Dalam aturan FIFA Stadium Safety and Security Stadium, Pasal 19, penggunaan gas air mata jelas DILARANG dalam pertandingan sepakbola.

Lantas, bagaimana dengan klub? Jika sanksinya hanya sebatas larangan bertanding di kandang, tanpa dihadiri penonton, denda ratusan juta, bahkan miliaran, apakah cukup?

Tidak! Sekali lagi, tak ada sepakbola yang sebanding dengan nyawa. Harus tegas setegas-tegasnya. Atau bila perlu, klub itu dibubarkan. Atau mungkin, tidak boleh berkompetisi di semua kasta Liga Indonesia untuk beberapa tahun ke depan. Sepuluh tahun atau lebih.

Panitia pelaksana? Proses hukum. Proses secara pidana. Kenapa tidak? Kelalaian yang menyebabkan kematian adalah pidana. Sama halnya dengan operator liga. Pengelola liga sebaiknya memakai jasa orang asing. Lihat Kamboja. Yang mengatur liga mereka adalah orang Jepang. Satoshi Saito namanya. Sejumlah jabatan mentereng di dunia si kulit bundar pernah dipegangnya.

Mulai dari manajer pemasaran FC Barcelona, Wakil Direktur Misi Khusus di Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), Direktur Pemasaran AFC, hingga Konsultan Pemasaran FIFA. Dan kini, sepakbola Kamboja mulai berkembang. Begitu juga liganya. Tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Tidak lagi jadi bulan-bulanan Indonesia.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)? Federasi tertinggi persepakbolaan Indonesia. Satu jawaban untuk sanksi bagi PSSI adalah REVOLUSI.

Tak dimungkiri, kepengurusan PSSI kali ini, memang masih lebih baik dari kepengurusan sebelum-sebelumnya. Dari sisi prestasi. Meski belum menghasilkan juara di level internasional (kecuali AFF U-16), namun level Timnas Indonesia setidaknya sudah mulai bersaing, tidak hanya di Asia Tenggara, tapi juga Asia. Tapi, itupun tidak terlepas dari tangan dingin pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong yang terus menggembleng para pemain, mulai dari teknik dasar bermain sepakbola hingga mental. Keberhasilan Timnas U-20 dan senior menembus kompetisi level Asia, tidak ujug-ujug, tapi melalui proses cukup panjang. Jatuh, bangun. Jatuh lagi, bangun lagi. Dan, sekarang mulai bisa berdiri tegak.

Namun, terlepas dari prestasi itu. Kematian 127 atau mungkin mencapai 150-an suporter pada laga Arema kontra Persebaya, menjadi catatan hitam bagi PSSI. Insiden terburuk persepakbolaan Indonesia.

Bagikan: