Pada tahun 1975 dirinya diterima bekerja di Pertamina Medan. Kemudian pada 1977 dirinya disekolahkan Pertamina ke Bandung. Hal ini membuat dirinya untuk sementara waktu mundur dari skuad PSMS Medan. Di Bandung ini pula dirinya diminta untuk memperkuat klub anggota Persib yaitu Setia dan akhirnya memperkuat Persib di putaran Final Divisi I Kejurnas PSSI 1977/1978.

Di Persib ini Zulham bermain bersama Risnandar, Nandar Iskandar, Max Timisela, Herry Kiswanto, Djadjang Nurdjaman dan lain-lain. Kemampuannya yang gemilang membuat dirinya diidolakan oleh para Bobotoh Persib. Zulham berperan besar membawa Persib menang 5-0 atas PSM dan menaklukkan Perseban Banjarmasin 2-0, di mana dalam kedua duel itu Zulham mencetak masing – masing 1 gol.

Sayang akhirnya Zulham gagal membawa Persib promosi karena dikalahkan oleh Persiraja Banda Aceh 1-2 pada babak play off di Stadion Utama Senayan Jakarta pada 27 Januari 1978. Sesudah menyelesaikan pendidikannya di Bandung Zulham kembali ke Medan. Namun dia tidak kembali ke klub Medan Utara tetapi bergabung dengan klub anggota PSMS lainnya yaitu Tirtanadi. Di klub Tirtanadi ini Zulham berkolaborasi dengan Mariadi, Effendi Marico dan Suwarno.

Kolaborasi ke-4 bintang tersebut di Tirtanadi sukses membuat Tirtanadi bersaing ketat dengan klub Perisai dan Bintang Utara di kompetisi Divisi Utama PSMS. Di Tirtanadi ini pula kemampuan Zulham kian terasah dengan matang, Zulham selain dikenal memiliki dribbling bola yang yahud, juga piawai dalam mencetak gol jarak jauh dari sudut sempit dan mampu melepas umpan matang untuk diselesaikan menjadi gol oleh rekan – rekannya.

Ketika dirinya menggocek bola dengan seni yang tinggi para penonton seolah – olah menyaksikan aksi pesepakbola Brazil dan Belanda dalam menggocek bola. Pada tahun 1979 ini pula Zulham menjadi salah satu bintang yang membawa PSMS Menjadi Juara Tugu Muda Cup di Semarang dan menjadi Runner Up Kejurnas PSSI 1979. Penampilan menawannya bersama PSMS membuat dirinya dipercaya untuk memperkuat Timnas.

Zulham Effendi kapten PSMS 1983.

Lahirnya kompetisi Galatama pada 1979 membuat Zulham tertarik untuk menjajalnya. Bersama rekannya di PSMS Ismail Ruslan, Effendi Marico dan Chaerulsan Siregar, Zulham bergabung dengan klub Pardedetex. Di Pardedetex ini pula Zulham kembali bereuni dengan rekannya di Persib yaitu Herry Kiswanto. Sayang kiprah Pardedetex di musim perdana Galatama ini tidak begitu meyakinkan.

Bagikan: