Keberhasilan Ayam Kinantan PSMS mempertahankan gelar juara Divisi Utama Perserikatan PSSI musim 1984/1985 dengan 4-3 lewat adu penalti dengan Persib seketika dirayakan secara spontan dan gegap gempita oleh tidak kurang dari ratusan ribu pencinta kesebelasan PSMS di kota Medan dan di berbagai kota di daerah-daerah kabupaten/ kota di Sumatera Utara.
Bahkan di tanah Serambi Mekkah, Aceh, kemenangan PSMS tersebut disambut dengan teriakan-teriakan histeris dan yel-yel hingga sebuah kedai kopi terletak di tengah kota pada porak-poranda.
Berbagai macam cara dilakukan dalam menyambut kemenangan PSMS tersebut, seperti di kota Medan misalnya pada malam final itu, puluhan kendaraan yang ditumpangi fans Ayam Kinantan itu melakukan pawai keliling kota Medan dengan yel-yel “Hidup PSMS, Hidup Ayam Kinantan”, “Selamat Jadi Juara”, “Horas Medan” “Hidup PSMS The Killer”, Horas PSMS” dan ada pula di antaranya dengan jingkrak-jingkrak di jalanan,termasuk pawai becak baik becak dayung maupun becak mesin dan lainnya.

Pertandingan tersebut layak dikenang dalam sejarah kompetisi sepak bola di Indonesia terutama oleh pendukung kedua tim. Karena telah menciptakan rekor jumlah penonton. Stadion yang (waktu itu) berkapasitas 120.000 orang dipadati oleh bobotoh Persib dan suporter PSMS hingga mencapai 150.000 penonton.
Akibatnya penonton diizinkan menonton sampai meluber ke pinggir lapangan. Menurut buku AFC terbitan 1987, pertandingan itu merupakan pertandingan terbesar dalam sejarah pertandingan amatir di dunia.

SUSUNAN PEMAIN:
PSMS Medan: Ponirin Meka, Nirwanto, Hamdardi, Suheri, Sunardi A, Sakum Nugroho (RS Bangga Gultom), Musimin, Hadi Sakiman, Amrustian, Sunardi B (cpt), M. Siddik (Mamek Sudiono).
Persib Bandung: Sobur, Suryamin, Dede Iskandar, Robby Darwis, Adeng Hudaya (cpt), Adjat Sudrajat, Kosasih, Sukowiyono, Suhendar (Yana Rosdiana), Iwan Sunarya, Wawan Karnawan (Dede Rosadi).(berbagai sumber)





