Akibat insiden itu Iswadi Idris ditarik keluar dan digantikan oleh rekan setimnya di Persija Surya Lesmana. Pertandingan pun berlangsung tetap dengan tempo tinggi tapi tidak ada insiden keributan. Hingga akhirnya wasit R Hatta meniup peluit Panjang tanda pertandingan berakhir skor 3-2 tetap tidak berubah untuk keunggulan Santos FC.

Seusai pertandingan Pele dan rekan-rekannya terlihat akrab dengan para pemain Timnas dan tidak terlihat suasana panas yang nyaris memicu perkelahian yang terjadi beberapa menit sebelumnya. Pele bahkan sempat bertukar kostum dengan Jacob Sihasale. Ketika diwawancarai seusai pertandingan Pele menyebut Kapten Timnas yang sukses mematikan pergerakannya Anwar Ujang sebagai pemain terbaik Timnas waktu itu.

Indonesia menyimpan kesan mendalam bagi Pele. Sambutan pecinta sepakbola yang meriah sejak mereka mendarat di Bandara Kemayoran sungguh berkesan baginya.Pada 9-11 Desember 1974 dalam rangka kampanye sepakbola Pele Kembali berkunjung ke Indonesia. Dan pada 10 Desember 1974, Pele bahkan bertemu dengan Presiden Soeharto.

Indra Efendi Rangkuti (penulis) bersama Ronny Pasla (baju kaos biru), kiper Timnas ketika Santos datang ke Indonesia 1972.

Saat itu Pele menyerahkan jersey Santos FC bernomor punggung 10 yang identik dengan dirinya kepada Presiden Soeharto. Kepada Presiden RI ke 2 itu, Pele juga memuji bahan lateks dari Indonesia sebagai bahan terbaik untuk bola.

“Selamat jalan Pele. Kenangan kejayaanmu akan tetap hidup di hati pecinta sepakbola di seluruh dunia,” akhiri Indra Efendi Rangkuti selaku Pemerhati Olahraga Sumut dan Staf Tax Centre USU ini. (*)

Bagikan: