Kondisi ini membuat Sudirman berusaha mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan membuka usaha kecil-kecilan.Ia menjajakan sabun dengan bersepeda keliling di Yogyakarta. Walau demikian Sudirman tidak meninggalkan aktivitasnya di bulutangkis. Kemampuan dan prestasinya di bulutangkis ini terdengar oleh seorang tokoh yang juga penggemar bulutangkis bernama Tjipto Alimin.
Tjipto kemudian mengundang Sudirman ke Jakarta pada 1943. Oleh Tjipto kemudian Sudirman diajak bergabung di klub bulutangkis yang dibinanya sekaligus bekerja instansi Percetakan Pemerintah. Tawaran ini diterima Sudirman
sekaligus aktif di klub yang dibina Tjipto. Sudirman meraih gelar pertamanya dalam ajang Meiji Setsu Championship 1943.
Sampai tahun 1948, Sudirman berulang kali mencicipi gelar juara di Jakarta. Pada 1950, Sudirman melanjutkan studinya di Akademi Perniagaan Indonesia. Pada periode kuliah inilah Sudirman berfikir untuk mendirikan wadah untuk membina bulutangkis secara terpadu dan terprogram. Dan akhirnya keinginannya ini disambut baik oleh beberapa rekannya.
Pada 1951, beberapa tokoh bulu tangkis Indonesia melakukan pertemuan di gedung Concordia (sekarang Gedung Merdeka), Bandung, untuk membentuk Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Rochdi Partaatmadja ditunjuk sebagai ketua umum dan Sudirman dan Tri Condrokusumo menjadi wakilnya.
Setahun kemudian, Sudirman terpilih sebagai ketua umum PBSI dan menjabat periode 1952-1959 dan 1961-1963. Dan awal 1959 Sudirman memutuskan rehat sejenak dari memimpin PBSI karena melanjutkan studinya dibidang Business Administration di University of Syracuse. Pada akhir 1960 Sudirman menyelesaikan studinya dan kemabli ke tanah air.
Saat itu Sudirman mula aktif memimpin beberapa perusahaan yang didikannya. Salah satunya adalah perusahaan yang bergerak di bidang farmasi. Namun kemudian bulutangkis yang mengakar kuat dalam dirinya membuatnya kembali untuk membina bulutangkis. Kongres PBSI 1961 di Purwokerto Sudirman Kembali terpilih sebagi Ketua Umum PB PBSI yang dipimpinya kembali hingga 1963.
Sempat mundur sejenak karena mengurus bisnis yang dikelolanya pada periode 1963 – 1968 akhirnya Sudirman kembali memimpin PBSI pada Kongres PBSI 1968 yang digelar di Purwokerto. Jabatan ini terus diembannya hingga tahun 1981. Inilah bukti bahwa Sudirman tidak bisa jauh dari dunia bulutangkis.

Sudirman memiliki visi yang luas terhadap dunia perbulutangkisan Indonesia. Selain itu Beliau juga rela berkorban untuk bulutangkis. Salah satu yang paling terkenal misalnya, ketika Sudirman rela menjual mobil miliknya untuk
membiayai Tim Indonesia yang akan berlaga di Piala Thomas 1958. Hasilnya tak sia-sia, pengorbanan Sudirman pun terbalaskan dengan hasil juara Piala Thomas yang langsung bisa dibawa pulang untuk pertama kali, kendati Indonesia saat itu berstatus sebagai debutan.





