FINAL
Sekira 110 ribu pasang mata memadati, Stadion Utama Senayan, menyaksikan pertandingan final, PSMS vs Persib Bandung pada 10 November 1983. Persib Bandung datang dengan rekor apik karena berhasil memenangkan 3 pertandingan di Putaran 4 Besar. Sementara PSMS Medan datang dengan motivasi tinggi untuk membalaskan dendam karena kekalahan 2-1 dari Persib pada putaran 4 Besar, serta membawa pulang Piala Presiden untuk yang ke 5 kalinya.
Sebelum pertandingan dimulai, masing-masing pendukung, sudah begitu meriah menyambut pertandingan, berbagai macam alat yang menimbulkan bunyi keras, seperti terompet, gendang, serta alat tiup lainnya nyaring terdengar di seantero stadion, untuk mendukung kesebelasan favorit mereka dalam pertandingan yang dipimpin wasit Syahril Gani.
Pada babak pertama para pemain PSMS bermain sangat lambat dan begitu tegang. Hal serupa juga ditunjukkan Persib Bandung yang dilatih Omo Suratmo hingga banyak peluang emas yang mereka dapatkan tapi semua gagal berbuah gol berkat ketenangan dan kelihaian kiper PSMS Medan Ponirin Meka ditambah kokohnya lini belakang
PSMS yang dikawal duet Sunardi A dan Marzuki Nyakmad. Marzuki sendiri tampil gemilang dalam duel mematikan pergerakan Adjat Sudrajat dan Encas Tonif.

Adjat Sudrajat yang biasanya sukses memporakporandakan pertahanan PSMS benar-benar “mati kutu” dalam kawalan Marzuki Nyakmad. Demikian juga dengan Encas Tonif sang bintang utama Persib yang benar-benar tak berkutik menghadapi tembok pertahanan PSMS yang dikawal oleh Sunardi A dan Marzuki Nyakmad.
PSMS Medan sendiri mendapat ujian berat dengan cederanya gelandang andalannya M Nurdin pada menit ke-20. M Nurdin akhirnya harus ditarik keluar dan digantikan gelandang muda PSMS Bambang Usmanto. Ternyata Bambang Usmanto tampil cukup gemilang di lini tengah PSMS.





