#STYOut

Sampai kapan terus begini? Ajang AFF 2022 dianggap menjadi anti klimaks perjalanan Shin Tae-yong menukangi Tim Nasional Indonesia. Turnamen non kalender FIFA itu dijadikan rujukan untuk mencari celah bisa ‘mengusir’ pelatih Korea Selatan itu dari tampuk head coach.

Kekecewaan atas raihan prestasi yang masih nihil itu wajar. Tidak hanya satu-dua orang, tapi dirasakan semua pecinta tim nasional. Ada yang minta STY Out, sah-sah saja. Alasannya, janji juara Piala AFF tak terealisasi. Di Sea Games Vietnam, Mei 2022 lalu, STY juga hanya mempersembahkan perunggu. Belum memenuhi ekspektasi, memang.

Tidak tercapainya target juara AFF, sebenarnya masih bisa dimaafkan. Minim persiapan. Karena sebelumnya, STY harus menggarap Training Camp Timnas U-20 untuk persiapan Piala Dunia U-20. Sepulang lawatan dari luar negeri, langsung menangani training camp tim nasional senior di Bali. Sepekan-dua pekan. Tak ada latih tanding. Ujug-ujug berlaga di AFF. Ritme permainan berbeda jauh dibanding saat bertarung di Kualifikasi Piala Asia di Kuwait, beberapa bulan lalu. Di momen ini pula menjadi secuil prestasi STY. Lolos Piala Asia dengan jalur kualifikasi. Di kandang orang pula.

Tagar STYOut, trending di Twitter. Tapi, coba baca lagi. Ada alasan berbeda yang disampaikan netizen-netizen maha benar. ‘Makhluk-makhluk’ dunia maya itu meminta STY meninggalkan tim nasional agar curiculum vitaenya tidak rusak. Sebab, Tim Nasional Indonesia itu syulit berkembang, mentalnya tak berubah sejak zaman baheula sampai sekarang. Takut duluan kalau bertemu tim kuat. Kaki gemetaran ketika bertandang ke kandang orang.

Jadi, maklum jika melatih Tim Nasional Indonesia, STY dan staf kepelatihannya fokus pada pembinaan mental. Terkhusus fisik. Untuk fisik, sudah terlihat perkembangannya. Sekarang, tak ngos-ngosan lagi ketika main full time selama 90 menit. Tak seperti dulu. Baru main 60 menit, muka sudah merah. Napas tersengal-sengal. Lari seperti siput.

Kalau tak berhasil di ajang yang tak masuk kalender FIFA (Piala AFF), lantas dijadikan alasan untuk memecatnya, tak realistis juga. Kalau begini ceritanya, siapa pun pelatihnya Tim Nasional Indonesia juga tak akan berprestasi. Semua butuh proses. Tak bisa instan.

Jangan nanti kembali menyesal, kala Tim Nasional Indonesia dilatih Luis Milla. Eks pesepakbola andal berkebangsaan Spanyol itu kurang apa? Punya nama besar, mentereng. Saat masih bermain, dia memperkuat tim-tim kuat. Real Madrid, Barca, Valencia. Penggawa Tim Nasional Spanyol juga. Karir kepelatihannya terbilang moncer. Berhasil mengantarkan Tim Nasional U-21 Spanyol sebagai Kampiun Piala Eropa 2011.

Luis Milla lebih mentereng, rekam jejak karir sebagai pemain dan pelatih ketimbang dengan STY. Tapi, ketika menangani Tim Nasional Indonesia, apa prestasi yang sudah ditorehkan pelatih yang sekarang menukangi Persib Bandung itu? Tidak ada.

Cuma mempersembahkan medali perak SEA Games 2017 dan membawa skuad Garuda ke babak 16 Besar Asian Games 2018. Tak lebih dari itu. Kemudian, dipecatlah Luis Milla. Penggantinya, malah lebih buruk. Tim nasional hancur lebur.

Banyak pecinta bola tanah air rindu cara bermain tim nasional besutan Luis Milla. Umpan dari kaki ke kaki. Persis gaya bermain ala Barcelona. Tiki taka.

Kondisi ini bisa saja kembali terjadi. Dipecatlah STY, dicari penggantinya. Nyatanya, tidak sesuai harapan. Rindu lagi dengan STY yang mampu membentuk fisik pemain. Begitu terus. Berkutat di circle yang itu-itu saja.

Ayo dong! Mau sampai kapan sepakbola Indonesia terus begini?

Bagikan: