Kegugupan Persija terlihat jelas ketika bintang Persija Van der Berg hampir saja mencetak gol ke gawang sendiri. Kalau saja penjaga gawang Arnold Van der Vin tidak sigap menangkap bola hasil tendangan Van der Berg, gol akan tercipta untuk PSMS. Demikian juga dengan PSMS Medan, hampir saja Djamiat Dhalhar membuka skor pada menit-menit awal, andai kiper PSMS Medan, Kliwon, tidak cekatan dan sigap menepis bola.
PSMS kemudian berhasil membuka keunggulan terlebih dahulu. Berawal dari kesalahan umpan di lini tengah Persija, striker PSMS Yusuf Siregar berhasil mengirim umpan kepada Syamsudin dan dia tidak menyia-nyiakan peluang yang ada. Tendangan keras Syamsudin membuat menggetarkan gawang Persija yang dikawal Van Der Vin.
Gol yang dicetak PSMS ini membuat Persija tersentak dan langsung bangkit dengan melancarkan serangan. Memanfaatkan kesalahan dari pemain PSMS Medan pemain Persija Hasan berhasil mengambil bola dari kaki pemain Medan. Setelah sedikit menggiring bola, Hasan kemudian mengirimkan umpan silang yang disambut dengan sundulan kepala dari Kapten Persija Djamiat Dhalhar. Gol pun tercipta ke gawang PSMS Medan yang dikawal Kliwon.
Setelah gol Djamiat itu, barulah Persija kembali menguasai pertandingan. Gol Persija kembali tercipta yang kali ini dilesakkan oleh Hong Sing. Setelah kedudukan menjadi 2-1 untuk Persija keributan pun terjadi akibat Hasan yang bermain kasar terhadap pemain PSMS Yusuf Siregar. Keributan ini sampai harus ditenangkan oleh Yusuf Yahya, Ketua Umum Persija kala itu. Pada awalnya wasit Van Yperen memberi penalti kepada PSMS namun kemudian dibatalkan akibat protes dari kapten Persija Djamiat Dhalhar.
Puncak dari panasnya pertandingan adalah di menit ke-73 ketika bintang muda PSMS yang ketika itu baru berusia 18 tahun Ahmad Kadir diganjal dan dihantam dengan keras hingga terkapar di lapangan oleh Tamaela namun tidak diberi hukuman oleh wasit.Para pemain PSMS langsung menyerang Tamaela yang dianggap tidak bermain dengan sportif.Sempat terjadi tawuran antar pemain yang harus ditenangkan oleh ofisial kedua tim.
Ketua Umum sekaligus Manajer PSMS Muslim Harahap kemudian meminta agar wasit diganti namun ditolak oleh Panpel.Akhirnya dengan tegas Muslim Harahap meminta seluruh pemain PSMS meninggalkan lapangan.Persija pun kemudian dinyatakan sebagai pemenang dan menjadi Juara Kejurnas PSSI.
PSMS Medan tidak melanjutkan pertandingan dan keluar dari lapangan. Manajer PSMS Muslim Harahap menyesalkan kejadian yang terjadi.Wasit yang harusnya netral malah membuat keputusan kontroversial yang merugikan PSMS.
Walau tidak mengakui kekalahan dari Persija dan menganggap kemenangan PSMS ‘dirampok,Muslim Harahap menjelaskan bahwa tidak ada perselisihan antara Persija dan PSMS.Yang disalahkan oleh Muslim Harahap adalah kepemimpinan wasit Van Yperen yang kontroversial dan ‘berat sebelah”.

PSMS memang kalah dengan menyakitkan tapi tetap disambut Walikota Medan dan masyarakat Medan sebagai “Pahlawan”.
Walau kalah dengan cara yang “menyakitkan” rombongan PSMS Medan tetap disambut hangat ketika tiba di Medan.Bahkan diadakan acara tepung tawar oleh Walikota Medan waktu itu H.Moeda Siregar sebagai penanda bahwa di hati masyarakat Medan Sang Juara sesungguhnya adalah PSMS Medan.
Sebagai bukti dari keunggulan PSMS Medan atas Persija, Tim Nasional yang dibentuk PSSI beberapa bulan kemudian justru dihuni dan didominasi oleh pemain-pemain PSMS (6 pemain) dan Persija (2 pemain) serta tiga pemain dari tim perserikatan lainnya. Jelas bahwa kekisruhan pertandingan Persija vs PSMS akibat wasit yang kontroversial.
Duel 1954 walau harus berakhir akibat ulah wasit yang kontroversial namun inilah yang oleh beberapa media disebut awal “rivalitas hebat” antara PSMS dengan Persija hingga muncul istilah “musuh bebuyutan” diantara kedua tim hingga era tahun 70-an dan awal 80-an. (*)






