Oleh : Indra Efendi Rangkuti

MEDANSPORT.ID – MEDAN – 16 Desember 2025 adalah momen istimewa bagi AC Milan. Di momen 16 Desember 2025 ini bertepatan dengan perayaan 126 tahun berdirinya AC Milan.

Seperti diketahui bersama AC Milan yang ketika berdiri bernama Milan Foot-Ball and Cricket Club didirikan oleh sosok asal Inggris Herbert Kilpin pada 16 Desember 1899. Dan dalam perjalanan panjang selama 125 tahun tersebut telah banyak prestasi emas ditorehkan AC Milan baik di Italia,Eropa maupun Internasional.

Puncak era keemasan AC Milan terjadi pada era kepemimpinan Silvio Berlusconi. Di bawah kepemimpinan sosok pengusaha dan politikus Italia sejak 1986 hingga 2017 AC Milan bukan hanya menjadi klub papan atas di Italia namun juga di Eropa dan Dunia.

Dan era terbaik dalam kepemimpinan Bersluconi terjadi ketika Berlusconi menghadirkan trio bintang Belanda yaitu : Ruud Gullit,Marco Van Basten dan Frank Rijkaard.Sosok Trio Belanda ini bahkan menjadi ikon kesuksesan AC Milan pada era akhir 1980-an dan awal 1990-an.

Begitu hebatnya kiprah AC Milan ketika diperkuat Trio Belanda waktu itu dengan permainan yang atraktif dan meyakinkan hingga AC Milan mendapat julukan “The Dream Team”

Berikut coba saya uraikan kisah sukses AC Milan ketika diperkuat oleh Trio Belanda Ruud Gullit, Marco Van Basten dan Frank Rijkaard.

Musim 1987/1988
Prestasi AC Milan yang hanya menduduki peringkat 5 di Serie A musim 1986/1987 membuat Silvio Berlusconi gerah dengan kondisi yang dialami AC Milan di musim pertama kepemimpinannya tersebut. Pembenahan langsung dia lakukan di musim 1987/1988.

Pembenahan pertama yang dilakuakannya adalah menghadirkan Arrigo Sacchi sebagai pelatih baru menggantikan pelatih ad interim Fabio Capello. Kemudian menghadirkan Carlo Ancelotti (AS Roma) dan Angelo Colombo (Udinese).  Kehadiran Ancelotti dan Colombo ini melengkapi kekuatan Italia di AC Milan seperti : Giovanni Galli,Franco Baressi, Filippo Galli, Paolo Maldini, Alberigo Evani, Roberto Donadoni, Alessandro Costacurta dll.

Namun yang paling sensasional adalah keputusan Berlusconi menghadirkan dua bintang Belanda Ruud Gullit dan Marco Van Basten. Kedua bintang Belanda ini hadir menggantikan duo bintang Inggris Ray Wilkins dan Mark Hateley yang sudah memperkuat AC Milan sejak tahun 1984 hingga 1987.

Kepindahan Ruud Gullit dari PSV Eindhoeven ke AC Milan pada masa itu membuat dirinya mencatat rekor sebagai “Pemain Termahal Dunia” dengan nilai transfer sebesar 18 juta gulden. Rekor ini memecahkan rekor transfer termahal sebelumnya yang ditorehkan bintang Argentina Diego Maradona ketika pindah dari Barcelona ke napoli pada tahun 1984.

Ketajaman Van Basten yang sukses meraih Golden Boot Award pada 1986 dan membawa Ajax menjadi Juara Winners Cup 1987 membuat Silvio Berlusconi tertarik menghadirkan striker berjulukan “Swan of Utrecht” itu ke AC Milan.

Van Basten yang dikenal karena kontrol bolanya yang ciamik, naluri menyerang yang tinggi, sundulan yang sempurna, serta serangan dan tendangan voli yang spektakuler memang membuat dirinya menjadi sosok bintang Belanda yang menjadi incaran banyak klub top Eropa masa itu untuk bergabung. Namun akhirnya AC Milan yang beruntung mendapatkannya.

Liga dimulai dengan kemenangan di Pisa, di mana Van Basten yang menjalani debutnya di Serie A mencetak gol terakhir dalam kemenangan 3–1 atas Pisa dari tendangan penalti. Milan kemudian menyingkirkan Sporting de Gijón di Piala UEFA setelah kalah pada leg pertama 1–0 dan memenangkan leg kedua 3–0 di Via del Mare.

Pada pekan kelima liga, dalam pertandingan melawan Sampdoria, Van Basten mengalami cedera yang membuatnya tidak dapat tampil hingga April 1988.

Gullit awalnya berjuang untuk menyesuaikan diri karena dia tidak bisa berbahasa Italia dan baru tinggal di luar Belanda untuk pertama kali.

Namun dengan motivasi yang kuat Gullit akhirnya bisa beradaptasi dengan baik dengan kultur Italia dan pola permainan yang diterapkan pelatih Arrigo Sacchi. Pada awalnya Sacchi menempatkan Gullit sebagai penyerang sayap kanan. Namun seiring cedera yang dialami oleh rekan senegaranya Marco Van Basten, Gullit kemudian ditempatkan oleh Sacchi sebagai second striker mendampingi striker Italia Pietro Virdis.

Ternyata Gullit tampil gemilang dan muncul sebagai bintang utama AC Milan musim perdananya tersebut.

Bahkan kebintangan Gullit di AC Milan sukses menggeser bintang Napoli Diego Maradona. Sebagai bukti pada akhir 1987 Gullit sukses meraih gelar “World Soccer Magazine World Footballer of the Year” mengalahkan Diego Maradona.

Dan pada 29 Desember 1987 Ruud Gullit dinobatkan sebagai pesepakbola terbaik di Eropa dengan meraih “Ballon d’Or”

Van Basten kembali memperkuat AC Milan di paruh kedua musim di pertandingan ke-25 dengan memperkuat AC Milan melawan Empoli dan kembali sukses mencetak gol dan membawa AC Milan sukses menaklukkan Empoli.

Dan akhirnya pada laga “hidup mati” di Serie A menghadapi sang juara bertahan Napoli di San Paolo, Ruud Gullit sukses menenggelamkan kebintangan Maradona dan memimpin rekan – rekannya menaklukkan Napoli 3-2 dan membuat jalan AC Milan meraih scudetto semakin terbuka lebar dengan mengkudeta Napoli dari puncak klasemen.

Gol kemenangan AC Milan dicetak oleh Paolo Virdis yang mencetak 2 gol dan Marco Van Basten. Sedangkan gol balasan Napoli dicetak oleh Maradona dan Careca.

Dan akhirnya setelah bermain imbang dengan Juventus dan Como di 2 laga berikutnya AC Milan sukses memastikan diri meraih Juara Serie A (Scudetto) musim 1987/1988 yang merupakan scudetto ke-11 dalam perjalanan AC Milan.

Musim 1988/1989
Kesuksesan Ruud Gullit dan Marco Van Basten membawa AC Milan meraih scudetto pada musim 1987/1988 membuat Silvio Berlusconi tertarik menghadirkan bintang Belanda lainnya ke AC Milan. Gullit dan Van Basten kemudian meminta agar pemilik AC Milan Silvio Berlusconi dan pelatih Arrigo Sacchi merekrut Rijkaard untuk bergabung dengan AC Milan.

Dan akhirnya setelah mengamati aksi Rijkaard di beberapa pertandingannya bersama Real Zaragoza di Liga Spanyol dan aksi Rijkaard bersama Timnas Belanda di Piala Eropa 1988 akhirnya AC Milan mantap merekrut Frank Rijkaard untuk bergabung dengan kedua rekan senegaranya tersebut di AC Milan.Dan inilah awal dari lahirnya kejayaan AC Milan bersama Trio Belanda di Italia,Eropa dan Dunia. Kehadiran Rijkaard ibarat “puzzle” yang melengkapi kekuatan AC Milan.

Marco Van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard di panggung Ballon D’Or 1988

Debutnya bersama AC Milan terjadi pada 9 Oktober 1988 ketika AC Milan menjamu Fiorentina di San Siro. Rijkaard tampil gemilang dan membawa AC Milan menang 4-0.Dan ternyata feeling Sacchi tidak salah, karena Rijkaard tampil gemilang sebagai “jangkar” di lini tengah AC Milan.

Determinasi Rijkaard mampu membuat dirinya menjadi “pengawal kokoh” bagi kwartet pertahanan AC Milan sekaligus menjadi penyeimbang lini tengah dengan lini depan dan pendobrak barisan pertahanan lawan dalam proses serangan AC Milan. Sebagai Gelandang Bertahan Rijkaard juga membuktikan mampu menjadi sosok pemecah kebuntuan serangan AC Milan ketika Van Basten dan Gullit dimatikan oleh lini pertahanan lawan.

Van Basten yang pada musim sebelumnya kalah bersinar dibanding Ruud Gullit,justru menjadi tokoh sentral AC Milan pada musim 1988/1989 ini.

Diawali dengan sukses membawa AC Milan menjadi Juara Piala Super Italia 1988 dengan menaklukkan Sampdoria 3-1 dimana Van Basten mencetak 1 gol. Kemudian di pentas Serie A gol demi gol lahir dari kaki dan kepalanya menandakan ketajamannya telah kembali. Total 19 gol dicetaknya di Serie A musim 1988/1989 dan menempatkannya sebagai peringkat kedua top skor Serie A musim 1988/1989 di bawah bintang Inter Milan Aldo Serena yang mencetak 22 gol.

Pada 14 Juni 1989 AC Milan sukses menjadi Juara Supercoppa Italiana (Piala Super Italia) 1988 setelah menaklukkan Sampdoria 3-1.Gol kemenangan AC Milan dicetak oleh Frank Rijkaard, Graziano Mannari dan Marco Van Basten yang hanya dibalas oleh 1 gol yang dicetak Sampdoria melalui Gianluca Vialli. Laga ini sendiri seharusnya digelar pada Agustus 1988 namun diundur akibat Timnas Italia harus berlaga di Olimpiade Seoul 1988.

Sayang walau ketajamannya sudah kembali namun Van Basten gagal membawa AC Milan mempertahankan Scudetto karena kalah bersaing dengan Inter Milan.

Namun Van Basten yang didukung oleh rekan senegaranya Ruud Gullit dan Frank Rijkaard sukses membawa AC Milan berjaya di Champions Cup 1989.

Sukses AC Milan sudah tampak ketika di Semifinal sukses menyingkirkan klub besar Spanyol Real Madrid.Setelah bermain imbang 1-1 pada leg 1 yang digelar di Santiago Barnabeu, AC Milan sukses menghancurkan Real Madrid 5-0 di leg kedua yang digelar di San Siro. Gol kemenangan AC Milan dicetak oleh Carlo Ancelotti,Frank Rijkaard, Ruud Gullit,Marco Van Basten dan Roberto Donadoni. Sayang pada menit ke-70 Ruud Gullit harus ditarik keluar setelah lututnya mengalami cedera setelah dihajar pemain Real Madrid.

Di Final Champions Cup 1988/1989 yang berlangsung di Camp Nou Barcelona, AC Milan sukses menjadi Juara setelah menaklukkan klub Rumania Steau Bucharest dengan skor 4-0 lewat 2 gol yang dicetak oleh Ruud Gullit dan Marco Van Basten.

Ruud Gullit yang tampil dengan obat penahan sakit akibat cedera yang dialaminya tampil gemilang di Final ini bersama Marco Van Basten.Ini merupakan kali ketiga AC Milan meraih Juara Champions Cup setelah sebelumnya sukses meraihnya pada musim 1962/1963 dan 1968/1969.

Kesuksesan musim 1988/1989 kian lengkap setelah Trio Belanda meraih penghargaan sebagai yang terbaik di Eropa. Pada 27 Desember 1988 Marco Van Basten meraih Ballon D’Or 1988 setelah mengalahkan 2 rekan setimnya di AC Milan dan Timnas Belanda yaitu Ruud Gullit dan Frank Rijkaard. Kesuksesan ini membuat AC Milan menjadi klub yang mendapat pujian tinggi karena 3 pemainnya tampil di podium utama Ballon D’Or 1988, Hingga kini belum pernah lagi ada 3 pemain yang satu klub dan satu negara tampil di podium Ballon D’Or. Pada musim 1988/1989 ini

Marco Van Basten melengkapi suksesnya bersama AC Milan dengan meraih gelar “World Soccer Magazine World Footballer of the Year”

Musim 1989/1990.
AC Milan memasuki musim 1989/1990 dengan kondisi Ruud Gullit yang belum bisa tampil maksimal dan tidak tampil penuh akibat pemulihan cedera lututnya.Walau begitu Marco Van Basten dan Frank Rijkaard tetap tampil meyakinkan di musim ini.

Di Serie A musim 1989/1990 ini AC Milan bersaing ketat dengan Napoli dalam perebutan gelar juara Serie A. Namun pada akhirnya Napoli sukses mengunguli AC Milan dalam perebutan scudetto dengan keunggulan 2 angka dari AC Milan yang berada di peringkat kedua.

AC Milan 1989
Berdiri Ki-Ka : Paolo Maldini, Marco Van Basten, Ruud Gullit, Carlo Ancelotti, Frank Rijkaard dan Giovanni Galli
Jongkok Ki-Ka : Franco Baresi,Roberto Donadoni, Alessandro Costacurta, Angelo Colombo dan Mauro Tassotti

AC Milan mengawali sukses pada musim 1989/1990 ini dengan kesuksesan menjadi Juara Piala Super Eropa 1989.AC Milan sukses menaklukkan Barcelona di Piala Super 1989 ini. Pada laga perdana yang digelar di Camp Nou pada 23 November 1989 kedua tim bermain imbang 1-1. Namun pada laga kedua di San Siro yang digelar 7 Desember 1989 AC Milan sukses menaklukkan Barcelona 1-0.

Kemudian pada 17 Desember 1989 AC Milan sukses meraih Juara Piala Toyota (Piala Interkontinental) 1989 yang digelar di National Stadium Tokyo.AC Milan menjadi Juara setelah menaklukkan juara Copa Libertadores 1989 Atletico Nacional Kolombia 1-0.

Pada 26 Desember 1989 Marco Van Basten meraih Ballon D’Or 1989 menyamai prestasi yang diraih pada tahun sebelumnya. Van Basten sukses meraihnya mengalahkan 2 rekan setimnya di AC Milan Franco Baresi dan Frank Rijkaard.

Ruud Gullit melengkapi kesuksesan AC Milan dengan meraih gelar “World Soccer Magazine World Footballer of the Year”

Di akhir musim 1989/1990 ini Van Basten sukses menjadi pencetak gol terbanyak di Serie A. Total 19 gol dicetaknya untuk AC Milan di Serie A dan menjadikan dirinya menjadi Top Skor Serie A musim 1989/1990 mengungguli Diego Maradona dan Roberto Baggio.

Puncak kesuksesan AC Milan pada musim 1989/1990 ini adalah ketika AC Milan sukses menjadi Juara Champions Cup musim 1989/1990. AC Milan sukses mempertahankan gelar Juara Champions Cup setelah di Final yang berlangsung pada 23 Mei 1990 di Praterstadion Wina menaklukkan Benfica 1-0.

