MEDANSPORT.ID – MEDAN – Piala Suratin 1967 menjadi bukti kejelian Legenda PSMS Medan dan Timnas Indonesia Ramli Yatim sebagai pelatih dalam melihat bakat dan potensi pemain. Salah satu yang paling berkesan adalah keberanian Ramli Yatim memilih Sarman Panggabean di lini tengah menggantikan Aswin yang tadinya pilihan utama dalam tim. Kehadiran Sarman Panggabean membuat permainan PSMS Jr di lini tengah lebih hidup.
Piala Suratin 1967 ini juga menyimpan cerita tentang Kiper PSMS Jr Ronny Pasla. Awalnya Ronny Pasla tidak ikut dalam skuad PSMS Jr ini. Bahkan ketika kompetisi antar klub PSMS usai Ronny Pasla yang waktu itu membela Dinamo sempat berfikir untuk kembali menekuni Tenis Lapangan dan meninggalkan dunia sepakbola.
Namun suatu hari sahabatnya yang juga bintang PSMS Jr Chaliq Mazlan datang ke rumahnya di kawasan Kampung Dadap Medan. Tujuan Chaliq Mazlan datang adalah mengajaknya ke rumah Pelatih PSMS Jr Ramli Yatim. Rupanya permainan Sohir sebagai kiper PSMS Jr ketika PSMS Jr takluk 1-2 dari PSKTS Jr kurang memuaskan Ramli Yatim. Di saat itu pula Chaliq Mazlan merekomendasikan agar Ronny Pasla direkrut.
Ramli Yatim Meminta Chaliq Mazlan untuk membawa Ronny Pasla menemui dirinya. Pada awalnya Ronny Pasla sempat bimbang karena sudah lama tidak berlatih sebagai kiper dan Tim PSMS Jr sudah terbentuk serta sudah bertanding.
“Aku udah lama gak latihan sebagai kiper Chaliq.Lagipula tim sudah terbentuk dan sudah bertanding.Aku gak mau merusak tim” ujar Ronny Pasla.
Namun Chaliq Mazlan berhasil meyakinkan Ronny Pasla untuk ikut dengannya.”Ronny, justru aku diminta Pak Ramli Yatim untuk mengajakmu gabung dalam tim. Kawan – kawan juga menyambutmu dengan tangan terbuka kok” ujar Chaliq Mazlan meyakinkan Ronny Pasla.
Chaliq Mazlan kemudian membonceng Ronny Pasla menemui Ramli Yatim. Ternyata Ramli Yatim Menyambut Positif kedatangan Ronny Pasla. ”Besok kamu mulai ikut latihan ya Ronny” ujar Ramli Yatim.

Susunan Dalam Foto : Berdiri Ki-Ka : Jusuf (Staf Team) Tjitjin Alamsyah, Adi, Nobon, Tumsila, Chaidir, Mataniari ( Asisten Pelatih )
Jongkok Ki-Ka : Ruslan (Putra Ramli Yatim ), Chaliq Mazlan, Sarman Panggabean, Sohir, Ashoka Linggam (Cpt), Ronny Pasla, Alfaris Siwabessy, Sen Chong (Jusly Jacob)
Begitu melihat aksi Ronny Pasla, Ramli Yatim langsung terpukau. ”Bagus Ronny. Permainanmu cukup meyakinkan. Jaga kepercayaan saya ya Ronny” ujar Ramli Yatim sambil menepuk bahu Ronny Pasla.
Kemudian Ramli Yatim meminta Pengurus PSMS Medan untuk mendaftarkan Ronny Pasla untuk ikut memperkuat PSMS Jr di Piala Suratin 1967 ini. Dan Ronny Pasla dipercaya tampil ketika melawan PSDS Jr. Dan akhirnya Ronny Pasla membayar kepercayaan ini dengan aksi gemilang dan memukau yang membawa PSMS Jr menaklukkan PSDS Jr.
Sejak itu Ronny Pasla terus dipercaya oleh Ramli Yatim sebagai kiper utama PSMS Jr hingga akhirnya PSMS Jr lolos ke putaran Final Piala Suratin 1967 ini. Dan akhirnya PSMS Jr tampil memukau di putaran Final ini dan akhirnya berhadapan dengan Persija Jr di Final.
Di Final Yang Berlangsung Di Stadion Menteng 26 April 1967 PSMS Jr berahadapan dengan Sang “Musuh Bebuyutan” Persija Jr. Laga berlangsung ketat dan keras. Stadion Menteng terbelah dengan dukungan suporter kedua tim.
Yang unik selain didukung warga Sumut yang merantau di Jakarta, PSMS Jr juga didukung perantau asal Maluku. Hingga kini tidak ada yang tahu alasan kenapa perantau asal Maluku ini mendukung PSMS Jr. Mungkin karena PSMS Jr diperkuat oleh salah satu Centre Back handal yang kebetulan berdarah Maluku yaitu Alfaris Siwabessy yang tampil memukau bersama duetnya di jantung pertahanan PSMS Jr yang berdarah Tionghoa Sen Chong (Jusly Jacob).

Pada pertengahan babak pertama centre back PSMS Jr Alfaris Siwabessy dikeluarkan karena dianggap bermain kasar hingga akhirnya PSMS Jr harus bermain dengan 10 Pemain. Emosi Alfaris Siwabessy tidak bisa ditahan karena sepanjang pertandingan pemain – pemain PSMS Jr selain dipancing bermain keras juga diteror penonton dengan ejekan bahkan lemparan. Alfaris sempat protes ke wasit dan pengawas pertandingan namun tidak direspon.
Namun PSMS tidak gentar walau bermain dengan 10 pemain. Ronny Pasla tampil cemerlang di bawah mistar menghalau serangan lawan. Demikian juga dengan Sen Chong yang dibantu Sarman Panggabean dan Nobon dalam menjaga lini pertahanan setelah keluanya Alfaris.
Dan terbukti PSMS Jr mampu menahan Persija Jr 0-0 hingga pertandingan usai dan dilanjutkan perpanjangan waktu 2×15 menit. Kiper PSMS Jr Ronny Pasla menjadi bintang dalam duel ini dengan aksi gemilangnya di bawah mistar. Hingga akhir pertandingan skor tetap 0-0.
Karena hari sudah jelang gelap dan Stadion Menteng tidak memiliki penerangan yang layak akhirnya diputuskan PSMS Jr dan Persija Jr menjadi Juara Bersama. Dan setelah diundi muncullah ketentuan 6 Bulan pertama Piala diboyong ke Medan dan 6 Bulan kedua Piala diboyong ke Jakarta.

“Kalau bukan karena Chaliq Mazlan mengajak saya menemui Pak Ramli Yatim belum tentu saya jadi Kiper Utama PSMS Medan dan kelak Kiper Timnas.Dan mungkin saya sudah memilih meninggalkan sepakbola dan menekuni kembali tenis” ujar Bang Ronny Pasla kepada saya.
“Demikian juga dengan Pak Ramli Yatim yang mempercayai saya sebagai Kiper Utama PSMS Jr waktu itu. Sampai kapanpun saya tidak akan lupa jasa Pak Ramli Yatim dan sahabatku Chaliq Mazlan kepada saya” Ujar Bang Ronny Pasla dengan terharu kepada saya.
Dan kelak bintang – bintang PSMS Jr 1967 ini yaitu : Ronny Pasla, Sarman Panggabean, Tumsila dan Chaliq Mazlan menjadi pilar – pilar utama yang memperkuat PSMS Sr di Kejurnas PSSI 1967 dan akhirnya sukses membawa PSMS Sr menjadi Juara Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI 1967 setelah di Final menaklukkan Persib Bandung dengan skor 2-0 lewat gol yang dicetak Zulkarnaen Pasaribu dan A. Rahim.

Berdiri Kika : Yuswardi, Muslim, Sukiman, Ronny Pasla, Sunarto,Sarman Panggabean.
Jongkok Kika : Azis Siregar,Chaliq Mazlan, Achmadsyah “Ipong” Silalahi, Syamsuddin Panjaitan, A Rahim.
Belakangan Nobon juga ikut dipromosikan ke tim PSMS Sr pada 1969 dan bersama rekan – rekan seangkatannya di PSMS Jr 1967 Ronny Pasla,Sarman Panggabean dan Tumsila menjadi pilar utama kejayaan PSMS dan Timnas di akhir era 60-an hingga pertengahan 70-an.





