Sedih rasanya. Di kala Tim Nasional Indonesia mulai menunjukkan perkembangan ke arah lebih baik, namun kondisi liga malah terpuruk. Seolah terhempas ke posisi paling bawah. Ini lebih parah jika dibandingkan ke masa PSSI disanksi Federation Internationale de Football Association atau FIFA, beberapa tahu lalu. Ratusan nyawa melayang. Meninggal sia-sia. Hingga pukul.05.00 WIB, ada yang menyebut korban tewas mencapai 127 orang, dan 180-an masih dirawat di rumah sakit. Tapi, ada pula yang mengatakan jumlah korban meninggal lebih dari itu. Diperkirakan sekitar 150-an orang. Dari yang meninggal itu, dua di antaranya disebut aparat keamanan.
Begitu murahnya nyawa manusia. Padahal, tak ada sepakbola yang sebanding dengan nyawa.
Tak mungkin ini luput dari pengamatan FIFA. Sanksi seperti apa yang akan diberikan FIFA kepada Indonesia, layak ditunggu. Apalagi, dalam waktu dekat akan ada Piala Dunia U-20. Kita berharap, jangan sampai keterpilihan Indonesia menjadi tuan rumah event besar itu dicabut dan dialihkan ke negara lain. Tapi, kalau FIFA mau, apa yang tak mungkin. Kita cuma bisa pasrah. Karena dalam dunia sepakbola, FIFA ini layaknya Tuhan. Bisa jadi pula, FIFA menjatuhkan sanksi lain, tidak hanya ke federasi, tapi juga bagi klub-klub Indonesia.
Belum lagi agenda AFF senior di bulan Desember 2022 nanti. Meski bukan agenda FIFA, tapi ini adalah circlenya Asean Footbal Federation (AFF). Bukan tidak mungkin juga, AFF menunjuk negara Asean lainnya sebagai tuan rumah menggantikan Indonesia.
Tragedi Kanjuruhan ini begitu menyesakkan dada. Kalau berbicara sanksi, harus dihukum seberat-beratnya. Tidak hanya klub, tapi juga panitia pelaksana, operator liga, petugas keamanan, dan pihak-pihak lainnya.
Kenapa pihak keamanan juga harus diberi sanksi tegas? Karena, ada tembakan gas air mata. Penggunaan gas air mata itu tidak diperbolehkan FIFA, selaku si “empunya” aturan sepakbola.