Final Champions Cup 1990 membuktikan Rijkaard mampu memecah kebuntuan serangan AC Milan dengan gol indahnya ke gawang Benfica usai menerima umpan manis Van Basten pada menit ke-68.

Keberhasilan AC Milan mempertahankan gelar Juara Champions Cup ini bertahan hingga 27 tahun karena setelah itu tidak ada klub yang mampu mempertahankan gelar juara Champions Cup/League. Baru pada 2017 Real Madrid sukses memecahkan kebuntuan tersebut dengan mempertahankan gelar Juara Champions Cup/League yang diraihnya pada 2016 setelah di final menaklukkan Liverpool 3-1.

Musim 1990/1991
AC Milan menjalani Serie A musim 1990/1991 ini dengan kondisi yang tidak kondusif. Van Basten terlibat konflik dengan pelatih Arrigo Sacchi dan kondisi Ruud Gullit yang belum sepenuhnya kembali ke kondisi terbaiknya pasca operasi lutut yang dialaminya. Bahkan ketajaman Van Basten menurun drastis pada musim ini dengan hanya mencetak 11 gol.

Meski begitu AC Milan tetap mampu bersaing dalam perebutan gelar scudetto. Sayang di akhir musim AC Milan harus puas berada di posisi kedua setelah kalah bersaing dengan Sampdoria yang meraih Juara.

Di Champions Cup 1990/1991 ini AC Milan harus menerima pil pahit akibat tersingkir di babak perempat final. AC Milan dinyatakan kalah atas Marseille setelah menolak melanjutkan pertandingan akibat padamnya lampu di Stade De Marseille di laga kedua setelah kedua tim bermain imbang pada leg pertama yang digelar di San Siro.

Di musim 1990/1991 ini AC Milan berhasil mempertahankan gelar Juara Piala Super Eropa. AC Milan menjadi Juara setelah menaklukkan Sampdoria.Pada laga perdana yang digelar 10 Oktober 1990 kedua tim bermain imbang 1-1.

Namun pada laga kedua di San Siro yang digelar 29 November 1990 AC Milan sukses menaklukkan Sampdoria 2-0 lewat gol yang dicetak Ruud Gullit dan Frank Rijkaard.

Kemudian pada 9 Desember 1990 AC Milan kembali sukses meraih Juara Piala Toyota (Piala Interkontinental) 1990 yang digelar di National Stadium Tokyo. AC Milan menjadi Juara setelah menaklukkan juara Copa Libertadores 1990 Olimpia Paraguay 3-0. Gol kemenangan AC Milan dicetak oleh Giovanni Stroppa dan Frank Rijkaard yang mencetak 2 gol.Frank Rijkaard sendiri terpilih menjadi Pemain Terbaik Piala Toyota 1990 ini.

Musim 1991/1992
AC Milan mengawali Serie A musim 1991/1992 ini dengan suasana baru.Arrigo Sacchi mengakhiri kontraknya di AC Milan dan menjadi pelatih Timnas Italia menggantikan Azeglio Vicini. Fabio Capello kembali hadir ke AC Milan sebagai pelatih menggantikan Arrigo Sacchi.

Marco Van Basten tampil trengginas pada musim 1991/1992 ini. Banyak yang menyebut musim 1991/1992 ini sebagai musim terbaik Van Basten bersama AC Milan.

Ruud Gullit dan Frank Rijkaard juga tampil gemilang bersama AC Milan.Gullit yang pada 2 musim sebelumnya terganggu akibat cedera lutut perlahan mulai menunjukkan permainan terbaiknya bersama AC Milan. Apalagi di lini tengah Gullit dan Rijkaard mendapat sokongan dari bintang muda yang mulai bersinar Demetrio Albertini.

Di musim 1991/1992 ini AC Milan tampil superior dengan tak terkalahkan sepanjang musim dan sukses meraih Juara Serie A (Scudetto) musim 1991/1992. Ini adalah scudetto ke-12 bagi AC Milan.Atas prestasi mereka, AC Milan musim 1991–92 mendapat julukan “Gli Invincibili” (Yang tak terkalahkan) di media.

Kesuksesan AC Milan kian lengkap dengan keberhasilan Van Basten menjadi Top Skor Serie A musim 1991/1992 dengan torehan 25 gol.

Musim 1991/1992 ini juga menjadi akhir karir Carlo Ancelotti sebagai pemain sepakbola. Di akhir musim Carlo Ancelotti memutuskan “gantung sepatu” dari pentas sepakbola.

Musim 1992/1993
AC Milan memasuki musim 1992/1993 dengan hadirnya 3 pemain asing baru yaitu Jean Pierre Papin, Zvonimir Boban dan Dejan Savicevic.Selain itu

AC Milan juga menghadirkan bintang asal Torino Gianluigi Lentini dengan transfer yang fantastis hingga menjadi “Pemain Termahal Dunia” saat itu. Kehadiran pemain – pemain asing ini membuat kekuatan AC Milan kian hebat dan menakutkan.

Marco Van Basten tetap menjadi pilihan utama walau AC Milan sudah menghadirkan striker hebat asal Prancis Jean Pierre Papin. Penampilan gemilangnya seperti yang tampak di musim 1991/1992 tetap terlihat.

Berbeda dengan Ruud Gullit dan Frank Rijkaard yang kerap dirotasi dengan Boban, Savicevic dan Lentini. Pada 14 Juni 1992 AC Milan sukses meraih Juara Supercoppa Italiana 1992 setelah menaklukkan Parma 2-1.

Gol kemenangan AC Milan dicetak oleh Marco Van Basten dan Daniele Massaro sedangkan gol balasan Parma dicetak Alessandro Melli.

Van Basten kembali menunjukkan ketajamannya di Serie A dan Champions League. Bahkan Van Basten sukses mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang sukses mencetak 4 gol dalam satu pertandingan di Champions Cup/League ketika AC Milan menaklukkan klub Swedia IFK Gothenburg 4-0 di San Siro pada 25 November 1992.
Ketajaman Van Basten sepanjang musim 1991/1992 dan awal musim 1992/1993 ini membuat dirinya banjir penghargaan. Pada 22 Desember 1992 Van Basten dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa dan dianugerahi “Ballon d’Or” 1992.

AC Milan di Final Champions League 1993. Penampilan terakhir Van Basten di pentas sepakbola

Kesuksesan terus menghampiri Van Basten ketika pada 1 Februari 1993 dirinya meraih penghargaan FIFA World Player of The Year atas prestasinya sepanjang tahun 1992. Sayang setelah itu cedera engkel parah mendera Van Basten yang membuat dirinya hanya tampil sebanyak 15 kali di Serie A dengan torehan 13 gol.

Tanpa kehadiran Van Basten langkah AC Milan mulai seret. Apalagi Jean Pierre Papin yang diharapkan menjadi pengganti justru tidak stabil penampilannya.Begitu juga dengan Daniele Massaro dan Marco Simone.

Pada 21 Maret 1993 AC Milan bahkan harus mengakhiri rekor tak terkalahkan mereka di seluruh kompetisi yang mereka ikuti pada angka 58. Rekor ini dimulai sejak mereka bermain imbang 0-0 dengan Parma pada 26 Mei 1991 di San Siro. Dan akhirnya pada 21 Maret 1993 Parma pula yang mengakhiri rekor 58 kali tak terkalahkannya AC Milan setelah menaklukkan AC Milan 1-0 di San Siro.

Walau demikian pada akhir musim 1992/1993 ini AC Milan kembali sukses meraih Juara Liga Italia (Scudetto). Ini adalah scudetto ke-13 bagi AC Milan. AC Milan meraih Juara dengan keunggulan 4 angka dari Inter Milan yang berada di peringkat kedua.

AC Milan juga sukses melangkah ke Final Champions League 1993 menghadapi Marseille di Olympia Stadion Muenchen pada 26 Mei 1993. Dengan kondisi cederanya yang belum pulih total Van Basten dengan persetujuan AC Milan memaksakan diri untuk tampil di Final Champions League 1993 melawan Marseille ini.

Dan akhirnya dirinya “babak belur” dihajar stopper Marseille Basile Boli yang menempelnya dengan ketat dan kerap “menghajar” engkelnya. Akhirnya AC Milan takluk dari Marseille 0-1 dan inilah penampilan terakhir Van Basten bersama AC Milan di lapangan hijau.

Musim 1992/1993 ini juga menjadi akhir kebersamaan AC Milan dengan Trio Belanda.Di akhir musim Frank Rijkaard memutuskan kembali ke Belanda untuk bergabung bersama Ajax.

Uniknya pada musim 1994/1995 Frank Rijkaard sukses membawa Ajax menjadi Juara Champions League setelah menaklukkan AC Milan 1-0 di Final. Dan momen ini adalah akhir karir Frank Rijkaard sebagai pesepakbola di lapangan hijau.

Sedangkan Ruud Gullit dilepas AC Milan ke Sampdoria. Gullit yang sempat dikira sudah “habis” ternyata bangkit kembali bersama Sampdoria.Gullit bahkan menjadi aktor utama yang membawa Sampdoria menjadi Juara Coppa Italia 1994.

Kesuksesan Gullit di Sampdoria ini membuat AC Milan tertarik membawa Gullit pulang dan akhirnya memperkuat AC Milan di musim 1994/1995. Sempat membawa AC Milan menjadi Juara Piala Super Italia 1994 penampilan Gullit justru kurang bersinar bersama AC Milan di Serie A dan Champions League. Akhirnya pada Desember 1994 AC Milan kembali melepas Gullit ke Sampdoria.Dan inilah yang menjadi akhir kisah gemilang Gullit bersama AC Milan.

Van Basten tetap bertahan di AC Milan. Tetapi sepanjang musim 1993/1994 dan 1994/1995 Van Basten menghilang dari lapangan hijau dengan harapan bisa sembuh dari cedera engkelnya setelah menjalani berbagai upaya pemulihan. Namun sayang,upaya tersebut gagal total.Dan akhirnya pada 17 Agustus 1995 Van Basten menyerah melawan cederanya dan memutuskan “gantung sepatu” pada usia 30 tahun.

Momen haru terlihat ketika Van Basten melambaikan salam perpisahan menjelang duel AC Milan dengan Juventus pada Trofeo Berlusconi 1995 di San Siro.Suporter AC Milan memberi aplaus sambil membentangkan spanduk “San Siro Tanpa Van Basten Ibarat Garuda Tanpa Sayap” yang disambut air mata haru Van Basten. Demikian juga air mata haru sang pelatih Fabio Capello saat Van Basten meninggalkan lapangan.

Kekuatan Trio Belanda dirasakan betul oleh AC Milan. Dalam wawancara dengan Franco Baresi tahun 1994 seusai AC Milan meraih Juara Serie A 1993/1994 dan Champions League 1994 berkata : “Kami meraih 2 gelar ini dengan gemilang namun akan jauh lebih mudah jika Trio Belanda ada dalam tim”

Kehebatan AC Milan ketika diperkuat Trio Belanda pada 1987-1993 ini juga terlihat saat beberapa bintangnya menekuni dunia kepelatihan dan manajemen sepakbola pasca pensiun sebagai pemain.

Pada musim 1996/1997 Ruud Gullit yang saat itu merangkap sebagai pemain dan pelatih di Chelsea menorehkan sejarah baru persepakbolaan Inggris. Gullit waktu itu sukses membawa Chelsea menjadi Juara FA Cup 1997 setelah di Final menaklukkan Middlesbrough.Kesuksesan ini membuat Ruud Gullit sebagai pelatih Non Britania Raya pertama yang sukses membawa sebuah klub menjadi Juara FA Cup.

Frank Rijkaard juga menorehkan prestasi hebat ketika menjadi pelatih. Torehan sukses itu diraihnya ketika menjadi pelatih Barcelona pada 2003-2008. Rijkaard sukses membawa Barcelona meraih Juara Liga Spanyol musim 2004/2005 dan 2005/2006,Juara Piala Super Spanyol 2005 dan 2006 serta Juara Champions League musim 2005/2006. Naluri tajam Rijkaard pula yang mampu melihat bakat besar Lionel Messi sehingga pada tahun 2004 Rijkaard mengorbitkan Messi ke tim utama Barcelona.Dan inilah titik awal kesuksesan karir sepakbola Lionel Messi.

Carlo Ancelotti adalah sosok mantan bintamg AC Milan yang paling sukses saat menjadi pelatih. Di bawah asuhannya AC Milan, Chelsea, PSG, Bayern Muenchen dan Real Madrid sukses menjadi yang terbaik di liga masing – masing negara. Bahkan dirinya sukses membawa AC Milan menjadi Juara Champions League pada musim 2002/2003 dan 2006/2007 serta Real Madrid pada musim 2013/2014,2021/2022 dan 2023/2024. Torehan ini membuat Ancelotti menjadi pelatih tersukses di Champions League dengan torehan 5 gelar juara.

Paolo Maldini juga sukses saat menjalani karir sebagai Direktur Teknik AC Milan. Naluri tajamnya terbukti saat dirinya menghadirkan bintang – bintang hebat ke AC Milan yaitu Théo Hernandez, Pierre Kalulu, Rafael Leão , Olivier Giroud, Fikayo Tomori dan Mike Maignan serta pelatih Stefano Pioli. Sosok – sosok ini di bawah komando Paolo Maldini sebagai Direktur Teknik sukses membawa AC Milan meraih Juara Liga Italia (Serie A) musim 2021/2022. Scudetto ini merupakan yang ke-19 bagi AC Milan sekaligus memupus penantian selama 11 tahun sejak AC Milan meraih Scudetto pada musim 2010/2011.

Marco Van Basten walau gagal meraih gelar juara saat melatih klub dan Timnas tetapi sukses dalam mengorbitkan beberapa bintang ketika dirinya menjadi pelatih Timnas Belanda pada 2004-2008. Sosok seperti Rafael Van Der Vaart, Arjen Robben, John Heitinga, Robin Van Persie, Wesley Sneijder, Nigel De Jong, Klaas Jsn Huntelaar dan Ibrahim Afellay adalah bintang muda yang diorbitkan Van Basten di Timnas Belanda dan kelak menjadi pilar utama Timnas Belanda.

Trio Frank Rijkaard,Marco Van Basten dan Ruud Gullit di momen peringatan 125 tahun AC Milan tahun 2024

Ketika melatih Jong Ajax dan menjadi asisten Ronald Koeman saat melatih Ajax musim 2003/2004 Van Basten sukses membimbing striker muda Swedia Zlatan Ibrahimovic menjadi striker handal Ajax.Bahkan ketajaman Ibrahimovic terus berlanjut saat dirinya meninggalkan Ajax pada awal musim 2004/2005 untuk melanjutkan karirnya di Italia yang kemudian dilanjutkan ke Spanyol dan Prancis.

Dan pada peringatan 125 tahun AC Milan tahun 2024 lalu 2 legenda AC Milan era 1987-1993 ini yaitu : Franco Baresi dan Marco Van Basten dinobatkan sebagai 2 dari 4 legenda AC Milan yang masuk “AC Milan Hall Of Fame” atas dedikasi dan prestasi hebat mereka bersama AC Milan.

2 legenda lain yang masuk “AC Milan Hall Of Fame” adalah duet striker AC Milan era 2001-2006 Andriy Shevchenko dan Filippo Inzaghi.

Bagikan: