Pada awal kedatangannya Lionel Messi itu sempat tak kerasan di Spanyol. Ia homesick. Sering kali ia menangis sebelum tidur. Messi kecil rindu berat pada ibunya. Tak mudah baginya berpisah dengan sang bunda di usia yang masih belia. Tak jarang ia menangis di kamarnya hingga oleh teman-temannya sering dianggap “cengeng”. Namun demi karir dan masa depannya perlahan tapi pasti anak cengeng itu berubah menjadi anak yang tegar demi mencapai cita-citanya.
Usai masuk akademi Barca, Messi bergabung dengan tim Infantil B, Cadete B dan A dari 2000 hingga 2003. Ia sempat hampir dilepas Barca pada 2003 karena masalah finansial. Tapi, para pelatih tim yunior tak setuju jika Messi dilepas. Akhirnya rekan seangkatan Messi di akademi Barcelona Cesc Fabregas jadi salah satu pemain yang dilepas ke Arsenal waktu itu.
Pada musim 2003-2004, karier Messi meroket. Bakatnya yang gemilang membuat ia terus dipromosikan. Mulai dari tim Juvenil B (satu pertandingan, satu gol), Juvenil A (14 pertandingan, 21 gol), Barcelona C (10 pertandingan, lima gol) dan Barcelona B (lima pertandingan, tak ada gol).
Pada 16 November 2003, Messi mendapat kesempatan istimewa dengan diikutsertakan oleh Frank Rijkaard memperkuat Barcelona menghadapi Porto dalam pertandingan persahabatan. Saat itu usia Messi baru 16 tahun 145 hari. Walau Barcelona kalah 0-2 dalm pertandingan tersebut namun Rijkaard sangat terkesan dengaan aksi Messi di pertandingan tersebut.
Messi memang tampil menawan walau usianya masih sangat muda dan tidak kagok bermain bersama bintang-bintang besar seperti Ronaldinho,Victor Valdes, Xavi Hernandes dan lainnya. Rijkaard pun berjanji akan memberi kesempatan kepada Messi untuk tampil di tim utama Barcelona.

Pada 16 Oktober 2004, Rijkaard menepati janjinya dengan memainkan Messi saat menghadapi Espanyol dalam “Derby Catalan” di La Liga.Laga itu berlangsung di kandang Espanyol.Para penonton waktu itu dibuat terpana ketika di menit ke-82 Rijkaard menarik keluar bintang Barcelona Deco dan menggantikannya dengan seorang anak muda berambut gondrong bernomor punggung 30.
Publik bertanya-tanya seberapa hebat anak itu hingga dipercaya oleh Rijkaard menggantikan Deco yang malam itu mencetak gol kemenangan Barcelona. Messi masuk ke lapangan dengan penuh percaya diri.Walau tidak mendapat banyak menit bermain di laga derbi tersebut namun salah satu aksinya yang brilian dengan melewati Mauricio Pochettino nyaris berbuah gol.
