Oleh : Indra Efendi Rangkuti

MEDANSPORT.ID – MEDAN – Berbicara kehebatan Total Football pada era 70-an yang diterapkan oleh Ajax dan Timnas Belanda tidak bisa dilepaskan dari peran Rinus Michels sebagai pelatih dan Johan Cruyff sebagai kapten dan aktor utama tim di lapangan.

Tapi ada satu nama yang membuat gaya main tim Belanda era 1970-an itu terlihat sempurna. Sosok itu adalah Johan Neeskens.

Johan Neeskens adalah sosok penyempurna visi Total Football milik Rinus Michels meski ia sendiri bukan seorang alumni akademi Ajax Amsterdam.

Mengawali karir di Racing Club Heemstede (RCH),Rinus Michels kemudian melihat bakat besar Neeskens dan menariknya ke Ajax pada tahun 1970 untuk menyempurnakan taktik permainan Total Football yang dirancangnya dan mendukung permainan sang bintang utama Johan Cruyff.

Neeskens dikenal sebagai pemain yang serba bisa dan penuh daya tahan, dengan kemampuan untuk bermain sebagai bek kanan maupun box-to-box midfielder.

Neeskens bahkan dianggap salah satu wing-back paling hebat di masanya karena keganasan dan kecepatannya saat membantu tim membangun serangan maupun bertahan.

Johan Neeskens dan Johan Cruyff di Ajax

Permainannya yang hebat membuat Johan Cruyff makin bersinar.Neeskens hadir sebagai penopang,penjaga keseimbangan tim dan pendukung permainan Cruyff hingga Cruyff mampu mengeluarkan “magisnya” untuk menghancurkan lawan – lawan mereka.

Sosok Neeskenslah yang tidak ditemukan Cruyff pada awal kemunculannya di Ajax hingga membuat dirinya tidak mampu mengeluarkan seluruh “magis” yang dimilikinya di lapangan hijau.

Ibarat 2 sisi mata uang keduanya saling melengkapi di Ajax.Mereka sukses membawa Ajax berjaya di Belanda,Eropa dan Internasional.Kontribusi mereka terwujud dari gelar Juara Liga Belanda 1971/1972 dan 1972/1973.Kemudian Juara Champions Cup 1971,1972 dan 1973.Juara Piala Super Eropa 1972 dan 1973 serta Juara Piala Interkontinental 1972.

Kecepatannya yang diatas rata-rata plus kelihaiannya dalam melepaskan umpan membuat Rinus Michels yang kala itu menjabat sebagai pelatih timnas Belanda di Piala Dunia 1974 memplotnya sebagai seorang gelandang tengah bersama Wim Jansen dan Wim Van Hanegem.

Sebagai jantung dari sistem Total Football, Neeskens bagai mesin yang terus menekan (pressing).Dia begitu kuat dengan mengontrol penuh terhadap ruang di lapangan agar lebih besar ketika Belanda menguasai bola, dan menjadi kecil ketika timnya kehilangan bola.

Kecepatannya dan kegigihannya membuat ia terdorong jauh ke depan. Hal itu membuat pemain lawan terus sibuk di area pertahanan dan membuat Johan Cruyff memiliki banyak ruang kosong di lini depan.

Hal ini terlihat ketika Belanda sukses menaklukkan Argentina 4-0 dan Brazil 2-0 di Piala Dunia 1974.Mario Zagallo yang kala itu melatih Brazil memuji permainan Cruyff dan Neeskens yang sukses meluluhlantakkan permainan Brazil yang kala itu berstatus Juara Piala Dunia 1970.

Sayang langkah Belanda terganjal untuk menjadi Juara Piala Dunia 1974 akibat “kalah beruntung” dari tuan rumah Jerman di Final.Meski sempat unggul terlebih dahulu lewat penalti Neeskens di menit awal,Belanda takluk 1-2 dari Jerman.

Namun seluruh pecinta bola sepakat bahwa saat itu Belanda adalah juara sebenarnya dan menobatkan Belanda sebagai “Juara Tanpa Mahkota”

Seusai Piala Dunia 1974,Neeskens mengikuti langkah Rinus Michels dan Johan Cruyff bergabung dengan Barcelona.Di tim Catalan, Johan Neeskens mendapat julukan El Toro atau si Banteng karena cara bermainnya yang begitu agresif dan pantang menyerang.

“Hampir semua orang saat itu mengingat bagaimana ia seperti banteng pemangsa yang mendorong dan menggaruk tanah, mendengus ke bawah dan membuat semua lawan menderita.” seperti ditulis oleh TheseFootballTimes.

Kolaborasinya bersama Cruyff sukses membawa Barcelona meraih Juara Copa Del Rey musim 1977/1978.

Sepeninggal Cruyff dan Michels,pada musim 1978/1979 Neeskens sukses membawa Barcelona menjadi Juara UEFA Cup Winners’ Cup.

Johan Cruyff dan Johan Neeskens di Barcelona

Johan Neeskens mencatatkan 49 penampilan untuk tim nasional Belanda. Meskipun tidak pernah memenangkan Piala Dunia, kehadirannya di lapangan menjadi simbol dari kegigihan dan dedikasi.

Pada tahun 2004, FIFA memasukkan Neeskens dalam daftar 125 Pemain Sepak Bola Terbaik yang Masih Hidup, sebuah penghargaan yang mengakui kontribusinya dalam sepak bola internasional.

Dan pada 7 Oktober 2024 Neeskens menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah jatuh sakit ketika tengah bekerja dengan proyek World Coaches yang dikelola oleh KNVB di Aljazair dan Neeskens berperan sebagai duta.

KNVB dalam pernyataannya menyebut, “Dunia tidak hanya kehilangan seorang olahragawan berbakat, tetapi juga seorang pribadi yang penuh kasih, bersemangat, dan luar biasa.”

Warisan Neeskens akan selalu dikenang, baik di Belanda maupun di dunia sepak bola internasional. Kontribusinya sebagai pemain, pelatih, dan duta sepak bola telah menyentuh banyak pihak dan memberikan dampak yang abadi dalam dunia olahraga.

Bagikan: