Selain menempa diri dengan berlatih bersama skuad PSMS di Stadion Kebun Bunga, Zulham juga menempa fisiknya di lapangan dekat rumah tinggalnya. Bahkan untuk menambah motivasi tak jarang 3 anaknya juga dibawanya ketika dirinya berlatih bersama PSMS. Begitu besar hasrat dan ambisnya untuk membuktikan bahwa dirinya “belum habis” dan masih bisa berprestasi.

Sayang kondisi fisiknya tidak mendukung. Seusai memperkuat PSMS berujicoba dengan dengan Tim Diklat Medan pada 4 April 1985, Zulham mengeluhkan perutnya sakit dan kepalanya seperti ditusuk – tusuk. Dan akhirnya pada 10 April 1985 dirinya harus dirawat di RS Elizabeth Medan.

Dan setelah 10 hari dirawat dirinya diizinkan pulang. Tapi tak lama kemudian dirinya kembali harus dirawat di RS Elizabeth Medan dan akhirnya pada 29 April 1985 Zulham Effendi Harahap menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Elizabeth Medan.

Dukacita mendalam dirasakan oleh rekan – rekannya baik di PSMS maupun Timnas. Demikian juga dengan para pecinta PSMS yang begitu mengagumi aksi – aksi “ajaib” gocekan bolanya di lapangan hijau.

Ratusan orang yang terdiri dari para pemain dan pengurus PSMS, pengurus Komda PSSI Sumut, pecinta PSMS dan mantan rekannya di Timnas serta rekan – rekan sejawatnya di Pertamina datang ke rumah duka untuk memberi penghormatan terakhir dan melepas almarhum Zulham Efffendi Harahap ke peristirahatannya yang terakhir.

Zulham Effendi bersama sahabatnya Herry Kiswanto.

Juniornya di PSMS Medan Bambang Usmanto dalam diskusinya dengan saya mengenang sosok Zulham Effendi Harahap sebagai senior yang tidak segan membagi ilmu dan pengetahuannya tentang sepakbola kepada para juniornya.

Bagikan: