Bahkan para pemain yang bertanding selama masa pelatnas beberapa diantaranya tidur di rumahnya. Melihat sepak terjangnya di Indonesia, Sudirman diberi kepercayaan masuk ke dalam jajaran petinggi International Badminton Federation (IBF) pada 1973. Sudirman merupakan orang Indonesia kedua yang menjadi petinggi IBF setelah Ferry Sonneville (1961-1965).

Meski pun pengusaha, Sudirman mengaku lebih fokus memajukan dunia bulu tangkis Indonesia. “Keterlibatan saya di bulu tangkis adalah pekerjaan utama. Kesibukan di dunia farmasi hanyalah hobi,” ungkap Sudirman dikutip dari BWF Museum.

PBSI di bawah Sudirman telah bertabur bintang-bintang yang menghiasi cakrawala Indonesia. Beragam prestasi ditorehkan PBSI di masa kepemimpinannya, di antaranya ialah lain tujuh kali direbutnya Piala Thomas dari 8 kali kejuaraan, 1 kali Juara Piala Uber pada 1975. Di turnamen bulutangkis dunia tertua dan paling bergengsi All England tercatat 12 kali Juara Tunggal Putra All England (8 kali di antaranya direbut oleh Rudy Hartono), 9 kali Juara Ganda Putra,2 kali Juara Ganda Putri, 1 kali Juara Ganda Campuran juga juara-juara di berbagai turnamen lainnya seperti Asian Games dan SEA Games.

Pada periode kepemimpinannya pula Tan Joe Hok mencatat sejarah sebagai tunggal putra Indonesia pertama yang menjadi Juara All England pada 1959 dan Rudy Hartono mencatat sejarah sebagai Juara terbanyak tunggal putra All England dengan 8 gelar dan dicatat di Guinnes Book of Record.

Di Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang digelar sejak 1977 di masa kepemimpinannya Indonesia meraih 1 kali Juara Tunggal Putra, 1 kali Juara Tunggal Putri, 2 kali Juara Ganda Putra dan 1 kali Juara Ganda Campuran. Di periode pertengahan 70-an terjadi perpecahan di organisasi bulutangkis dunia IBF akibat perbedaan pandangan dan sikap.

Akhirnya pada 1978 berdiri organisasi baru bulutangkis sebagai tandingan IBF yang dimotori oleh RRC dan diberi nama WBF.Beberapa kekuatan utama bulutangkis dunia seperti Malaysia,Korea Selatan,Hongkong dan lainnya turut bergabung di WBF tersebut. Kondisi ini membuat Sudirman dan sahabatnya Suharso Suhandinata prihatin dan punya inisiatif menyatukan kedua organisasi tersebut.

Maka dimulailah pendekatan kepada negara – negara yang tergabung dalam WBF tersebut.Dan akhirnya pendekatan tersebut mendapat sambutan yang hangat dari negara – negara yang tergabung dalam WBF. Saat sidang tahunan IBF tahun 1979 digelar di Jakarta pada 1979 dibahas agenda penting penyatuan kedua organisasi tersebut. Indonesia mengundang 11 tokoh penting dari IBF dan WBF. Inisiatif undangan ini berasal dari Indonesia, bukan atas inisiatif IBF atau WBF.

Dalam pertemuan tersebut, tercapai kesepakatan dibentuknya study group untuk menyusun agenda penyatuan dua organisasi badminton dunia. Dari Indonesia, Sudirman dan Suharso Suhandinata masuk dalam tim tersebut.Dan akhirnya kerja keras Sudirman dan Suharso Suhandinata ini berbuah positif bagi rekonsiliasi ini.

Indonesia ketika Juara Sudirman Cup 1989

Rapat tahunan IBF tahun 1979 itu punya peran vital untuk meredam kisruh dan konflik di antara kedua organisasi badminton dunia tersebut. Perwakilan WBF, Teh Gin Sooi dari Malaysia bahkan menyebut keberadaan Indonesia jadi faktor penting di balik pertemuan itu.

Bagikan: