MEDANSPORT.ID – MEDAN – Juwita Niza Wasni, pewushu Kota Medan berhasil merengkuh medali emas di PON XX/2021 Papua pada nomor nomor kombinasi Nanquan dan Nan Dao setelah usai meraih total poin tertinggi 19.37. Keberhasilan tersebut berkat disiplin penerapan Protokol Kesehatan (Prokes) selama latihan dan saat bertanding.
Ia pun merasa sangat gembira karena kembali berhasil mendapatkan medali emas terakhirnya di masa Pandemi Covid-19. “Senang ya sebenarnya, karena mungkin ini jadi PON saya yang terakhir di masa Pendemi Covid-19 yang melanda tanah air yang belum berakhir saat ini. Soalnya saya sudah mengikuti lima kali pergelaran PON ini dari tahun 2006 sampai 2021,” ungkapnya.
“Alhamdulillah saya tutup dengan hasil yang sangat memuaskan tentunya hasil diraih berkat disiplin Prokes sesuai anjuran pemerintah dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas,” ujar cewek semampai ini yang akrab disapa Niza, Jum’at (7/1/2022).
Ia menuturkan, perhelatan PON XX di Papua yang seharusnya digelar tahun 2020 harus ditunda disebabkan pandemi Covid-19 melanda dunia termasuk tanah air pada tahun 2021 perhelatan pesta olahraga nasional ini baru digelar. Hal ini membuat dirinya harus waspada agar terhindar dari paparan virus Covid-19.
“Sejak pandemi melanda kegiatan latihan jadi terganggu sesuai arahan pelatih melakukan latihan mandiri dengan mengirim vidio latihan kepada pelatih. Selain itu, pelatih mengintruksikan agar tetap di rumah kalau ada kebutuhan mendesak ingin keluar rumah wajib memakai masker,” tuturnya
Ditambahkan, pelatih tetap mengingat agar rajin mencuci tangan, saat di tempat umum menjaga jarak minimal 1 meter, menghindari untuk berkumpul dengan kawan-kawan yang gak ada manfaatnya. Semua instruksi pelatih dijalankan dengan misi agar terhindar dari paparan virus Covid-19. Apalagi di luar rumah saat bertemu dengan seorang khawatir orang tersebut orang tanpa gejala.
Sambungnya, seiring perjalanan waktu di masa Pandemi sebagai persiapan menuju PON Papua para atlet sebelum memasuki Pelatihan Daerah (Pelatda) penuh semua atlet menerima suntikan vaksin tahap 1 dan 2. Selain itu atlet yang mengikuti Pelatda seminggu sekali di swab. Intinya para atlet yang akan berlaga di PON Papua harus streril dari virus Covid-19.
Setelah sukses mendapatkan medali emas, Niza memutuskan untuk pensiun dari dunia wushu. “Perasaan saya sedih ya, yang pasti soalnya jiwa saya sih sebenarnya pengen tetap bertanding. Tapi, umur tidak bisa bohong. Saya juga ingin memberikan kesempatan kepada generasi-generasi penerus saya. Jadi saya memutuskan untuk pensiun dan mengingat kepada atlet harus disiplin Prokes untuk menuai prestasi,” terangnya.
Dari dalam lubuk hatinya, Niza mengaku sangat berat untuk meninggalkan dunia wushu. Ia pun berfikir akan mengambil kepelatihan. “Mungkin selanjutnya saya akan berkarir di dunia kepelatihan. Tapi kan perasaan meninggalkan dunia atlet sangat berat bagi saya. Karena, secara hati nurani masih ingin tetap menjadi atlet,” tambah alumni UMSU ini.
Dia berharap ke depannya bisa berkarir sebagai pelatih sembari menjalankan profesinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Saya mohon maaf kepada semua pihak kalau ada salah-salah, dan saya juga berterima kasih atas semua atensi dan dukungan yang diberikan selama ini. Khususnya kepada Pengrov Wushu Indonesia Sumatera Utara dan KONI Sumatera Utara yang memberikan support agar atlet disiplin Prokes sebagai wujud untuk mendukung program pemerintah menekan penyebaran virus Covid-19,” katanya.
Putri bungsu dari lima bersaudara buah hati pasangan Wasit Amin dan Zainab ini menyebut selama menjadi atlet mempersembahkan tiga emas dan satu perak di tiga SEA Games yakni Myanmar Tahun 2013, Singapura 2015 dan Malaysia 2017. Selain itu mempersembahkan medali emas di Asian Games Incheon 2014 dan juara Dunia Wushu 2015.
“Saya berharap, raihan medali emas ini bisa membahagiakan semua pihak, baik keluarga, Pengprov WI Sumut, KONI Sumut dan juga Master Supandi Kusuma yang sangat baik dan berjasa,” ujar Niza.
Alumni Fakultas Ekonomi UMSU ini lebih lanjut mengatakan, perjuangannya untuk mendapatkan emas PON Papua sangat berat. Ia bahkan sempat khawatir, bisa atau tidak turun bertanding. “Sesungguhnya saya masih merasakan sakit pasca operasi lutut di Australia 2019 lalu. Bahkan dua bulan sebelum ini saya masih belum kuat untuk melakukan lompatan,” ujar Niza seyara menambahkan kalau PON tidak ditunda ke 2021, mungkin ia tidak bisa turun bertanding.
“Karena ini memang penampilan terakhir, saya tepikan semua rasa sakit. Saya tampil habis habisan.Saya ingin memberi yang terbaik. Alhamdulillah doa kita semua dikabulkan Allah. Hasil yang raih juga tidak terlepas dari penerapan Prokes yang ketat yang wajib dilakoni sebagai atlet,” tutupnya.





