Dari etnis Makassar kita mengenal Saari. Dari Aceh ada Marzuki Nyakmad. Dari etnis India Tamil ada Tumsila, Raj Kumar, Jaya Silen, Puspanaden, Witya Fusen, Puspom dan lainnya. Dari Tionghoa ada Fungmin, Edward Liem, Liong Hong Cheng, Acong, Andreas, Anthonius Awie dan lainnya. Dari etnis Indo Belanda ada Arnold Van Der Vin, Pesch, Willem Kack, Benny Van Breukelen dan lainnya.
Jangan dilupakan di era 1969-1970 bintang-bintang Timnas dari berbagai daerah di Indonesia membela PSMS, seperti Soetjipto Soentoro, Judo Hadianto, Iswadi Idris, Anwar Ujang, Abdul Kadir, Jacob Sihasale dan lainnya.
Dan dalam diskusi dengan saya Judo Hadianto pernah menyebut “Ketika kami di Medan maka kami adalah anak Medan dan siapa pun lawan termasuk klub asal kami harus kami “ribak” karena di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”
Bahkan Anwar Ujang ketika Pardedetex yang waktu itu bernaung di PSMS vakum memilih tetap tinggal di Medan dan bermain di Bintang Utara hingga sempat menjadi Kapten PSMS. Bahkan ketika meninggal dunia dimakamkan di Medan dan bukan di Krawang yang merupakan tanah kelahirannya.
Begitu juga di era Liga Indonesia, di mana bintang asal Makassar Marwal Iskandar sempat begitu dipuja anak Medan karena permainannya yang keras dan ngotot khas anak Medan.
Jadi menurut saya mari kita hentikan statement yang cenderung ‘mengkotak-kotakkan’ etnis ketika bicara PSMS karena sesungguhnya Medan adalah rumah kita bersama dan PSMS adalah milik kita bersama.
PSMS adalah klub yang pantas dijuluki “Miniatur Sepakbola Indonesia” karena bintangnya dari berbagai macam latar belakang namun bisa bersatu padu membela kebesaran PSMS. Bahkan di Jawa para perantau Medan dan Sumut yang kebetulan dominan etnis Batak akan berduyun-duyun datang ke Stadion ketika PSMS bertanding walau hanya sedikit bintang PSMS dari etnis Batak dan Tapanuli karena bagi mereka bintang PSMS apa pun latar belakangnya adalah “Pahlawan Medan dan Sumut”. Jaya selalu PSMS Medan Kebanggaan Kita. (*)





