Oleh : Indra Efendi Rangkuti

MEDANSPORT.ID – MEDAN – Setelah pertama kali dipertandingkan secara resmi di Olimpiade Barcelona 1992, untuk ketiga kalinya bulutangkis kembali dipertandingkan di Olimpiade Sydney 2000. Dan Indonesia kembali menaruh harapan besar untuk kembali mengulangi sukses yang diraih di Olimpiade Barcelona 1992 dan Atlanta 1996.

Bulutangkis di Olimpiade Sydney digelar pada 17  – 23 September 2000 di Pavilion 3, Sydney Olympic Park. Bulutangkis  waktu itu menggelar 5 nomor pertandingan yaitu tunggal putra,tunggal putri,ganda putra,ganda putri dan ganda campuran.Ganda putra saat itu menjadi salah satu andalan utama Indonesia untuk merebut medali emas.

Indonesia saat itu meloloskan 3 pasangan yaitu Candra Wijaya/Tony Gunawan, Ricky Achmad Soebagdja/Rexy Ronald Mainaky dan Flandy Limpele/Eng Hian. Kegemilangan ketiga pasangan ganda putra terbaik Indonesia tersebut pada periode 1998-2000 membuat PB PBSI berharap besar ketiga pasangan Indonesia tersebut bisa menyumbangkan Medali Emas untuk kontingen Indonesia.

Saat itu Candra Wijaya/Tony Gunawan yang menduduki peringkat 1 dunia lebih diunggulkan untuk berjaya dan meraih medali emas ganda putra di Olimpiade 2000. Selain itu Ricky/Rexy yang merupakan peraih Medali Emas di Olimpiade Atlanta 1996 juga menjadi kandidat untuk mempertahankan gelar.Candra Wijaya/Tony Gunawan bahkan sejak 1999 konsisten berada di peringkat 1 dunia dan sukses meraih Juara All England 1999, World Grand Prix Final 1999 dan turnamen lainnya.

Bagi Ricky /Rexy ini adalah kali ketiga mereka berlaga di Olimpiade, sebelumnya mereka tampil di Olimpiade Barcelona 1992 dan Atlanta 1996. Sedangkan Candra/Tony dan Flandy/Eng Hian ini adalah kali pertama berlaga di Olimpiade.

Kesuksesan Indonesia yang meloloskan 3 pasangan ganda putra ke Olimpiade Atlanta ini tidak lepas dari tangan dingin Direktur Pelatnas PBSI Christian Hadinata, pelatih ganda putra Indonesia Herry Iman Pierngadi (Herry IP) serta pelatih fisik Paulus Pesurnay. Berkat polesan mereka ketiganya berada di papan atas ganda putra dunia saat itu.

Sepanjang 1998 – 2000 ketiga pasangan ganda putra Indonesia kerap tampil di podium juara turnamen bulutangkis dunia.Terutama yang paling menonjol adalah Candra/Tony. Dominasi Candra/Tony sendiri mengingatkan publik pada kejayaan Ricky/Rexy di era 90-an.

Padahal terbentuknya pasangan Candra Wijaya/Tony Gunawan tidak terlepas dari insiden kasus doping yang menimpa Sigit Budiarto.Awalnya Candra Wijaya berduet dengan Sigit Budiarto dan Tony Gunawan berduet dengan Halim Haryanto. Kedua pasangan ini juga sama – sama berada di papan atas bulutangkis dunia pada 1998.

Namun seusai menjuarai Singapore Open 1998 Sigit Budiarto terkena kasus doping dan diskorsing selama 13 bulan. Akhirnya demi mengamankan kesempatan meraih Medali Emas Olimpiade 2000 Candra Wijaya diduetkan dengan Tony Gunawan. Keduanya sempat diduetkan ketika tampil di Copenhagen Master 1997, Swedish Open 1998 dan All England 1998 ketika Sigit Budiarto cedera. Hasilnya Candra/Tony menjadi Juara di Copenhagen Master 1997 dan Swedish Open 1998 serta menjadi Runner Up All England 1998.

Melihat potensi inilah maka Candra Wijaya kemudian diduetkan dengan Tony Gunawan.Sedangkan Sigit Budiarto usai bebas dari skorsing diduetkan dengan Halim Haryanto. Candra/Tony memang terlihat tampil klop dan langsung merangsek ke papan atas bulutangkis dunia.

Di Thomas Cup 2000 Candra/Tony dan Ricky/Rexy juga menjadi kekuatan utama yang turut menghantarkan Indonesia kembali merebut Juara Thomas Cup setelah di Final menaklukkan China 3-0. Kondisi ini membuat keyakinan Pemerintah, KONI dan pengurus PB PBSI bahwa ganda putra akan berjaya di Olimpiade Sydney 2000.

Candra/Tony sendiri tahun 2000 sebelum digelarnya Olimpiade sukses menjadi Juara di Chinese Taipei Open 2000, Japan Open 2000 dan Indonesia Open 2000. Ricky/Rexy pada tahun 1999 sukses menjadi Juara Indonesia Open dan Runner Up Korea Open 2000. Flandy Limpele/Eng Hian sukses menjuarai Malaysia Open 2000 dan menjadi Runner Up Indonesia Open 2000. Sayangnya di All England 2000 ketiga pasangan ganda putra Indonesia ini gagal meraih Juara.

Direktur Pelatnas PBSI Christian Hadinata dan pelatih ganda putra Indonesia Herry IP meminta anak – anak asuhnya untuk tidak jumawa karena pasangan – pasangan negara lain akan tampil penuh motivasi dan siap menaklukkan ketiganya. Saat itu ada beberapa pasangan yang diperkirakan akan menjadi “rival berat” bagi ketiga pasangan Indonesia tersebut. Pasangan tersebut antara lain adalah Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung (Korea Selatan), Ha Tae Kwon/Kim Dong Moon (Korea Selatan), Chong Tan Fook/Lee Wan Wah (Malaysia), Jens Eriksen/Jesper Larsen (Denmark), Simon Archer/Nathan Robertson (Inggris) dll.

Diantara mereka dua pasangan Korea Selatan Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung dan Ha Tae Kwon/Kim Dong Moon adalah pasangan yang kerap menjadi batu sandungan bagi ganda putra Indonesia. Di All England 2000 kedua pasangan tersebut bahkan sama – sama tampil di Final dan Ha Tae Kwon/Kim Dong Moon tampil sebagai Juara. Namun posisi Candra/Tony yang menduduki peringkat 1 dunia saat itu membuat mereka lebih difavoritkan untuk meraih Medali Emas Olimpiade Sydney 2000.

Candra/Tony,Ricky/Rexy dan Flandy/Eng Hian mendapat bye di babak pertama Olimpiade Sydney 2000.Candra/Tony menghadapi pasangan Denmark Jim Laugesen/Michael Sogaard di babak kedua. Candra/Tony tanpa kesulitan berarti menaklukkan pasangan Denmark tersebut dengan straight set 15-9 dan 15-7 dan melangkah ke babak 8 besar..

Ricky/Rexy memulai langkahnya di Olimpiade Sydney dengan menghadapi Martin Lundgard Hansen/Lars Paaske. Ricky/Rexy sempat mendapat perlawanan keras namun akhirnya berhasil menaklukkan pasangan Denmark tersebut dengan rubber set 15-12,13-15 dan 15-7 dan melangkah ke babak 8 besar.

Flandy Limpele/Eng Hian memulai langkahnya di Olimpiade Sydney dengan menghadapi Peter Axelsson/Par Gunar Jonsson. Dengan gemilang Flandy/Eng Hian menaklukkan pasangan Swedia tersebut dengan straight set 15-12 dan 15-11 dan melangkah ke babak 8 besar.

Di babak 8 besar Candra/Tony berhadapan dengan Simon Archer/Nathan Robertson. Dengan meyakinkan Candra/Tony menaklukkan pasangan Inggris tersebut dengan  straight set  15-13 dan 15-11 dan melangkah ke Semifinal.

Di babak 8 besar Ricky/Rexy berhadapan dengan Ha Tae Kwon/Kim Dong Moon. Namun sayang langkah Ricky/Rexy terhenti setelah takluk dari pasangan Korea Selatan tersebut dengan straight set 5-15 dan 9-15. Kekalahan ini cukup mengecewakan bagi Ricky/Rexy karena memupus harapan mereka untuk mempertahankan Medali Emas yang mereka peroleh di Olimpiade Atlanta 1996 (bersambung)

Bagikan: