Catatan: Ari Sisworo SSos, Mantan Pesepakbola Gagal

Sepakbola Indonesia, Sampai Kapan Terus Begini?

Ari Sisworo S.Sos

MEDANSPORT.ID-Deliserdang-Sampai kapan terus begini? Pertanyaan ini nangkring di benak para pecinta sepakbola di Indonesia. Kalau sekadar nangkring, mungkin tak terlalu masalah. Tapi, nangkringnya ini sampai mengusik hati dan pikiran. Buat emosi.

Bayangkan saja! Indonesia, salah satu negara dengan tingkat kegandrungan terhadap si kulit bundar tertinggi di dunia, namun sepakbolanya begitu-begitu saja. Malah, hidup segan mati tak mau. Setiap ada setitik kemajuan, setiap itu pula terjadi kekisruhan.
Kok ya rasa-rasanya, kekisruhan itu memang sengaja diciptakan. Oleh orang-orang serakah. Orang-orang yang memang tak punya hati. Tak mau sepakbola Indonesia maju. Tak mau sepakbola Indonesia disegani dan ditakuti lawan.

Pengelolaan persepakbolaan kerap dibumbui drama. Lebih histeris dari drama Korea. Dijadikan tontonan dalam sebuah opera yang tak layak untuk dinikmati. Parahnya lagi, ada intrik-intrik politik yang diselipkan.

Baru kemarin, Liga 1 kembali digulirkan, pascatragedi Kanjuruhan. Itu pun masih menuntaskan laga tunda paruh musim. PS Sleman versus Persija. Barito kontra PSM Makasar. Dan di sini serunya. Baru saja peluit akhir laga El Classico Indonesia, Persib lawan Persija dibunyikan, sudah menyeruak isu ke permukaan jika federasi, PSSI menghentikan Liga 2 dan 3.

Alasannya beragam. Mulai dari homebase tim Liga 2 dan 3 yang tak layak, ketiadaan finansial, sampai dicuatkannya isu mayoritas bahkan seluruh kontestan Liga 2 lah yang meminta penghentian bergulirnya liga itu.

Kalau alasannya soal kandang tim yang tak/belum layak, sepertinya tidak masuk akal. Masih ada solusi dengan penggunaan sistem bubble. Tahun lalu juga pakai sistem itu. Di Bali. Lanjutan putaran pertama usai peristiwa Kanjuruhan juga pakai sistem serupa. Di Jawa Tengah.

Jadi, alasan homebase yang tidak/belum layak ini benar-benar tak bisa diterima.

Bagaimana dengan masalah finansial? Ini juga ngadi-ngadi. Mengada-ada. Kalau memang tak punya uang, harusnya semua strata liga dihentikan. Ini lebih realistis dan bisa diterima nalar, ketimbang Liga 1 digulirkan, tapi Liga 2 dan 3 disetop.

Kalau begitu ceritanya, pelatih, pemain, official tim Liga 1 makan nasi, yang di Liga 2 dan 3 makan batu.

Apa orang-orang di internal federasi itu tak berpikir kalau Liga 2 dan 3 itu juga ladang nafkah bagi keluarga para pesepakbola, pelatih dan official tim lainnya?

Belum lagi pedagang kecil-kecilan yang mengais rezeki ketika pertandingan berlangsung. Ada yang keliling menjajakan minuman dan makanan ringan ke suporter, dari satu sudut ke sudut stadion. Ada juga yang berjualan di luar stadion.

Apakah ini tak mematikan mata pencaharian rakyat jelata, yang mengais rupiah barang seribu-dua ribu perak? Di mana hati nurani kalian para petinggi federasi?

Lantas, selama jeda kompetisi, tim-tim Liga 2 dan 3 itu tetap menggelar latihan. Jadi, untuk apa para pemain itu latihan? Lintang pukang, lari sana, lari sini. Menguatkan fisik dan teknik. Setiap hari.

Pemilik dan manajemen klub juga tetap bayar gaji pemainnya. Kontrak tetap berjalan. Terus, itu dianggap cuma-cuma?

Mengenai kabar mayoritas, bahkan seluruh klub Liga 2 yang meminta liga dihentikan, kok lagi-lagi rasanya tak wajar. Tersebar hampir di semua akun media sosial bola, ada tanda tangan persetujuan penghentian liga dari klub-klub kontestan.

Ini belum terkonfirmasi kebenarannya. Karena, satu dan lain pihak mulai bersuara. Masih simpang siur. Tapi, lagi-lagi kalau dirasa sepertinya tidak mungkin para owner dan pengelola klub di Liga 2 itu yang menghendaki turnamen dihentikan. Lagi-lagi, irrasional.

Coba pikirkan! Bagaimana bisa liga kasta tertinggi digulirkan, sementara liga-liga di bawahnya dihentikan?

Selanjutnya 1 2 3