Sebagai bukti dari keunggulan PSMS Medan atas Persija, Tim Nasional yang dibentuk PSSI beberapa bulan kemudian justru dihuni dan didominasi oleh pemain-pemain PSMS (6 pemain) dan Persija (2 pemain) serta tiga pemain dari tim perserikatan lainnya. Jelas bahwa kekisruhan pertandingan Persija vs PSMS akibat ulah wasit yang
kontroversial.
PSSI sendiri kemudian menyikapi “Tragedi IKADA” tersebut pada rapat tahunan PSSI pada Januari 1955.Dalam rapat tersebut diputuskan wasit Van Yperen mendapat skorsing akibat kepemimpinannya yang kontroversial pada pertandingan PSMS dan Persija di Kejurnas PSSI 1954 tersebut. Dan dalam rapat ini pula muncul usulan agar
PSSI membentuk Komisi Disiplin yang bertugas untuk menilai pelanggaran – pelanggaran sportivitas yang dilakukan pemain, wasit dan perangkat pertandingan lainnya dalam pertandingan sepakbola.
Duel 1954 walau harus berakhir akibat ulah wasit yang kontroversial namun inilah yang oleh beberapa media disebut awal “rivalitas hebat” antara PSMS dengan Persija hingga muncul istilah “musuh bebuyutan” di antara kedua tim hingga era tahun 60-an, 70-an dan awal 80-an. Dan pada era 70-an dan awal 80-an suasana panas dan tensi tinggi kerap mewarnai pertandingan antara PSMS dan Persija baik di kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI maupun turnamen – turnamen yang diikuti oleh kedua tim tersebut.

Walau kerap “panas” di lapangan namun di Timnas terbukti bahwa pemain – pemain PSMS dan Persija bisa berkolaborasi dengan baik dan memberi prestasi kepada Timnas pada era 1950-an, 1960-an, 1970-an dan awal 1980-an. Bahkan pada 1969 – 1970 beberapa bintang Persija seperti Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris, Yudo Hadianto, Sinyo Aliandoe, Mulyadi memperkuat PSMS Medan dan memberi prestasi gemilang bagi PSMS dan Tim PON Sumut. (***)





