Sayang Aceh waktu itu gagal merebut Medali Emas PON 1993 setelah takluk dari Irian Jaya di Final. Parlin Siagian yang waktu itu juga menangani Persiraja di Divisi Utama Perserikatan PSSI 1993/1994 kembali mempercayakan Irwansyah menjadi striker.
Dan akhirnya Persiraja dibawa lolos ke-8 Besar Divisi Utama Perserikatan PSSI. Kesuksesan ini cukup luar biasa karena Persiraja waktu itu baru promosi dari Divisi I. Di Liga Indonesia pertama musim 1994/95 Irwansyah kian berkibar. Di usia yang belum genap 20 tahun, Irwansyah mampu bersaing dalam deretan pencetak gol terbanyak.
Total 17 gol dilesakkannya di musim itu. Kualitas Irwansyah sebagai penyerang yang handal juga terbukti saat dirinya bisa menjaga konsistensi di musim-musim berikutnya. Di Liga Indonesia II (1995/96), total 18 gol berhasil dicetaknya.

Menyusul 13 lainnya berhasil dikemas di Liga Indonesia III (1996/97). Kesuksesan ini membuat dirinya ditarik oleh Danurwindo yang waktu itu menjadi Pelatih Timnas Pra Piala Dunia 1998 pada 1997. Irwansyah menjadi striker Timnas bersama Rochy Putiray, Ronny Wabia dan Widodo C Putra.
Ketika Danur mundur dan diganti Henk Wullems, ternyata Irwansyah tetap dipanggil. Kehebatan dan ketajaman Irwansyah membuat dirinya sempat dilirik oleh Persib, Persija, Persebaya, Pelita Jaya, Semen Padang dan PSMS. Namun Irwansyah memilih setia bersama Persiraja.
Dan akhirnya di usianya yang masih sangat muda Irwansyah dipanggil Allah SWT dalam tragedi Tsunami 26 Desember 2004. Walau jasadnya tidak pernah ditemukan hingga kini tapi kenangan sosok Irwansyah tetap melekat di hati seluruh pecinta Persiraja dan Timnas Indonesia.

“Untuk itu mari kita panjatkan doa terkhusus kepada Irwansyah pemain Persiraja dan Timnas Indonesia dan secara umum bagi korban yang hilang digulung tragedi Tsunami 18 tahun silam,” seru Indra Efendi Rangkuti selaku Staf Tax Centre USU dan Pemerhati Olahraga Sumut ini, Senin (26/12/2022). (*)






