Pertandingan berlanjut dan berlangsung “keras” dan “panas”.Puncak dari panasnya pertandingan adalah di menit ke-73 ketika bintang muda PSMS yang ketika itu baru berusia 18 tahun Ahmad Kadir diganjal dan dijegal dengan keras hingga tergeletak di lapangan oleh pemain Persija Tamaela namun tidak diberi hukuman apapun oleh wasit.
Para pemain PSMS langsung menyerang Tamaela yang dianggap tidak bermain dengan sportif.Sempat terjadi tawuran antar pemain yang harus ditenangkan oleh ofisial kedua tim.
Ketua Umum sekaligus Manajer PSMS Muslim Harahap kemudian meminta agar wasit diganti namun ditolak oleh Panpel.Akhirnya dengan tegas Muslim Harahap meminta seluruh pemain PSMS meninggalkan lapangan.Persija pun kemudian dinyatakan sebagai pemenang dan menjadi Juara Kejurnas PSSI.
PSMS Medan tidak melanjutkan pertandingan dan keluar dari lapangan. Manajer PSMS Muslim Harahap menyesalkan kejadian yang terjadi.Wasit yang harusnya netral malah membuat keputusan kontroversial yang merugikan PSMS.
Walau tidak mengakui kekalahan dari Persija dan menganggap kemenangan PSMS ‘dirampok,Muslim Harahap menjelaskan bahwa tidak ada perselisihan antara Persija dan PSMS.Yang disalahkan oleh Muslim Harahap adalah kepemimpinan wasit Van Yperen yang kontroversial dan “berat sebelah”.
Walau kalah dengan cara yang “menyakitkan” rombongan PSMS Medan tetap disambut hangat ketika tiba di Medan. Bahkan diadakan acara tepung tawar oleh Walikota Medan waktu itu H Moeda Siregar sebagai bukti bahwa di hati masyarakat Medan Sang Juara sesungguhnya adalah PSMS Medan.





