Seusai pertandingan tersebut akhirnya pengagum Legenda Ajax.Barcelona dan Timnas Belanda Johan Cruyff ini pindah ke PSMS Medan dan bernaung di klub anggota PSMS yaitu Bintang Utara atas rekomendasi dari Ketua Umum PSMS waktu itu Wahab Abdi Simatupang dan tokoh sepakbola Sumut Ompung Kamaruddin Panggabean.
Di PSMS Medan kemampuannya terus berkembang hingga dirinya menjadi sosok kunci di lini tengah dan lini serang PSMS Medan. Pada 1978 Sunardi B sukses mengantarkan PSMS menjadi Runner Up Marah Halim Cup dan Sunardi B sendiri terpilih menjadi pemain terbaik.
Ikhwal nama B yang ditambahkan pada namanya bermula ketika di PSMS muncul sosok stopper yang bernama sama dengannya. Oleh karena dalam setiap pertandingan nama pemain belakang lebih dulu disebut ketika memasuki lapangan maka oleh pengurus dan pelatih PSMS sang stopper disebut Sunardi A dan dirinya sendiri disebut Sunardi B.
Pada 1979 Sunardi B sukses membawa PSMS Medan menjadi Runner Up Kejurnas PSSI 1979 dan membawa PSMS menjadi Juara Tugu Muda Cup 1979.Pada 1981 Sunardi B juga sukses membawa Tim PON Sumut meraih Medali Perak usai kalah adu penalti melawan Lampung.

Pada 1983 menjelang Marah Halim Cup Sunardi B sempat sakit dan nyaris tidak bisa tampil. Namun berkat perawatan yang intensif yang dilakukan oleh dr.Marah Ganti Siregar akhirnya Sunardi B kembali sehat dan bisa berlaga. Kehadirannya sukses membawa PSMS tampil mantap dan di Semifinal sukses mengalahkan Irak.
Sayang di Final PSMS tampil antiklimaks menghadapi Korea Selatan. PSMS akhirnya harus puas menjadi Runner Up setelah takluk 1-3 dari Korea Selatan. Keberhasilan ini akhirnya menjadi modal positif bagi PSMS untuk berlaga di putaran Final Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983. PSMS tampil mantap hingga akhirnya lolos ke Final menghadapi Persib.





