Kejadian ini mengingatkan saya dengan pengalaman Liverpool di awal musim 1998/1999. Pada Juli 1998 manajemen Liverpool secara tiba-tiba menghadirkan pelatih asal Prancis Gerard Houllier untuk berduet dengan Roy Evans sebagai “Double Head Coach” Liverpool di musim 1998/1999.

Keputusan itu cukup mengejutkan mengingat Roy Eavans sudah menduduki jabatan sebagai Pelatih Liverpool sejak 1994 setelah menggantikan Graeme Souness. Prestasi Liverpool di bawah asuhan Roy Evans tidaklah buruk walau belum berhasil mempersembahkan gelar Juara Premier League untuk Liverpool.Liverpool konsisten di 5 Besar klasemen Liga Inggris dan sukses meraih gelar Juara Piala Liga pada 1995.

Di masa kepelatihannya pula bintang-bintang muda seperti Robbie Fowler,Steve Mcmanaman,Jaime Redknapp dan Michael Owen mulai ‘merekah” dan berkibar. Liverpool di era Roy Evans juga terkenal dengan sepak bola menyerang dan kemampuannya yang menghibur di lapangan.

Kehadiran Houllier sendiri mendobrak tradisi yang sudah mengakar di Liverpool sejak berdiri. Untuk pertama kalinya sosok Non Britania Raya dan tidak memiliki kiprah sebagai pemain Liverpool dipercaya sebagai pelatih. Skeptisisme juga muncul karena Houllier walau pernah sukses ketika melatih Paris St Germain namun gagal meloloskan Timnas Prancis ke Piala Dunia 1994.

Ketika keduanya mulai berseberangan.

Walau pada awalnya terlihat akrab namun situasi tidak kondusif mulai terlihat diantara keduanya.Evans dan Houllier kerap terlihat tidak seide ketika menentukan pola permainan dan pemain yang menjadi starter.

Lebih parahnya lagi para pemain juga kerap bingung siapa diantara keduanya yang harus “didengar” dan “diikuti” ketika latihan dan bertanding di lapangan. Michael Owen pernah berkata “Susah bagi saya untuk mengambil sikap karena saya menghormati keduanya sebagai pelatih kami” ujarnya.

Bagikan: