umpan-umpan vertikal untuk membalikkan keadaan dalam hitungan detik.

Bagi Brasil, mempertahankan pertahanan dinamis melawan serangan berlebihan di tengah lapangan akan menjadi hal yang sangat penting. Karena Jepang unggul dalam mengeksplorasi area tengah sebelum melancarkan serangan balik vertikal yang cepat, setiap keterlibatan berlebihan dari bek sayap penyerang Brasil dapat membuat bek tengah mereka terisolasi. Jepang memiliki kesinambungan skuad yang luar biasa dan tingkat kerja intensitas tinggi, yang berarti setiap kelengahan konsentrasi dari Brazil akan langsung dihadiahi hukuman yang agresif.

Brasil akan sangat fokus pada penguatan tulang punggung pertahanan yang kokoh untuk memastikan lini depan mereka yang dipenuhi bintang-bintang memiliki kebebasan untuk berkreasi. Kemitraan di lini pertahanan tengah akan diuji habis-habisan oleh pergerakan tanpa bola yang cerdas dan tidak egois dari Jepang serta rotasi konstan di sepertiga akhir lapangan.

Sebaliknya, Jepang mengandalkan blok pertahanan yang sangat kompak yang lebih mengutamakan pengendalian posisi daripada tantangan individu yang berisiko. Mereka akan memprioritaskan pencegahan umpan silang rendah dan garis penutupan yang tersinkronisasi untuk mengendalikan pemain sayap terbalik yang berusaha memotong ke dalam dan menembak.

Vinicius Junior kembali menjadi andalan Brazil untuk membongkar pertahanan Jepang. Di bawah asuhan Ancelotti performa Vinicius Junior memang meningkat. Apalagi Ancelotti sudah mengasuh Vinicius Junior sejak di Real Madrid. Dia bukan hanya telah mencetak empat gol di Piala Dunia 2026, tetapi juga menjadi pemain Brazil yang paling banyak menciptakan peluang, paling sering menerima umpan, dan paling aktif melakukan tekanan kepada lawan.

Vinicius akan menjadi predator untuk sistem tiga bek dan tiga penyerang 3-4-3 yang diadopsi Jepang selama ini. Dia akan menjadi mata ujian paling sulit yang harus dijawab trio bek tengah pimpinan Hiroki Ito.

Vinicius pun bukan satu-satunya orang yang membuat Brasil amat berbahaya di lini depan. Masih ada Matheus Cunha, Neymar, dan Raphina. Brasil mengerahkan sembilan pemain di lini depan, mungkin yang terbanyak dari 48 tim Piala Dunia 2026.

Untuk urusan membuat peluang, Brasil adalah termasuk paling tinggi di Piala Dunia 2026, dengan 40 peluang yang 18 di antaranya tepat sasaran. Bandingkan dengan Jepang, yang membuat 27 peluang dan 9 di antaranya on target.

Selain membangun skuad menyerang yang tangguh, Ancelotti juga tidak melupakan membangun barisan pertahanan yang kokoh.Ancelotti memiliki dua stopper terbaik di dunia, Gabriel Magalhaes yang menjadi pilar sukses Arsenal menjuarai lagi Liga Inggris setelah 22 tahun menanti dan Marquinhos yang menjadi fondasi sukses Paris Saint Germain di Prancis sampai dua kali berturut-turut mengangkat trofi Liga Champions. Gabriel juga menjadi pemain Brasil yang paling banyak mengumpan dengan 260 umpan dan paling banyak menuntaskan umpan antarlini dengan 53 umpan.

Gabriel dan Marquinhos bersama Danilo di kanan dan Douglas Santos di kiri, akan membuat penyerang-penyerang Jepang, termasuk Ayase Ueda yang paling eksplosif, bakal menembus batu karang. Jika barisan penyerang Jepang mampu menembus tembok pertahanan Brazil tersebut maka mereka akan berhadapan dengan ketangguhan kiper Alisson Becker yang terbukti cukup kokoh berdiri menjaga gawang Brazil selama babak penyisihan grup.

Berbeda dari tim Samba, Samurai Biru tak pernah bermain dalam sistem di luar pola 3-4-3. Dalam platform itu, Hiroki Ito menjadi bek tengah tak tergantikan, Ayase Ueda tak pernah menjadi pilihan kedua di lini depan, dan Keito Nakamua serta Daichi Kamada selalu menjadi opsi utama pelatih Hajime Moriyasu di tengah.

Kamada yang menjadi pemain paling sering membuka posisi ideal untuk dikirimi umpan dan Nakamura yang paling banyak menerima umpan, akan memimpin lini tengah untuk berduel dengan para pengisi sektor tengah Brasil yang dipimpin gelandang tengah kaya trofi dan pengalaman, Casemiro.

Brazil kemungkinan belum bisa diperkuat winger Barcelona, Raphinha, yang mengalami cedera hamstring saat menghadapi Haiti. Jika Raphinha belum pulih, seperti dikutip dari Sportsmole, Ancelotti diperkirakan mempertahankan susunan pemain yang sama seperti saat mengalahkan Skotlandia. Pemain muda Bournemouth, Rayan, berpeluang kembali tampil sejak menit pertama mendampingi Vinicius Junior di lini depan.

Vinicius Junior sedang dalam performa terbaik. Ia menjadi pemain kelima Brasil yang mampu mencetak gol pada setiap pertandingan fase grup Piala Dunia. Dalam empat kejadian sebelumnya, Brasil selalu berhasil menjadi juara dunia, yakni melalui Jairzinho pada 1970, Romario pada 1994, serta Ronaldo dan Rivaldo pada 2002.

Di kubu Jepang, bek tengah Ko Itakura sempat ditarik keluar lebih awal saat menghadapi Swedia akibat cedera. Namun, kondisinya tidak terlalu serius. Sebaliknya, peluang Takefusa Kubo untuk tampil masih kecil. Penyerang Real Sociedad itu belum berlatih penuh karena mengalami cedera lutut.

Daizen Maeda diperkirakan tetap menjadi pilihan utama setelah mencetak gol ke gawang Swedia. Sementara Kaishu Sano berpeluang kembali mengisi lini tengah menggantikan Yukinari Sugawara.

Tak boleh dilupakan performa Ayase Ueda yang musim lalu menjadi top skor Liga Belanda. Ketajamannya dalam membongkar pertahanan lawan akan menjadi ujian bagi ketangguhan barikade pertahanan Brazil.

Menjelang pertandingan Brazil dengan Jepang ini muncul sedikit kontroversi dari bintang Brazil Rayan. Rayan tanpa sengaja memicu kemarahan banyak penggemar sepak bola atas pernyataannya kepada para wartawan. Penyerang Bournemouth berusia sembilan belas tahun itu mengaku dalam konferensi pers bahwa ia tidak tahu siapa pemain paling berbahaya dari Jepang, yang kemudian memicu gelombang kritik di media sosial yang menuduhnya arogan dan tidak menghormati Jepang.

Pemain asal Brazil itu ditanya dalam konferensi pers tersebut siapa menurutnya pemain paling berbahaya dari Jepang. “Oh, astaga… Oh, astaga… Sejujurnya, saya tidak tahu. Saya tidak tahu siapa pemain paling berbahaya mereka. Saya harus benar-benar menonton rekaman pertandingannya,” jawab Rayan sambil tersenyum.

Namun, ia kemudian menekankan rasa hormatnya terhadap lawan. “Mereka adalah tim dengan kualitas yang tinggi. Mereka sangat kuat. Kami bekerja keras sepanjang minggu ini untuk tampil sebaik mungkin dan meraih kemenangan.”

Meski telah mengklarifikasi pernyataannya namun ucapan Rayan tersebut telah memicu kontroversi di kalangan pecinta sepakbola dunia.Skuad Jepang sendiri mengaku tidak gentar menghadapi Brazil.

Pelatih Jepang Hajime Moriyasu bahkan tak sabar mennghadang Vincius Junior dkk. Moriyasu mengatakan, menjadi runner up grup tak terkalahkan dan hasil kemenangan 3-2 atas Brazil dalam laga persahabatan di Tokyo pada Oktober 2025 menjadi modal kepercayaan diri bagi anak asuhnya. Dia menegaskan, Jepang bukan lagi lawan yang bisa dipandang sebelah mata.

“Di pertemuan terakhir, kami membuktikan kepada mereka kalau kami sulit dikalahkan. Kami menghormati Brazil sebagai tim papan atas dunia, namun kami sudah berkembang jauh. Kami menantikan laga menghadapi mereka. Kami mau membuktikan kekuatan kami,” kata Moriyasu, seperti dilansir ESPN.

Legenda sepak bola Brazil Zico yang pernah berkarir di Liga Jepang, mewanti-wanti negaranya agar tak meremehkan Jepang. Menurut Zico, Jepang sekarang berada di level yang jauh lebih kompetitif. Para pemainnya bermain ke Eropa, seperti halnya pemain Brazil dan Amerika Selatan lainnya.

“Dari 26 pemain mereka di Piala Dunia, 23 di antaranya bermain di Eropa dan mereka bermain di Bundesliga, Serie A, maupun Premier League,” kata Zico, seperti dikutip laman resmi FIFA.

Laga Brazil vs Jepang diprediksi berlangsung sengit dengan intensitas tinggi, mengingat kedua tim sama-sama memiliki gaya bermain cepat dan disiplin. Di sisi lain Jepang dihantui kutukan fase gugur. Mereka belum pernah memenangi pertandingan setelah fase grup sepanjang sejarah keikutsertaan di Piala Dunia. Jepang tersingkir di 16 besar pada 2002, 2010, 2018, dan 2022.

Menarik ditunggu apakah Neymar akan tampil sebagai pemain utama dalam pertandingan Brazil melawan Jepang nanti. Pada laga terakhir penyisihan Grup C melawan Skotlandia.Kehadirannya tentu memberi suntikan kekuatan baru bagi skuad Brazil.

Duel ini diprediksi akan berjalan ketat. Brazil diunggulkan berkat pertahanan kokoh yang baru kebobolan satu gol sepanjang fase grup. Mereka juga diunggulkan secara teknis dan sejarah.

Namun, kolektivitas Jepang dan efisiensi transisi cepat mereka berpotensi menjagal tarian Samba jika Brazil lengah di lini tengah. Laga ini akan ditentukan kemampuan Brazil membongkar blok rendah Jepang lewat kreativitas individu sayap mereka.

Melihat data dan fakta yang tersaji di atas saya prediksi laga akan berlangsung ketat.Namun dengan kematangan skuad yang mereka miliki maka saya prediksi Brazil akan menang atas Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026 ini.

Namun tentunya skuad Brazil perlu waspada karena tidak menutup kemungkinan Jepang akan membuat kejutan di laga melawan Brazil ini.Apalagi kemampuan Jepang saat menahan imbang Belanda di fase grup dengan gol di injury time membuktikan skuad Jepang tidak mudah menyerah sebelum pertandingan berakhir.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan