MEDANSPORT.ID-MEDAN-Beberapa waktu terakhir muncul perdebatan baik secara langsung maupun media tentang apakah timnas di masa lalu lebih hebat dan lebih baik dari timnas di masa kini atau justru sebaliknya.Perdebatan ini muncul seiring dengan prestasi Timnas U23 di bawah asuhan pelatih asal Korea Selatan Shin Tae Yong (STY) yang berhasil melaju ke Semifinal Piala asia U23 Tahun 2024 dan berlaga di paly off Olimpiade Paris 2024 melawan wakil Afrika Guinea.
Banyak argumen yang muncul yang sayangnya tidak disertai dengan alasan,fakta dan dasar pemikiran yang kuat.Bagi saya prestasi Timnas setiap periode itu memiliki track record yang baik dan harusnya tidak untuk diperdebatkan dengan emosional dan terkadang lebih bersifat subjektif dan tidak objektif.
Ketika Timnas Belanda menjadi Juara Piala Eropa 1988 di Jerman muncul pertanyaan dari wartawan kepada sang bintang utama Belanda waktu itu Marco Van Basten apakah Timnas Belanda 1988 lebih hebat dari Timnas Belanda yang jadi Runner Up Piala Dunia 1974. Van Basten menjawab : “Timnas Belanda di bawah kapten Tim Johan Cruyff akan tetap menjadi yang terbaik dalam sejarah sepakbola Belanda.Kami hanya mendekati kehebatan mereka dan merekalah sesungguhnya yang menjadi inspirasi kami”
Ketika Brazil menjadi Juara Piala Dunia tahun 1994 setelah “puasa gelar” selama 24 tahun,muncul pertanyaan kepada Edevair De Souza Faria yang merupakan ayah dari bintang utama Brazil di Piala Dunia 1994 Romario.Pertanyaanya adalah apakah sang putra Romario sudah selevel dan layak disejajarkan dengan Legenda Brazil yang membawa Brazil Juara Piala Dunia 1958,1962 dan 1970 Pele. Edevair menjawab “Pele adalah legenda dan pahlawan bagi warga Brazil.Tak ada yang bisa melebihi kharismanya di hati pecinta sepakbola Brazil”.

Begitulah sikap positif yang seharusnya ditiru dalam menilai prestasi sebuah Tim Sepakbola.Terkadang saya geli sendiri mendengar ujaran bahwa Timnas di masa lalu prestasinya “bukan apa – apa” atau “biasa aja” tanpa melihat fakta yang sebenarnya di masa itu. Saya sendiri mengapresiasi positif prestasi anak – anak asuh STY di Piala Asia U23 yang lalu.Begitu juga dengan peningkatan peringkat Indonesia di peringkat FIFA. Sudah cukup lama saya tidak merasakan euforia kebanggaan melihat Timnas Indonesia berlaga di turnamen – turnamen Internasional.
Salah satu kisah hebat Timnas Indonesia di masa lalu yang layak menjadi inspirasi adalah prestasi Timnas Indonesia di Asian Games 1958 yang digelar di Tokyo. Prestasi meraih Medali Perunggu pada Asian Games 1958 adalah sesuatu yang layak mendapat apresiasi dan penghargaan yang khusus dari seluruh pelaku maupun pecinta sepakbola Indonesia.
Sejak pertama kali berpartisipasi di Asian Games 1951,Timnas Indonesia terus berpartisipasi mengikuti cabang sepakbola di Asian Games 1954 dan 1958. Salah satu yang menjadi motivasi tinggi bagi skuad Timnas Indonesia masa itu adalah ingin membuktikan bisa sejajar dengan kekuatan – kekuatan utama sepakbola Asia masa itu walau baru merdejka pada 17 Agustus 1945.
Pada Asian Games 1951 yang berlangsung di New Delhi (India) Timnas Indonesia yang waktu itu dilatih oleh pelatih asal Singapura Choo Seng Quee terhenti langkahnya di 8 Besar setelah takluk 0-3 dari tuan rumah India. Pada Asian Games 1954 di Manila yang berlangsung di Manila Timnnas Indonesia yang dilatih oleh pelatih asal Yugoslavia Antun “Toni” Pogačnik lolos ke Semifinal. Sayangnya Indonesia gagal meraih Medali Perunggu setelah dalam laga perebutan Medali Perunggu takluk dari Burma (Myanmar).
.Setelah sukses lolos ke Olimpiade Melbourne 1956 dan nyaris lolos ke Piala Dunia 1958,maka pelatih asal Yugoslavia Antun “Toni” Pogačnik mencoba bintang – bintang muda untuk memperkuat Timnas di Olimpiade 1958 yang berlangsung di Tokyo sebagai bagian dari regenerasi Timnas Indonesia. Maka beberapa nama bintang senior yang saat itu sudah berusia di atas 30 tahun seperti : Ramli Yatim,Ramlan Yatim,Ramang,Djamiat Dhalhaar,Chaeruddin Siregar,Aang Witarsa dll tidak ikut dipanggil.
Tidak dipanggilnya bintang – bintang senior tersebut sempat mendapat kritikan keras dari pecinta sepakbola Indonesia apalagi sosok – sosok senior tersebut sudah berathun – tahun menjadi pilar utama Timnas Indonesia dan membuat Timnas Indonesia menjadi salahs atu kekuatan utama sepakbola Asia masa itu. Namun Antun “Toni” Pogačnik tetap teguh pada pendiriannya dan mendapat dukungan dari pemerintah dan pengurus PSSI masa itu.Walau demikian beberapa bintang senior seperti : Maulwi Saelan,M.Rasijd,Thio Him Tjiang,Rukma,Kwee Kiat Sek, Phwa San Liong, Tan Liong How dll yang usianya masih di bawah 30 tahun masa itu tetap dipanggil oleh Antun “Toni” Pogačnik sebagai pembimbing bagi bintang – bintang baru Timnas seperti Saari,Bakir Goordy,Marjoso,Wowo Sunayo dll.
Timnas Indonesia terdiri dari Maulwi Saelan (PSM Ujungpandang, kapten), Paidjo (Persija Jakarta), Marjoso (PSIS Semarang), M. Rasjid (PSMS Medan), Thio Him Tjiang (Persija), Ashari Danu (Persema Malang), Kwee Kiat Sek (Persib Bandung), Rukma Sudjana (Persib Bandung), Iljas Haddade (PSM Ujungpandang), Sailan (Persija), Tan Liong Houw (Persija Jakarta), Phwa San Liong (Persebaya Surabaya), Suryadi (Persema Malang), Omo Suratmo (Persib Bandung), Saari (PSMS Medan), Bakir Goordy (PSMS Medan), Fattah Hidayat (Persib Bandung), Wowo Sunaryo (Persib Bandung), dan Hengky Timisela (Persib Bandung).
Indonesia sendiri tergabung di grup B bersama India dan Burma (Myanmar).Indonesia mengawali laga pertama melawan salah satu kekuatan sepakbola Asia Tenggara masa itu Myanmar pada 25 Mei 1958.Pada pertandingan yang berlangsung keras dan menarik ini Indonesia unggul terlebih dahulu lewat gol yang dicetak oleh bintang Persib Wowo Sunaryo pada menit ke-16.Wowo Sunaryo kemudian menggandakan keunggulan Indonesia lewat gol yang dicetaknya pada menit ke-19.Unggul 2 gol tidak membuat Timnas Indonesia mengendurkan serangan.Pada menit ke-31 Tan Liong Houw menambah keunggulan Indonesia menjadi 3-0 melalui gol yang dicetaknya. Ketinggalan 0-3 tidak membuat skuad Burma tertekan.Mereka coba kembali membongkar lini pertahanan indonesia.Hasilnya pada menit ke-43 Myanmar mampu memperkecil ketinggalan setelah Samuel mencetak gol berhasil memperdaya Maulwi Saelan.Turun minum skor 1-3 untuk Indonesia.
Di babak kedua pertandingan berjalan sengit.kedua tim saling jual beli serangan.Burma pada menit ke-60 berhasil memperkecil ketinggalan menjadi 2-3 setelah Tun Aung mencetak gol dari titik penalti.Indonesia akhirnya sukses menambah gol setelah bintang PSMS Saari sukses menggetarkan jala Burma pada menit ke-73. Hingga pertandingan berakhir skor tidak berubah 4-2 untuk keunggulan Indonesia.

Pada pertandingan kedua yang berlangsung 28 Mei 1958 Timnas Indonesia berhadapan dengan India.Pada laga ini Timnas Indonesia mendapat perlawanan sengit dari India yang pada pertandingan sebelunya juga sukses menaklukkan Burma 3-2. Indonesia membuka skor keunggulan pada menit ke-11 lewat aksi bintang Persija Thio Him Tjiang.
Ketinggalan 1 gol membuat India tersengat.Hasilnya pada menit ke-35 striker India Mohammad Rahmatullah menyamakan kedudukan setelah mencetak gol ke gawang Indonesia.Skor imbang ini bertahan hingga turun minum.Di awal babak kedua Indonesia berhasil menambah keunggulan setelah bintang Persija Thio Him Tjiang berhasil mencetak gol kedua pada menit ke-53.Hingga pertandingan berakhir skor tak berubah 2-1 untuk kemenangan Indonesia atas India.
Indonesia lolos ke Perempat Final sebagai Juara Grup B.Pada laga Perempat Final yang berlangsung 30 Mei 1958 di Tokyo Football Stadium,Indonesia berhadapan dengan Ruuner Up grup C Filipina.Pertandingan 2 negara Asia Tenggara ini juga berlangsung sengit.Indonesia membuka skor setelah bintang PSMS Medan Bakir Goordy mencetak gol pada menit ke-20.Di saat Filipina masih kaget,Wowo Sunaryo menggandakan keunggulan Indonesia setelah mencetak gol pada menit ke-21.
Tertinggal 2 gol membuat skuad Filipina tersentak.Hasilnya pada menit ke-24 Filipina berhasil memperkecil ketinggalan lewat gol yang dicetak Ardeguer.Di saat Filipina mencoba mengejar ketinggalan,Wowo Sunaryo kembali mencetak gol ketiga untuk keunggulan Indonesia pada menit ke-30.Skor 3-1 untuk Indonesia bertahan hingga turun minum.
Pada babak kedua,Indonesia berhasil menambah keunggulan menjadi 4-1 setelah bintang PSMS Medan Saari mencetajk gol pada menit ke-64.Unggul 4-1 tidak membuat Indonesia puas.Pada menit ke-80 Wowo Sunaryo mencetak gol kelima untuk keunggulan Indonesia.Pada menit ke-82 Filipina berhasil mencetak gol tambahan.Skor 5-2 untuk keunggulan Indonesia bertahan hingga pertandingan berakhir sekaligus menghantarkan Indonesia lolos ke Semifinal.
Di Semifinal yang berlangsung pada 31 Mei 1958 di National Stadium Tokyo,Indonesia berhadapan dengan China.China sendiri lolos ke Semifinal setelah di Perempat Final menaklukkan Israel 2-0.Sejak kick off kedua tim mencoba saling jual beli serangan.Namun hingga turun minum tidak ada gol yang tercipta dari kedua tim.
