MEDANSPORT.ID – MEDAN – Kejayaan PSMS Medan yang dengan gemilang menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI tahun 1983 dan 1985 tidak lepas dari peran bintang – bintang muda yang berjaya membawa PSMS Jr menjuarai Piala Suratin 1980 dan lolos ke putaran Final 1982.
Tim PSMS Jr 1980 sukses menjadi Juara Piala Suratin 1980 setelah menaklukkan Persiter Ternate Jr 3-0 di Final. Nama – nama seperti : Bambang Usmanto, Ricky Yacob, Juanda, Eddy Harto, Supardi, Sutrisno, Musimin, Benny Van Breukelen, Taufik Azhari, Marzuki Nyakmad, Azhari Rangkuti, Syaiful Ramadhan dll mencuat dari skuad asuhan Eddy Simon dan Subekti ini.
Kesuksesan ini membuat empat bintangnya yaitu : Bambang Usmanto,Supardi, Juanda dan Ricky Yacob dipanggil oleh pelatih PSMS Senior waktu itu Yuswardi untuk tampil memperkuat PSMS di putaran Final Divisi Utama Perserikatan PSSI 1980. Walau gagal membawa PSMS menjadi juara namun kiprah bintang – bintang muda ini mendapat pujian dan banyak yang yakin mereka akan menjadi pilar utama kesuksesan PSMS di masa mendatang.
Demikian juga dengan kiprah bintang – bintang muda yang membela PSMS Jr di Piala Suratin 1982 juga mendapat apresiasi dari publik sepakbola Medan saat itu. Walau gagal mempertahankan gelar juara Piala Suratin yang duraih tahun 1980 namun skuad muda asuhan Subekti ini mendapat pujian. Marzuki Nyakmad dan Azhari Rangkuti yang kembali tampil di tim PSMS Jr 1982 ini kian bersinar. Demikian juga dengan beberapa bintang muda lainnya seperti : Donny Latuperissa, Fidel Ganis Siregar, Jaya Hartono, Liong Hong Cheng, Syamsir Alamsyah, Subono AT, Rony Syaifuddin, Sudarto, Suganda, Sulistyo, Patar Tambunan dll mendapat pujian dan diyakini akan bersinar.

Berdiri ki-ka: Sudarto (Perisai), Ronny Syaifuddin (Bintang Utara), Sulistyo (Pita Sutera), Syairul (Angkasa), Jaya Hartono (Bintang Selatan), Suganda (Putera Harapan), Riswan Effendy (Medan Putera/ Kinantan), Simon Pramono (Kejora), Subono AT (Perisai), Rayadi Fitra (Putera Harapan).
Jongkok ki-ka : Liong Hong Cheng (Kejora), Zainuddin (Bintang Selatan), Marzuki Nyakmad (Pita Sutera), Donny Erikson Latuperissa (Pita Sutera), Fidel Ganis Siregar (Medan Putera/ Kinantan), Setujuwono (Pita Sutera), Legimin (Pita Sutera), Puji Harsoyo (Sahata).
Dan itu terbukti di kemudian hari. Ketika PSMS Medan sukses menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI pada 1983 setelah menaklukkan Persib Bandung di Final 3-2 lewat drama adu penalti tiga bintang muda yaitu : Bambang Usmanto, Musimin dan Marzuki Nyakmad menjadi bintang yang tampil gemilang di Final.
Marzuki Nyakmad yang saat itu baru berusia 19 tahun tampil gemilang di jantung pertahanan PSMS berduet dengan seniornya Sunardi A. Marzuki Nyakmad bahkan sukses mematikan pergerakan bintang Persib Adjat Sudrajat. Demikian juga dengan aksi Bambang Usmanto di lini tengah dan Musimin di lini depan PSMS yang saat itu dilatih oleh Trio Wibisono, Zulkarnaen Pasaribu dan Parlin Siagian ini.
Demikian pula pada 1985 Musimin, Taufik Azhari dan Rony Syaifuddin menjadi bagian dari skuad PSMS yang menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI setelah di Final menaklukkan Persib 2-1 lewat drama adu penalti setelah bermain imbang 2-2 dalam babak normal dan perpanjangan waktu. Saat itu PSMS dilatih oleh Parlin Siagian dan Sunardi B yang menjadi asisten pelatih merangkap Kapten Tim.
Di PON 1985 Musimin,Juanda dan Sutrisno berperan besar membawa Tim PON Sumut meraih Medali Emas setelah di Final menaklukkan Irian Jaya (Papua) 3-2 dalam drama adu penalti.
Demikian juga di PON 1989 Bambang Usmanto Sutrisno dan Subono AT berperan besar membawa Tim PON Sumut meraih Medali Emas setelah di Final menaklukkan Jawa Timur 2-1.
Dan sejarah juga membuktikan beberapa bintang PSMS di Piala Suratin 1980 dan 1982 ini kelak berjaya di Timnas seperti : Ricky Yacob, Marzuki Nyakmad, Sutrisno, Azhary Rangkuti, Patar Tambunan dan Jaya Hartono yang sukses membawa Timnas meraih Medali Emas SEA Games 1987 dan lolos ke Semifinal Asian Games 1986 di Seoul.
Demikian juga dengan Eddy Harto yang sukses membawa Timnas meraih Medali Emas SEA Games 1991 di Manila.
Beberapa nama lain seperti Benny Van Breukelen (kiper), Supardi, Syaiful Ramadhan Langkat Sembiring, Suganda dan Donny Latuperissa sukses menorehkan prestasi gemilang di klub – klub mereka baik di Perserikatan maupun Galatama hingga akhirnya sempat juga memperkuat Timnas pada era 80-an dan awal 90-an.

Sisi kiri : Jaya Hartono,Indra Efendi Rangkuti,Musimin,Bambang Usmanto dan Sulistiyo.
Sisi kanan : Liong Hong Cheng,Fidel Ganis Siregar,Subono AT, dan Sudarto
Momen istimewa inilah yang terpatri indah di hati mereka hingga membuat hubungan silaturahmi diantara mereka yang kuat menjadikan mereka seperti keluarga. Mereka hingga kini tidak lupa bahwa mereka lahir, dibina dan dibesarkan oleh PSMS hingga mereka sukses meraih kesuksesan dalam karir sepakbola mereka baik bersama PSMS, Timnas dan klub – klub lain yang mereka bela sesudah mereka hijrah dari PSMS.
Momen itulah yang menyatukan hati mereka untuk kembali bersilaturahmi sekaligus reuni kecil pada 9 Mei 2026 di restoran legendaris Medan yaitu Tip Top yang berada di Kesawan Medan.
Jaya Hartono yang baru menyelesaikan kontraknya sebagai pelatih Persiraja di Liga 2 singgah ke kampung halamannya di Medan untuk bersilaturahmi dengan keluarganya sekaligus berziarah ke makam orang tuanya berinisiatif menghubungi dua rekan setimnya di PSMS Jr 1982 yaitu Subono AT dan Fidel Ganis Siregar untuk mengajak rekan – rekan mereka di PSMS untuk bersilaturahmi sekaligus reuni kecil. Akhirnya dalam pertemuan tersebut hadir Bambang Usmanto dan Musimin (PSMS Jr 1980) dan bintang – bintang PSMS Jr 1982 yaitu : Jaya Hartono, Subono AT, Fidel Ganis Siregar, Liong Hong Cheng, Sudarto, Sudarto dan Liong Hong Cheng.
Suasana akrab dan penuh haru mewarnai silaturahmi mereka yang sudah lama tidak bertemu ini. Banyak hal yang mereka bahas dalam silaturahmi yang penuh kekeluargaan ini.
Selain cerita mengenai masa – masa ketika mereka membela PSMS seperti ketika seleksi untuk masuk tim PSMS, pemusatan latihan di Stadion Kebun Bunga hingga masa – masa ketika membela PSMS baik di Piala Suratin maupun ketika membela PSMS Senior.
Demikian juga masa – masa ketika mereka mengenang ketatnya persaingan di kompetisi antar klub PSMS. Kompetisi yang ketat dan sportif inilah yang menempa mereka hingga akhirnya sukses menembus skuad tim PSMS.
Jaya Hartono, Fidel Ganis Siregar, Subono AT, Sudarto, Sulistyo dan Liong Hong Cheng mengenang masa – masa ketika mereka membela PSMS Jr mulai dari penyisihan Piala Suratin 1981 hingga putaran Final pada 1982 di Jepara.
Demikian juga dengan kenangan Bambang Usmanto dan Jaya Hartono yang membela PSMS di Piala Marah Halim tahun 1983. Saat itu skuad PSMS yang dilatih legenda PSMS Ipong Silalahi sukses lolos ke Final. Momen ketika PSMS menaklukkan Irak 1-0 di Semifinal terpatri dalam ingatan keduanya. Termasuk momen ketika dokter tim Marah Ganti Siregar yang juga ayahanda dari Fidel Ganis Siregar menunaikan nazarnya untuk tidur di Lapangan Kebun Bunga usai Sholat Isya hingga Shubuh untuk merayakan kesuksesan tersebut Sayang saat di Final PSMS takluk 1-3 dari Korea Selatan.
Demikian juga momen ketika Final PON 1989 yang mempertemukan Sumatera Utara dengan Jawa Timur. Bambang Usmanto dan Subono AT yang saat itu membela Sumatera Utara berhadapan dengan Jaya Hartono yang membela panji Jawa Timur. Mereka bertarung dengan sportif walau mereka sama – sama dibesarkan oleh PSMS. Akhirnya tim Sumatera Utara yang saat itu dilatih oleh legenda PSMS dan Timnas Nobon yang didampingi Sunardi B sukses meraih Medali Emas setelah menaklukkan Jawa Timur 2-1 di Final.
Jaya Hartono memuji peran Bambang Usmanto dan Subono AT dalam pertandingan itu. Walau sempat beberapa kali terjadi benturan diantara mereka dalam pertandingan tersebut namun ketika pertandingan usai mereka adalah sahabat.
Jaya Hartono juga mengenang kebanggaannya sebagai mantan binaan PSMS ketika Timnas di Asian Games 1986 di Seoul didominasi anak – anak Medan yang pernah dibina oleh PSMS Medan. Sosok – sosok tersebut adalah : Ponirin Meka, Marzuki Nyakmad, Patar Tambunan, Jaya Hartono, Ricky Yakob dan Zulkarnaen Lubis. Selain itu terdapat tiga bintang PSMS yaitu : Abdul Rahman Gurning, Sutrisno dan Sumardi ditambah putra Sumut lainnya yaitu Saut Lumbantobing. Saat itu Timnas lolos hingga Semifinal dan menduduki peringkat empat.
Demikian juga ketika Timnas pertama kali merebut Medali Emas di SEA Games 1987 yang digelar di Jakarta.Saat itu selain bintang PSMS Sutrisno, Timnas juga didominasi anak – anak Medan yang pernah dibina PSMS yaitu : Ponirin Meka, Patar Tambunan, Jaya Hartono, Azhari Rangkuti, Marzuki Nyakmad dan Ricky Yacob. Selain itu juga ada bintang Arseto Solo yang di awal karirnya dibina di PSKB Binjai yaitu Nasrul Koto.
Suasana haru juga meliputi pertemuan tersebut ketika saya menghubungkan mereka melalui video call dengan senior mereka di PSMS yaitu : Yuswardi dan Sunardi B.
“Tetap jaga silaturahmi dan kekompakan kalian sebagai mantan bintang PSMS. Dan jangan lupa berikanlah support agar PSMS yang telah membesarkan kita bisa kembali ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Sedih kita melihat kondisi PSMS saat ini” ujar Yuswardi kepada para juniornya tersebut.
Ketika menyinggung tentang kondisi PSMS saat ini raut sedih terpancar di wajah mereka.

“Sejak 1984 memang saya sudah merantau meninggalkan PSMS dengan bermain di Persija Jakarta Barat, Niac Mitra, Petrokimia Putra dan berbagai klub lainnya. Namun saya tidak memungkiri kesuksesan saya di klub hingga sukses menembus Timnas tidak lepas dari tempaan yang saya terima di PSMS Medan. Maka itu saya sedih melihat kondisi PSMS yang saat ini berada di luar kasta tertinggi sepakbola Indonesia” ujar Jaya Hartono.
Bambang Usmanto dalam kesempatan tersebut berkata “Sedih memang melihat kondisi PSMS saat ini. Oleh karena itu kita sebagai mantan pemain yang dibesarkan oleh PSMS tentu harus memberi kritik yang membangun untuk PSMS walau yang membuat kecewa masukan kita belum tentu didengar oleh PSMS” ujarnya.
Kekecewaan juga terpancar di wajah mereka ketika PSMS merayakan ulang tahun ke-76 pada 21 April 2026 lalu tidak ada mantan bintang dan legenda PSMS yang diundang untuk hadir. PSMS ini memiliki sejarah besar dan panjang di persepakbolaan Indonesia. Bahkan banyak bintangnya yang bukan hanya menjadi legenda di PSMS tetapi juga di Timnas. Tentu sosok seperti : Yuswardi,Nobon, Tumsila, Sunardi A, Sunardi B dan legenda lainnya pantas untuk dihadirkan dalam momen tersebut ujar mereka.
Tak lupa dalam kesempatan silaturahmi ini mereka mengenang sosok – sosok pembina PSMS yang telah wafat. Demikian juga dengan senior dan rekan – rekan mereka di PSMS Medan yang telah berpulang ke Rahmatullah seraya berdoa agar sosok – sosok tersebut diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tidak lupa dalam silaturahmi ini mereka membahas kondisi terkini sepakbola Nasional. Apalagi Jaya Hartono baru saja menjalani kompetisi Liga 2 dengan melatih Persiraja. Demikian juga tata kelola persepakbolaan Nasional oleh PSSI. Tentu degan harapan kondisi akan lebih baik sehingga persepakbolaan Nasional akan lebih maju dalam pengelolaannya.
Fidel Ganis Siregar yang juga meeupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran USU dan pernah menduduki jabatan Wakil Rektor II dan Sekretaris USU mendapat apresiasi dari Jaya Hartono dan rekan – rekannya. Ini disebabkan di sela – sela kesibukannya pada tahun 2018 masih menyempatkan diri mengikuti kursus pelatih lisensi C AFC pada 2018 dengan instruktur mantan pelatih Timnas Sutan Harhara dan berhasil lulus dengan baik. Demikian juga kiprahnya dalam membina sepakbola usia muda dengan menjadi pembina PS Keluarga USU dan sukses membina PSMS Jr di Piala Suratin pada 2016 dan 2017 serta kiprahnya sebagai pengurus Asprov PSSI Sumut beberapa waktu lalu.

Jaya Hartono yang memiliki karir gemilang sebagai pelatih terutama di Persik Kediri dan Persib Bandung mendapat pujian dari rekan – rekannya tersebut. Apalagi kisah sukses Jaya Hartono yang menemukan bakat Hariono yang mulanya karyawan mini market hingga akhirnya sukses terutama ketika di Persib bahkan sukses pula menembus Timnas. Kemampuan dan prestasi Jaya Hartono ini mendapat apresiasi dari rekan – rekannya.
Secara santai bintang – bintang yang hadir bertanya kepada Jaya Hartono “Siap gak Jaya kalau suatu saat diminta melatih PSMS” ujar mereka kepada Jaya Hartono.
Jaya Hartono sambil tersenyum menjawab : “Jika ada kesempatan tentu saya siap melatih tim kebanggaan kita PSMS. Tapi tentunya ini bergantung kepada manajemen PSMS untuk berdiskusi lebih lanjut dengan saya nantinya”
“Kalau jadi melatih PSMS tentu kita lebih sering bertemu dengan Jaya Hartono”ujar Subono AT dan Sulistiyo yang disambut tawa akrab dari Sudarto, Fidel Ganis Siregar, Liong Hong Cheng, Musimin dan Bambang Usmanto.
“Saya berterimakasih kepada rekan – rekan sekalian yang hadir pada silaturahmi kita ini dan semoga persahabatan dan persaudaraan kita tetap terjalin baik” ujar Subono AT mengskhiri pertemuan.
“Kalau kalian ke Jawa Timur jangan sungkan hubungi aku ya”ujar Jaya Hartono sambil tertawa.
Silaturahmi ini diakhiri dengan pelukan hangat diantara mereka sebagai bukti persahabatan dan persaudaraan mereka sebagai mantan pemain PSMS tetap terjaga dengan baik selama puluhan tahun.





