Tak lama setelah artikel Hanot, giliran muncul beberapa jurnalis termasuk Jacques Ferran yang berisikan gagasan untuk melahirkan kompetisi sendiri. Atas dasar gagasan itulah, kemudian muncul ide cemerlang untuk mewujudkan turnamen dalam bentuk kompetisi bagi klub-klub terbaik Benua Biru.
Kompetisi ini awalnya ini disusun untuk mempertemukan 16 klub juara kompetisi domestik yang akan diadu dengan sistem gugur. Tanggapan positif yang berhasil diterima dari sebagian besar klub membuat Hanot dan Ferran percaya diri untuk mengadakan kongres pertama asosiasi sepakbola Eropa (UEFA) pada 2 Maret 1955 di Wina, Austria.
Pada Mei 1955, FIFA meminta UEFA untuk segera memberi lampu hijau dan mengambil alih kompetisi yang dianggap potensial tersebut. Di ronde pertama kompetisi, tidak dilakukan pengundian. Semua dilakukan berdasarkan mufakat 16 klub peserta karena operator dan jurnalis L’Equipe khawatir dua tim raksasa akan bertemu di awal kejuaraan.
Namun UEFA mengambil alih jalannya lanjutan kompetisi. Pada ronde berikutnya atau babak 8 besar, pihak UEFA mengadakan pengundian di Brussels, Belgia. Musim perdana pada 1955/1956 terbilang sukses. Hal ini terlihat dari hadirnya rata-rata 30 ribu penonton di setiap laga.
Laga puncak European Champions Club Cup (Piala Champions) edisi pertama akhirnya dilangsungkan di Stadion Parc des Princes, Paris, Prancis pada 13 Juni 1956. Saat itu, Real Madrid sukses mengalahkan Stade de Reims dengan skor 4-3 dan keluar sebagai juara. Pada tahun 1992, UEFA mengganti nama kompetisi Piala Eropa menjadi Liga Champions.
Sejak kompetisi berubah menjadi Liga Champions, banyak aturan dan format yang diganti di musim 1992/1993 termasuk hak siar dan pemasaran. Saat ini Real Madrid masih menjadi juara bertahan dengan status sebagai peraih gelar terbanyak dengan 14 trofi.