Pada laga babak kedua,kembali kedua tim saling jual beli serangan.Kokohnya lini belakang Indonesia yang dikoordinir Kwee Kiat Sek dan M.Rasijd membuat serangan – serangan pemain China berhasil dipatahkan.Namun pada menit ke-67 bintang China Chow Siu Hung berhasil membobol gawang Indonesia.Ketinggalan 0-1 membuat Indonesia tersentak dan mencoba membalas dengan serangan sporadis dan beruntun.Namun hingga wasit meniup peluit panjang skor tidak berubah 1-0 untuk keunggulan China dan membuat Indonesia seperti Asian Games 1954 kembali gagal lolos ke Final.
Pada laga perebutan Medali Perunggu yang berlangsung pada 1 Juni 1958 di National Stadium Tokyo Timnas kembali berhadapan dengan India. India sendiri di Semifinal takluk 1-3 dari Korea Selatan.Indonesia dan India sebelumnya pernah berhadapan di penyisihan Grup B dan laga dimenangkan Indonesia 2-1 waktu itu.
Skuad Indonesia di bawah asuhan Antun “Toni” Pogačnik ini bertekad untuk menebus kegagalan meraih Medali Perunggu di Asian Games 1954. Tekad ini nampak ketika para pemain Indonesia memasuki lapangan dengan wajah optimis dan semangat tinggi.
Walau demikian India terlihat tidak gentar menghadapi Indonesia yang pernah mengalahkan mereka di penyisihan Grup B.Sejak kick off kedua tim coba mengambil inisiatif serangan. Walau demikian Indonesia yang terlebih dahulu membuka keunggulan lewat gol yang dicetak bintang PSMS Medan Saari pada menit ke-10. Tertinggal 0-1 India mencoba menekan lini pertahanan Indonesia.Namun kokohnya lini belakang Indonesia membuat serangan – serangan India berhasil dipatahkan.Hingga turun minum skor tetap 1-0 untuk keunggulan Indonesia.
Pada babak kedua,Indonesia coba tampil lebih agresif. Walau demikian justru India yang berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-46 lewat ekksekusi penalti bintang India Tulsidas Balaram. Skor 1-1 ini membuat Indonesia kian gencar menggempur lini pertahanan India.Hasilnya pada menit ke-59 bintang Persib Omo Suratmo berhasil mencetak gol kedua untuk keunggulan Indonesia. Satu menit kemudian bintang Persib Wowo Sunaryo mencetak gol ketiga untuk keunggulan Indonesia.
Unggul 3-0 tidak membuat Indonesia mengendurkan serangan.Hasilnya pada menit ke-88 Indonesia berhasil menambah gol kemenangan setelah bintang Persebaya Phwa Sian Liong berhasil menggetarkan gawang India.Hingga pertandingan berakhir skor 4-1 untuk kemeangan Indonesia tidak berubah dan memastikan Indonesia meraih Medali Perunggu.
Hasil ini disambut ofisial,pelatih dan seluruh pemain Indonesia dengan penuh “haru biru” karena berhasil menebus kegagalan di Manila 4 tahun sebelumnya.Keraguan karena Indonesia menurunkan bintang – bintang muda di Asian Games 1958 ini berhasil dijawab pelatih Antun “Toni” Pogačnik dengan prestasi hebat di Asian Games 1958 ini.
Hingga kini prestasi meraih Medali Perunggu ini adalah prestasi terbaik Timnas Indonesia di Asian Games. Prestasi terbaik Indonesia di Asian Games sesudah 1958 ini adalah lolos ke Semifinal pada Asian Games 1986 di Seoul.Prestasi di Asian Games 1986 ini hanya menyamai prestasi Timnas Indonesia di Asian games 1954 yang digelar di Manila.
Di era milenium sendiri prestasi terbaik Tim Sepakbola Indonesia di Asian Games adalah lolos ke 16 Besar di Asian Games 2014,2018 dan 2022. Prestasi Meraih Medali Perunggu di Asian Games 1958 ini layak dicatat dengan “Tinta Emas” dalam sejarah sepakbola Indonesia.






