“Saya akui didikan pelatih pertama saya Sempai Adlin, Sempai Irsan dan Sempai Billy sungguh luar biasa. Sehingga saya bisa menasbihkan nama danmembawa harum Indonesia,” ucap laki yang kini berusia 21 tahun tinggal di Pasar 11, Tembung tersebut.
Alif pun menyebut bahwa kesuksesan yang diperoleh di Tunisia butuh kerja keras. Pasalnya, sejak kelas I SMP, Alif telah dikenalkan dengan olahraga Kempo. Hal itu juga bukan tanpa alasan, sebab sang ayah dan kakaknya juga
merupakan atlet Kempo.

Nah, dari sekadar melihat dan mencermati, lalu Alif tertarik untuk menekuni olahraga ‘petarung’ tersebut. Ditambah lagi dukungan orangtua yang berharap dirinya harus menjadi atlet Kempo profesional. Namun sayang, ditengah perjuangan mengharumkan nama kota kelahirannya, selama itu pula baik Alif dan atau atlet Kempo di Sumut lainnya tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.
Mulai dari seleksi, keberangkatan hingga menggodol medali dari Kejuaraan Kempo Dunia di Tunisia, Alif mengaku belum pernah dipanggil oleh pejabat tingkat Pemprovsu, Pemko Medan mau pun Pemkab Deliserdang.
“Untuk perhatian pemerintah dari pemerintah kurang. Kami tidak ada dipanggil sama pak Edy (Gubsu) dan pak Bobby (Walikota Medan), bahkan dari Bupati Deliserdang tidak ada juga panggilan. Saya hanya dapat perhatian dari Kepala Desa Banda Klippa bapak Suparyo. Namun begitu saya tak patah arang dan tetap berjuang demi nama baik daerah, bangsa dan negara yang kita cintai ini,” tukas penyuka makanan mie Tiaw dan jus Alpukat ini.






