Pembangkangan pun dimulai.Demikian pula dengan PSMS yang tidak mau bertanding jika Iswadi Idris masih ada di lapangan. Perkelahian pun pecah di tengah lapangan, pelipis Nobon luka karena terkena pukulan dari pemain Persija. Sempat beberapa saat, pelipis mata Nobon dirawat secara intensif hingga akhirnya harus dilarikan ke Rumah Sakit.

Suasana pertandingan di lapangan pun kian panas. Persija tidak mau mematuhi keputusan wasit karena menganggap wasit sudah tidak ada wibawanya sama sekali di mana keputusan-keputusan yang dinilai merugikan Persija. Kubu PSMS pun demikian merasa dirugikan dengan keputusan-keputusan wasit asal Malang tersebut.

Karena adanya kericuhan itulah, pada menit ke-40, wasit membubarkan pertandingan setelah kompromi dengan Komisi Pertandingan. Pertandingan pun terhenti saat skor 1 -1, perkelahian segera diredakan oleh aparat keamanan. Setelah perkelahian sedikit mereda, mulailah para petinggi PSSI bernegosiasi dengan para manajer kedua tim.

Akibat kericuhan itu, pengurus PSSI memutuskan untuk tidak meneruskan pertandingan. Ketua Umum PSSI saat itu, Bardosono mengusulkan juara bersama untuk kepentingan nasional, karena memang kondisi sudah tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.

Gelandang PSMS Nobon dibopong Pelatih Zulkarnaen Nasution dan aparat untuk dilarikan ke rumah sakit setelah jatuh tersungkur dan pelipisnya robek setelah dipukul pemain Persija.

Persija yang diwakilkan oleh manajernya, J Pattisina tidak menjawab sepatah kata, tapi dengan wartawan dia menjelaskan bahwa sebetulnya Persija menolak, tapi bila itu sudah keputusan dari PSSI dirinya tidak bisa berkata apa-apa.

Sedangkan Manajer PSMS, Wahab Abdi Simatupang pun hanya berkata “ya, saya besok akan menghadap ke kantor” dan saat ditanya wartawan kedua manajer pun merasa tidak puas, bahkan untuk naik podium saja para pemain enggan jika tidak dipaksa oleh petinggi-petinggi PSSI.

Ketua Umum PSSI Bardosono memanggil kapten kedua tim yaitu Yuswardi (PSMS) dan Oyong Liza (Persija) serta mengangkat tangan keduanya untuk bersama-sama memegang piala yang diperebutkan.

Aparat melerai dan menenangkan pemain PSMS dan Persija yang terlibat baku hantam dalam Final Kejurnas PSSI 1975.

Itulah kompetisi PSSI tahun 1975, partai final yang sangat kotor dan juga timbulnya rasa tidak percaya menghiasi final tahun itu. Apa pun hasilnya juara bersama hanya ada sekali dalam sejarah kompetisi PSSI, dan Persija menjadi Juara Bersama dengan PSMS. Tahun 1975 milik warga kota Medan dan Jakarta. (***)

Bagikan: