MEDANSPORT.ID – MEDAN – Menyandang Sabuk Hitam DAN III bukanlah hal yang mudah. Harus melewati tahapan. Dengan penuh kerja keras, aral rintang bisa dilalui. Dialah seorang M Ihsan Vahendra. Atlet Jujitsu itu ingin memajukan beladiri asal Jepang tersebut di kota kelahirannya, Medan.
Menilisik perjalanan mahasiswa Universitas Medan (Unimed) menggemari Jujitsu dimulai sejak kelas 2 SD. “Saat itu aku bergabung di Dojo Tirtanadi Jalan SM Raja Medan di bawah binaan pelatih Surya Dharma dan Roni,” kata Ihsan kepada kru MEDANSPORT.ID, kemarin.
Ihsan bercerita kenal dengan olahraga Jujitsu dari orangtuanya. Lambat laun alumni SMA Negeri 6 Medan ini merasa betah di olahraga beladiri itu.
“Jujitsu sudah seperti bagian dari kebutuhan saya, karena di jujitsu saya bisa menemukan keluarga baru buat saya dan saya dapat menerapkan ilmu jujitsu ini di kehidupan sehari-hari dan membuat tubuh saya menjadi lebih bugar. Tentu saya tak bisa kelain hati untuk bergabung dengan olahraga beladiri lainnya,” tukas putra pasangan Hendra S dan Eva Asih Pahyuni.
Cowok yang dilahirkan di Medan ini berhasil lulus ujian kenaikan tingkat pelatih dari DAN II ke DAN III yang diuji dewan pelatih Jujitsu Fighter Sumatera Utara (JFS) baru-baru ini.
Jujitsan yang berdomisili di Jalan Seto Gang Seto Medan dipercayakan untuk melatih di Dojo Dojo Remesta Polonia. Sebagai pelatih di Dojo tersebut membuat pemilik tinggi 165 cm dan berat badan 80 kg semakin
termotivasi memberikan ilmu bela diri kepada anak didiknya yang saat ini berjumlah 30 orang.
Anak ke 2 dari 4 bersaudara itu telah merasakan pertandingan dengan aura nasional pada ajang Kejurnas PBJI di Bekasi tahun 2017. “Aku termotivasi supaya Jujitsu semakin diminati kawula muda di
Kota Medan,” sebutnya.
Jujitsan yang akrab disapa Ihsan ini menjelaskan sebagai seorang olahraga sejati tetap menjunjung tinggi sportivitas setiap kali pertandingan. Tidak dipungkuri di Kota Medan banyak potensi yang untuk melahirkan jujitsan yang berkualitas dan handal siap berlaga di arena pertandingan.
Pengemar chicken steak ini saat latihan tetap menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) sesuai aturan pemerintah untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus Covid-19.
“Sebagai jujitsan dan pelatih tentunya ada suka dan dukanya selama bergabung di Jujitsu. Sukanya aku dapat menemukan keluarga baru dan mendapatkan ilmu yang belum pernah saya dapatkan di sekolah mau pun kuliah. Dukanya sebagai jujitsan pasti merasakan rasa jenuh karena pola latihan yang membuat jujitsan menjadi jenuh disebabkan fasilitas latihan yang belum terpenuhi,” pungkas Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan tersebut. (***)





