MEDANSPORT.ID – MEDAN – Kabar duka menyelimuti sepak bola Indonesia. Legenda PSMS Medan dan mantan pemain Tim Nasional Indonesia, Tumsila, meninggal dunia di Medan, Kamis (8/10/2026).
Kepergian Tumsila menjadi kehilangan bagi keluarga, sahabat, serta insan sepak bola, khususnya masyarakat Sumatera Utara. Namanya telah menjadi bagian dari perjalanan panjang PSMS Medan pada era kejayaan Perserikatan.
Pengamat sepak bola nasional sekaligus sahabat dekat almarhum, Ronny Tanuwijaya, menyampaikan rasa dukanya atas kepergian Tumsila.
«“Saya turut berduka cita. Sepak bola nasional berduka,” ujar Ronny.»
Bagi PSMS Medan, Tumsila bukan sekadar nama dalam catatan sejarah. Ia merupakan salah satu pemain yang pernah memberikan warna penting bagi perjalanan klub berjuluk Ayam Kinantan tersebut.
Nama Tumsila mulai mencuri perhatian ketika memperkuat PSMS dalam turnamen internasional Aga Khan Gold Cup di Bangladesh. Pada partai final, ia tampil gemilang dengan mencetak dua gol melalui sundulan kepala.
Kemampuannya mencetak gol lewat bola-bola udara kemudian membuat Tumsila mendapat julukan “Si Kepala Emas”. Julukan itu pun melekat sepanjang perjalanan kariernya.
Bersama PSMS, Tumsila turut menjadi bagian dari tim yang meraih kejayaan di kompetisi Perserikatan PSSI. Ia ikut mengantarkan Ayam Kinantan meraih tiga gelar juara dalam periode 1967 hingga 1971.
Prestasinya berlanjut pada 1972. Tumsila turut membawa PSMS menjuarai Piala Suharto dan sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak dalam turnamen tersebut.
Ketajamannya di lini depan juga terlihat ketika memperkuat tim pada ajang olahraga mahasiswa. Penampilannya turut membantu tim meraih gelar juara Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) di Palembang.
Performa konsisten bersama PSMS kemudian membuka jalan bagi Tumsila untuk mengenakan seragam Tim Nasional Indonesia pada awal dekade 1970-an. Kiprahnya dalam sejumlah pertandingan internasional turut membuat namanya dikenal di kancah sepak bola Asia.
Di luar lapangan, kehidupan Tumsila juga mencerminkan perjalanan para pemain pada era Perserikatan. Selain menjadi pesepak bola, ia menjalani profesi sebagai pegawai negeri sipil dan pernah bertugas di Dinas Perpajakan Kota Medan bersama sejumlah pemain PSMS lainnya.
Kini, perjalanan panjang sang penyerang telah berakhir.
Namun, nama Tumsila dan julukan “Si Kepala Emas” akan tetap menjadi bagian dari cerita kejayaan PSMS Medan. Gol-golnya, gelar juara yang diraih bersama Ayam Kinantan, hingga kiprahnya bersama Timnas Indonesia menjadi warisan sejarah yang akan terus dikenang oleh pencinta sepak bola.
Selamat jalan, Tumsila. Jejakmu tetap hidup dalam sejarah Ayam Kinantan dan sepak bola Indonesia. (*)





