MEDANSPORT.ID-MEDAN- Atlet binaan KONI Medan ini tampil gemilang pada ajang Piala Walikota Medan cabang olahraga (Cabor) karate yang digelar di Gelanggang Remaja Jalan Sutomo Ujung Medan yang berakhir, Selasa (13/6/2023). Cewek bernama lengkap Leica Al Humaira Lubis ini berhasil menasbihkan diri sebagai terbaik di kategori kelas Kumite +68 kg putri.
Torehan medali emas yang diraih karateka yang akrab di sapa Leka Lubis memberikan kontribusi bagi perguruan Inkanas yang tampil sebagai juara umum. Anak pasangan dari Andi Kurniawan Lubis dan Maya Junifrianti bisa disebut sebagai karateka putri andalan kota Medan dengan segudang prestasi.
Pasalnya, atlet berdarah Mandailing yang lahir di kota Medan, 15 September 2004 ini, telah menyabet beberapa medali dari berbagai kejuaraan seni bela diri asal Jepang tersebut. Darah bela diri karate mengalir dalam tubuh sejak berusia sepuluh tahun bergabung di Dojo Karate Kids Sei Deli Medan.
“Saya mengenal karate sejak umur 10 tahun, tapi saat itu hanya berlatih selama 4 bulan saja lalu berhenti karena tidak memiliki teman di tempat berlatih. Selain itu, juga bosan berlatih gerakan dasar dan ingin segera masuk ke kumite (pertarungan di karate). Setelah 2 tahun berhenti, akhirnya memulai berlatih lagi pada umur 12 tahun. Awalnya dipaksa oleh orangtua untuk kembali berlatih, namun lama-lama terasa menyenangkan dan berlanjut hingga sekarang”, ujar Mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer Teknologi Informasi Program Studi Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara di Medan, Sabtu (17/6/2023)
Karateka berdomisili di Jalan H. Adam Malik Gang. Rela Kelurahan Silalas, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan ini semakin fokus latihan dan mematangkan persiapan untuk tampil Kejuaraan Daerah (Kejurda) karate pada Juli mendatang. Kejurda bisa menjadi sarana promosi dan degradasi bagi atlet Pelatda PON XXI. Jadi peluang bagi atlet pelapis tetap terbuka tampil di PON 2024.
“Saya memiliki sasaran dan misi untuk meraih peringkat 1 di Sumatera Utara pada kejuaraan daerah yang direncanakan akan digelar pada bulan Juli mendatang. Untuk itu terus mempersiapkan versi terbaik diri untuk dapat bergabung ke dalam tim pelatda jangka panjang PON XXI/2024 Aceh-Sumut”, papar pemilik tinggi 170 cm dan berat badan 64 kg ini dengan optimis.
“Saya juga bertekad untuk berdiri di posisi peringkat 1 pada kejuaraan nasional perguruan yang diperkirakan akan berlangsung pada bulan September mendatang. Untuk itu, saya terus mengembangkan potensi yang dimiliki melalui penambahan jadwal latihan dan program latihan yang efektif sesuai dengan bimbingan dan arahan pelatih”, tutur anak bungsu dari dua bersudara ini.
Pendoyan soto kuah bening ini mengungkapkan selama jadi karateka memiliki suka dan duka. Sukanya jadi atlet itu, kita jadi lebih mudah untuk lolos ke institusi pendidikan yang diinginkan dengan prestasi yang dimiliki. “Bahkan saya setiap tahun diberi penghargaan oleh universitas dimana saya berkuliah, tentu saja penghargaan tersebut dihitung dari jumlah dan jenis prestasi yang raih pada tahun itu. Selain itu, dapat mengenal maupun dikenal banyak orang. Kalau ada pertandingan di luar kota atau luar negeri juga bisa sekalian mengenal kebudayaan-kebudayaan baru”, terang Leka Lubis.
Duka menjadi atlet itu juga gak kalah banyaknya, tambah cewek yang dilahirkan 19 tahun silam ini, salah satu yang paling mempengaruhi adalah nilai mata kuliah. Tidak jarang nilai ikut anjlok karena kesulitan mengatur waktu antara belajar dan berlatih. Jujur saja sulit untuk menjadi atlet sekaligus mahasiswi, waktu istirahatnya juga jadi jauh lebih sedikit dibanding mahasiswi biasa. “Saya juga tidak memiliki banyak waktu luang untuk bermain bersama teman-teman. Selain itu, tingkat resiko mengalami cedera juga lebih tinggi terlebih sebagai atlet beladiri. Tapi menurut saya, mustahil bagi atlet untuk tidak mengorbankan sesuatu demi prestasinya. Duka yang dialami adalah harga yang harus dibayar demi prestasi yang lebih gemilang”, jelas penyandang sabuk hitam DAN I ini.
“Jujur saja, saya juga masih kesulitan dalam membagi waktu antara kuliah dan latihan. Namun menyiasatinya, biasanya mengurangi waktu untuk bermain. Biasanya begitu selesai kuliah, langsung pulang untuk bersiap-siap mengikuti latihan pada sore atau malam hari. Pada akhir pekan juga biasanya memilih untuk beristirahat di rumah sambil mengerjakan tugas kuliah dibandingkan bermain atau nongkrong dengan teman-teman. Sebenarnya waktu bermain itu juga sangat penting, jangan sampai kita menjadi anti sosial karena tidak pernah bersosialisasi dengan lingkungan. Sebagai atlet, kita harus bijak dalam menentukan prioritas sehingga prestasi dalam kuliah dan olahraga dapat diraih secara bersamaan”,tutup Leka (*)
Prestasi
Juara 2 Kumite U21 -68 kg Putri Kejuaraan Nasional Karate Piala Ketua Umum PB Forki 2022
Juara 3 Kumite +68kg Putri Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional 2022
Juara 3 Kumite Beregu Putri Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional 2022
Juara 2 Kumite +68kg Putri Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Utara 2022
Juara 1 Kumite Senior +68kg Putri Kejuaraan Daerah Forki Sumatera Utara 2022
Juara 1 Kumite U21 +68kg Putri Kejuaraan Daerah Forki Sumatera Utara 2022
Best of The Best Kumite U21 Putri Kejuaraan Daerah Forki Sumatera Utara 2022
Juara 1 Kumite +68kg Putri Piala Walikota Medan 2022






