Hasilnya laju Liverpool pun tersendat-sendat baik di Liga Premier mau pun di kompetisi Eropa. Bahkan Liverpool harus tersingkir dari Piala UEFA setelah takluk dari Celta Vigo. Kondisi ini membuat para suporter “gerah” dan meminta ketegasan dari manajemen Liverpool untuk menentukan siapa “Nahkoda Utama” Liverpool waktu itu.

Akhirnya dengan jiwa kesatria dan demi keutuhan tim Roy Evans memilih untuk mengalah. Pada 10 November 1998 Roy Evans secara resmi mundur dari posisi sebagai Manajer dan Pelatih Liverpool. Sebuah keputusan yang sempat disayangkan oleh fans Liverpool namun demi kebaikan klub keputusan pahit itu yang harus diambil Evans.

Walau kurang mendapat dukungan dari suporter,namun perlahan-lahan Houllier yang dikenal memiliki disiplin yang tinggi mulai membenahi skuad Liverpool baik dari sisi teknis maupoun non teknis. Hasilnya skuad Liverpool yang terbiasa dengan dunia “glamour” dan “hura-hura” mulai ditertibkan.

Pada akhirnya Liverpool pun menduduki posisi ke-7 di Liga Premier di akhir musim dan gagal berkompetisi di Eropa pada musim berikutnya. Namun pembenahan terus dilakukan. Selama menangani Liverpool dari 1998-2004 Houllier mempersembahkan gelar Juara Piala FA (2001), Charity Shield (2001), Piala Liga (2001 dan 2002), Piala UEFA (2001) dan Piala Suoer Eropa (2001).

Walau mempersembahkan gelar-gelar tersebut, namun posisi Houllier di mata manajemen belumlah positif.Ini dikarenakan Liverpool tidak kunjung meraih gelar Juara Liga Premier yang berujung konflik dirinya dengan petinggi Liverpool. Belum lagi suporter yang kerap berpandangan miring kepadanya.

Roy Evans dan Gerard Houllier ketika memberi pengarahan kepada bintang Liverpool Robbie Fowler.

Akhirnya pada 24 Mei 2004 Houllier mengakhiri kiprahnya bersama Liverpool. Posisinya digantikan oleh pelatih asal Spanyol Rafael Benitez Sebuah kisah ketika kedatangannya di Liverpool disambut dengan “miring” dan kepergiannya juga dengan nuansa yang ‘dingin’.

Itulah kisah 25 tahun lalu yang kembali membuat saya terkenang atas kejadian mundurnya Coach Ridwan Saragih dari PSMS kemarin. Semoga keputusan ini tidak menjadi ‘blunder” bagi PSMS dan semoga PSMS terus berprestasi dan lolos ke Liga 1 musim depan. (***)

Bagikan: