Dia pun membayar lunas kepercayaan ketua umum dengan mempersembahkan Medali Emas pertama di sepakbola untuk Indonesia di SEA Games,saat Indonesia menjadi tuan rumah pada 1987 silam dan membawa timnas Indonesia menduduki posisi IV pada Asian Games 1986 di Seoul.
Sarman Panggabean juga turut mendampingi Bertje Matulapelwa sebagai pelatih ketika Indonesia menjadi Juara Piala Kemerdekaan 1987 dan pada 1987 ini pula di bawah asuhan Bertje dan Sarman Timnas menahan imbang Juara Liga Belanda PSV Eindhoeven yang waktu itu diperkuat Ruud Gullit, Ronald Koeman, Eric Gerets dan Hans Van Breukelen 3-3 dalam pertandingan ujicoba di Stadion Utama Senayan Jakarta.
Setelah meletakkan jabatan pelatih timnas pada 1988, Sarman melanjutkan kiprah menjadi pengurus PSSI sebagai Ketua Bidang Remaja dan Ketua Bidang Evaluasi Pelatih, di masa kepemimpinan Ketua Umum Kardono hingga Azwar Anas. Sayang akibat tidak cocok dengan beberapa pengurus PSSI masa itu, Sarman mundur dari jabatannya.
Namun, kepedulian Sarman pada sepakbola Tanah Air tak berhenti sampai di situ. Bersama eks punggawa timnas, dia mendirikan Perhimpunan Pemain Sepakbola Nasional (PPSN) pada 2009, dan menjabat sebagai ketua. Sarman juga sering diminta oleh beberapa media cetak untuk membuat analisis pertandingan baik itu ketika Timnas bertanding,kompetisi antar klub Eropa dan turnamen bergengsi seperti Piala Dunia dan Piala Eropa.
Dan ketika sudah memasuki masa purna tugas dari Bank Bumi Daya,Sarman Panggabean lebih banyak bermukim di Medan dan kerap berkumpul bersama rekan-rekannya sesama Mantan PSMS Medan. Dan akhirnya pada 13 Januari 2020 Sang Legenda PSMS dan Timnas ini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada pukul 17.48 WIB di kediamannya Jalan Jati No.103 Medan yang lokasinya tidak jauh dari stadion Teladan Medan.
“Selamat jalan Bang Sarman Panggabean. Kenangan prestasimu bersama PSMS Medan akan tetap hidup di hati kami para pecinta PSMS Medan”. (*)





