Oleh : Indra Efendi Rangkuti

MEDANSPORT.ID – MEDAN – Salah satu isu penting yang muncul di balik berakhirnya kontrak Shin Tae Yong (STY) sebagai pelatih Timnas Indonesia adalah adanya hubungan yang tidak harmonis antara STY dengan beberapa pemain Timnas usai kekalahan Indonesia atas China di laga Pra Piala Dunia 2026 lalu. Namun tidak ada yang tahu apakah kabar “keretakan” itu benar adanya atau tidak.

Yang pasti hubungan tidak harmonis antara pelatih dan pemain yang memicu suasana tidak harmonis dalam tim sepakbola bukan hal baru. Beberapa kasus pernah muncul misalnya : konflik antara Ruud Gullit dengan pelatih Timnas Belanda Dick Advocaat jelang Piala Dunia 1994 yang berujung mundurnya Gullit dari Timnas, konflik antara Edgar Davids dengan Guus Hiddink di Euro 96, konfik antara Arrigo Sacchi dengan Roberto Baggio, konflik antara David Beckham dengan Sir Alex Ferguson di Manchester United dsb.

Salah satu konflik yang paling mengemuka pada awal 90-an adalah konflik antara Marco Van Basten dengan pelatihnya di AC Milan Arrigo Sacchi. Seperti diketahui bersama Van Basten bersama Ruud Gullit hadir di AC Milan bersamaan dengan kehadiran Arrigo Sacchi pada awal musim 1987/1988. Pada awalnya hubungan mereka berjalan cukup baik bahkan kerjasama mereka sukses membawa AC Milan meraih Juara Serie A musim 1987/1988 dengan mengalahkan sang juara bertahan Napoli yang saat itu diperkuat oleh Diego Maradona.

Van Basten dan Gullit bahkan bisa merekomendasikan Frank Rijkaard kepada Sacchi dan Berlusconi untuk bergabung bersama di AC Milan seusai membawa Belanda menjadi Juara Piala Eropa 1988. Kehadiran Frank Rijkaard melengkapi kekuatan AC Milan. Dan kehadiran Trio Belanda ini membuat AC Milan sukes meraih Juara Piala Super Italia 1988, Juara Champions Cup musim 1988/1989 dan 1989/1990, Juara Piala Super Eropa 1989 dan 1990, Juara Piala Toyota 1989 dan 1990.

Namun riak – riak mulai muncul pada musim 1990/1991. Perjalanan AC Milan mulai seret di awal musim 1990/1991. Kondisi Ruud Gullit yang baru pulih dari cedera panjang yang dideritanya sejak Semifinal Champions Cup 1989 membuat penampilannya tidak maksimal. Selain itu jumlah gol yang dicetak Van Basten juga mulai merosot dan taktik permainan yang dikembangkan oleh Sacchi sudah terbaca dan mudah ditangkal oleh tim – tim lain.

Arrigo Sacchi bersama Ruud Gullit, Marco Van Basten dan Carlo Ancelotti
Arrigo Sacchi bersama Ruud Gullit, Marco Van Basten dan Carlo Ancelotti

Kondisi ini membuat beberapa pemain kunci seperti : Van Basten, Gullit, Rijkaard, Baresi, Maldini, Ancelotti dan Donadoni mulai mencoba memberi masukan kepada Sacchi untuk taktik yang akan diterapkan. Namun Sacchi punya garis tegas bahwa taktik tim adalah otoritas dirinya yang tidak bisa dicampuri siapapun.

Sikap Sacchi inipun mendapat kritik dari para pemain tersebut. Mereka berpandangan tujuan tim adalah juara dan oleh karena itu pelatih dan pemain harus saling mengisi. Namun Sacchi teguh pada sikapnya. Apalagi pada saat itu walau tertinggal dari Sampdoria, Milan masih pada jalur juara dan masih punya peluang jadi juara. Jadi tidak ada yang salah dari taktik yang dikembangkannya.

Namun keadaan mulai berubah setelah AC Milan bertandang ke kandang Parma pada 20 Januari 1991. Saat itu AC Milan berada di peringkat ketiga. Saat itu Van Basten dan Gullit tidak dapat tampil. Dan di pertandingan itu AC Milan dipaksa takluk 0-2 lewat 2 gol dari Alessandro Melli.

Kondisi ini membuat Van Basten protes keras terhadap taktik yang diterapkan Sacchi. Sacchi tidak terima dengan protes Van Basten. Akhirnya pada pertandingan selanjutnya Van Basten dicadangkan oleh Sacchi.

“Kamu bilang taktik saya bermasalah. Kini saatnya kamu duduk di sebelah saya dan ajari saya tentang bagaimana menyusun taktik yang mumpuni” ujar Sacchi kepada Van Basten.

Kondisi ini terus berlanjut pada beberapa pertandingan selanjutnya. Ini membuat Gullit mempertanyakan sikap Sacchi kepada Van Basten. Sacchi merespon dengan mencadangkan Gullit.

Adriano Galliani mencoba menengahi konflik tersebut. Dia coba memanggil Van Basten dan Sacchi dan mendengarkan keluh kesah keduanya pada waktu yang berbeda. Galliani meminta agar keduanya bisa sama – sama meredakan kekesalan dan ego serta fokus untuk membawa Milan bangkit.

Van Basten menanggapi usul tersebut secara datar. Meski tidak menjawab pertanyaan yang diajukan wartawan kepadanya seusai bertemu Galliani namun dari raut wajahnya bisa dinilai ada rasa kecewa berat dalam hatinya.

Sacchi ketika ditanya wartawan justru menjawab “Van Basten memang hebat dan sukses meraih 2 Ballon D’Or pada 1988 dan 1989. Tapi sukses itu diraih karena dia bermain di AC Milan. Kalau dia tidak bermain di AC Milan belum tentu dia akan sesukses itu”

Silvio Berlusconi coba turun tangan. Dan akhirnya dalam sesi latihan kamera menampakkan Sacchi dan Van Basten berjalan beriringan dan berdiskusi kecil. Ini membuat publik beranggapan keduanya sudah akur. Namun kenyataannya berkata lain. Van Basten hanya sekedar melepaskan tugasnya sebagai pemain AC Milan dan tampil sekedar formalitas di lapangan.

Pada pertandingan melawan Cesena, Van Basten tampil lumayan bagus sebagai starter dan bisa mencetak gol dalam kemenangan 2-0 atas Cesena. Namun di pertandingan berikutnya Milan tampil buruk, Sampdoria sukses merontokkan AC Milan di Genoa dengan skor 2-0 dan naik ke puncak klasemen. Sedangkan di Champions Cup AC Milan disingkirkan oleh Marseille setelah pada laga tandang di saat tertinggal 0-1 lampu stadion padam dan AC Milan menolak melanjutkan pertandingan.Akhirnya AC Milan dinyatakan kalah dan tersingkir dari Champions Cup 1990/1991.

Kondisi ini kian membuat suasana di AC Milan makin rumit. Akhirnya Sacchi dan Van Basten dipanggil oleh Berlusconi. Van Basten tidak menutup kemungkinan untuk hengkang dari Milan daripada mengganggu kondusivitas tim. Sacchi lebih keras lagi dengan mengatakan bahwa dirinya siap memperpanjang kontraknya di Milan namun keberatan jika Van Basten dan Gullit ada dalam skuad.

Berlusconi dengan matang mencermati kedua permintaan tersebut.Sacchi memang punya otoritas untuk menyusun taktik namun Van Basten dan Gullit adalah kunci utama permainan AC Milan. Apalagi cinta publik Milan kepada Van Basten Gullit amat besar.

Akhirnya sebagai pengusaha media Berlusconi mengibaratkan suasana AC Milan ibarat sebuah serial TV populer. Sutradara bagus namun yang jauh lebih bagus adalah para aktor dan aktris yang terlibat dalam serial tersebut. Dan akhirnya benaknya berkata siapapun sutradaranya asalkan para aktornya punya kemampuan yang mumpuni maka serial tersebut akan tetap diminati.

Berlusconi menganggap bahwa Van Basten dan Gullit adalah sosok utama yang harus tetap dalam tim dan mereka akan sukses walaupun bukan Sacchi yang menjadi pelatih. Akhirnya setelah akhir musim 1990/1991 dimana AC Milan hanya menjadi Runner Up setelah takluk dalam perburuan juara dari Sampdoria dan Van Basten hanya mampu mencetak 11 gol sepanjang musim keputusan penting diambil oleh Berlusconi.

Berlusconi memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Sacchi sebagai pelatih AC Milan dan mempertahankan Ruud Gullit serta Van Basten dalam skuad AC Milan. Sebagai pengganti Sacchi ditunjuklah Fabio Capello sebagai pelatih baru AC Milan.Berlusconi sendiri kemudian mengusulkan kepada FIGC untuk mengangkat Sacchi sebagai pelatih Timnas Italia menggantikan Azeglio Vicini yang gagal membawa Italia lolos ke Piala Eropa 1992.Tawaran itu disambut positif oleh Sacchi dan FIGC dan pada November 1991 Sacchi resmi menjadi pelatih Timnas Italia.

Van Basten menyikapi perginya Sacchi dengan bijak. ”Sacchi adalah sosok utama dibalik kesuksesan AC Milan di Italia dan Eropa. Walau akhir – akhir ini kami berbeda pandangan itu tidak mengurangi rasa hormat saya kepadanya.Semoga dirinya sukses bersama Timnas Italia” ujar Van Basten kepada media.

Arrigo Sacchi menggendong Marco Van Basten seusai menjadi Juara Champions Cup 1989 di Camp Nou Barcelona

Hadirnya Fabio Capello membawa suasana baru di AC Milan. Marco Van Basten tampil trengginas pada musim 1991/1992 ini. Banyak yang menyebut musim 1991/1992 ini sebagai musim terbaik Van Basten bersama AC Milan.

Ruud Gullit dan Frank Rijkaard juga tampil gemilang bersama AC Milan. Gullit yang pada 2 musim sebelumnya terganggu akibat cedera lutut perlahan mulai menunjukkan permainan terbaiknya bersama AC Milan. Apalagi di lini tengah Gullit dan Rijkaard mendapat sokongan dari bintang muda yang mulai bersinar Demetrio Albertini.

Di musim 1991/1992 ini AC Milan tampil superior dengan tak terkalahkan sepanjang musim dan sukses meraih Juara Serie A (Scudetto) musim 1991/1992. Ini adalah scudetto ke-12 bagi AC Milan. Atas prestasi mereka, AC Milan musim 1991–92 mendapat julukan “Gli Invincibili” (Yang tak terkalahkan) di media. Kesuksesan AC Milan kian lengkap dengan keberhasilan Van Basten menjadi Top Skor Serie A musim 1991/1992 dengan torehan 25 gol.

Musim 1991/1992 ini juga menjadi akhir karir Carlo Ancelotti sebagai pemain sepakbola.Di akhir musim Carlo Ancelotti memutuskan “gantung sepatu” dari pentas sepakbola.

Dan terbukti keputusan Berlusconi memilih untuk “berfihak” kepada Van Basten tidak salah karena sesungguhnya bukan Sacchi yang tidak bagus tapi suasana baru yang dibutuhkan oleh para pemain di AC Milan.

Walau begitu Sacchi dan Van Basten tidak menyimpan dendam. Ketika bertemu saat pertandingan perpisahan Franco Baresi yang digelar pada 28 Oktober 1997 keduanya tampak berangkulan hangat. Demikian juga ketika bertemu pada peringatan 100 tahun AC Milan tahun 1999.

“Marco Van Basten tetap menjadi striker terhebat sepanjang masa. Tak ada pemain depan lain yang bekerja sangat keras bagi timnya seperti yang Basten lakukan di Milan,” kenang Sacchi dalam wawancara dengan Voetbal International pada tahun 2014.

“Di atas semuanya, saya paling ingat gayanya yang elegan dan kualitasnya yang luar biasa. Saya ingat ketika dia pertama tiba di Milan. Dia masih sangat muda dengan talenta yang luar biasa,” lanjut Sacchi

Bagikan: