MEDANPORT.ID – MEDAN – Suatu kehormatan besar bagi saya dalam momen Silaturahmi Legenda Olahraga Sumut “Awak Masih Ada” pada 8 September 2024 di Pos Bloc Medan saya bertemu dengan Legenda balap Sepeda Sumut dan Indonesia Sutiyono.
Kisah sukses Sutiyono menjadi seorang legenda saat ini tidak bisa dilepaskan dari “tangan dingin” sang pelatih dan gurunya Maurice Lungo.
Maurice Lungo merupakan seorang warga Italia yang kala itu tinggal di Jalan S. Parman Medan mulai Februari 1971. Lungo sendiri merupakan seorang pembalap sepeda profesional di Italia.
Pada Olimpiade 1960 Maurice Lungo melatih para pembalap sepeda Indonesia seperti M. Sanusi, Rusli Hamsijn, Hendrick Brocks dan Theo Polhsupessy.
Sutiyono sendiri pada masa itu merakit sendiri sepeda yang dipakainya untuk bertanding. Dengan sepeda rakitannya itu Sutiyono kerap menjuarai kejuaraan – kejuaraan sepeda di Medan.

Bakat alam Sutiyono pun dilihat oleh Maurice Lungo yang kemudian meminta Sutiyono untuk berlatih bersamanya.
Kerja keras Sutiyono kerap mendapatkan apresiasi dari Maurice Lungo lewat hadiah seperti ban sepeda atau velg baru.
Maurice Lungo juga yang mengajarkan kepada Sutiyono bagaimana teknik balap sepeda yang baik sesuai dengan kapasitas dirinya sebagai atlet, di mana hal ini diakui oleh Sutiyono sebagai alasan dirinya mengikuti Maurice Lungo dan tidak berlatih bersama atlet-atlet balap sepeda lainnya.
Dan berkat polesan Maurice Lungo inilah Sutiyono mendapat julukan “King of The Mountain” pada masa jayanya. Sutiyono mampu meneruskan kejayaan balap sepeda Sumut yang sebelumnya telah dirintis oleh seniornya M. Sanusi.
Di bawah polesan Maurice Lungo Sutiyono sukses meraih medali emas PON 1973, 1975 dan 1981. Kemudian meraih medali emas dan perunggu di ASEAN Tour de Singapore 1975 dan Tour of Formosa di Taiwan pada 1976. Ia juga merebut emas di SEA Games 1977, 1979 dan 1981.
Selain itu Sutiyono meraih medali Emas Kejuaraan Balap Sepeda Asia 1977 dan meraih Medali Perak Kejuaraan Balap Sepeda Asia 1981 yang keduanya digelar di Manila.
Sutiyono juga sempat tampil di Kejuaraan Dunia Balap Sepeda di Jerman pada 1978 dan Asian Games 1978 di New Delhi.
Namun tidak banyak yang tahu bahwa sebelum menekuni balap sepeda Sutiyono sempat menekuni sepakbola dan bergabung dengan klub Putra Harapan pada era akhir 60-an dan awal 70-an di kompetisi antar klub PSMS.
Rekan – rekan seangkatannya di kompetisi antar klub PSMS saat itu adalah Nobon, Sarman Panggabean, Ronny Pasla dll.
Namun garis tangan menentukan bahwa “Prestasi Emas” Sutiyono ada di Balap Sepeda dan bukan di Sepakbola.
Hingga kini Sutiyono tidak pernah lupa dengan jasa seorang Maurice Lungo dalam karirnya. Maurice Lungo sendiri begitu mencintai Indonesia dan pada era 70-an dirinya memutuskan menjadi WNI. Bahkan Maurice Lungo wafat di usia 92 tahun pada tahun 1991 dan dimakamkan di Medan.
Pada tahun 1983 Sutiyono memutuskan mundur sebagai atlet balap sepeda Nasional.
Sayang sepeninggal dirinya belum ada lagi atlet balap sepeda Sumut yang mampu menyamai kejayaannya. Di akhir 80-an dan awal 90-an sempat muncul Sugiarto, Sabaruddin Purba dan lain lain yang mampu bersaing di tingkat Nasional. Namun sesudah itu balap sepeda Sumut belum mampu lagi bangkit dari “tidur panjangnya”
Jaya Selalu Olahraga Sumatera Utara.





