Oleh: Indra Efendi Rangkuti

Irwansyah, Pelatih Tunggal Putra Bulutangkis Asal Medan Bertangan Dingin

MEDANSPORT.ID - MEDAN - Keberhasilan Indonesia memupus dahaga 30 tahun tanpa gelar Juara Tunggal Putra All England tahun ini dimana Anthony Sinisuka Ginting dan Jonathan Christie akan berlaga di Final All England tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin mantan pebulutangkis Nasional asal Medan yang kini menjadi Pelatih Tunggal Putra Indonesia Irwansyah.

Irwansyah alias Aboy lahir di Binjai 6 Oktober 1974. Bakat bulutangkis menurun dari ayahnya yang mantan pebulutangkis Sumut dan Nasional H Dharmalinggam. Ayahnya seangkatan dengan Rudy Hartono dan Christian Hadinata.

Setelah ditempa di Medan, Irwansyah kemudian bergabung dengan klub Tangkas pada tahun 1991. Irwansyah mencuat namanya ketika membela Sumut di PON 1996, di mana dia sukses menaklukkan Juara Dunia 1995 Hariyanto Arbi. Kesuksesan ini membawanya masuk ke Pelatnas Cipayung Jakarta.

Irwansyah masuk pelatnas bersama Rony Agustinus, Johan Hadikusuma (adik Alan Budikusuma), Jeffer Rosobin dan Taufik Hidayat. Sayang karirnya tidak terlalu bersinar ketika di Pelatnas. Selain karena telat masuk Pelatnas karirnya juga terhambat akibat cedera yang kerap menderanya. Pada tahun 2000 Irwansyah memutuskan mundur dari pelatnas.

Mundur dari pelatnas Irwansyah mencoba berkarir di luar negeri. Kebetulan saat itu Rexy Mainaky melatih di Inggris dan merekomendasikannya bergabung dengan Wales. Jadilah Irwansyah membawa bendera Wales di turnamen bulutangkis Internasional. Ternyata sinarnya belum redup. Dirinya kerap menjadi Juara di beberapa turnamen
sirkuit di Eropa dan sempat masuk peringkat 12 dunia.

Tahun 2008 Irwansyah memutuskan mundur sebagai pemain dan mulai menekuni dunia kepelatihan. Dirinya kemudian membangun akademi di Wales. Dan akademi ini ternyata diminati banyak pebulutangkis muda. Di Wales ini pula Irwansyah menemukan jodohnya.

Sukses di Wales Irwansyah kemudian melatih di Siprus dan progres positif pun ditunjukkan olehnya selama 2 tahun melatih di Siprus. Kesuksesan di Siprus membuat dirinya kemudian dilirik oleh Irlandia dan jadilah dirinya melatih Irlandia. Di Irlandia, kualitas pemain lebih bagus dibanding di Siprus.

Irwansyah sukses mengantar pemain Irlandia, Nhat Nguyen juara Eropa U-17 dan membawa Scott Evans masuk 16 besar di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Ketika di Rio de Janeiro, Irwansyah dihubungi oleh Rexy Mainaky yang waktu itu menjabat Ka Bid Binpres PBSI untuk "mudik" ke Indonesia dan menjadi asisten pelatih Tunggal Putra
mendanpingi Hendri Saputra.

Dan gayung pun bersambut karena Irwansyah merasa tertantang untuk berprestasi di Indonesia hingga akhirnya menerima tawaran tersebut usai kontraknya berakhir di Irlandia.

Awal tahun 2017 Irwansyah resmi bergabung dengan Pelatnas Cipayung menjadi asisten pelatih Tunggal Putra mendampingi Hendri Saputra. Di Thomas Cup 2021 Irwansyah mulai dipercaya langsung menangani Anthony Ginting, Jonathan Christie dan Shesar Hiren Rustavito dan sukses membawa Indonesia menjadi Juara Thomas
Cup 2021.

Ini merupakan gelar Thomas Cup ke-14 bagi Indonesia. Sejak Januari 2022 Irwansyah menjadi Pelatih Kepala Tunggal Putra Indonesia. Selain sukses melatih Anthony Ginting, Jonathan Christie dan Shesar Hiren Rustavito, Irwansyah juga sukses mengorbitkan Chico Aura Dwi Wardoyo.

Selain itu beberapa bintang muda juga mulai "mekar" dalam polesannya seperti Alwi Farhan, Christian Adinata dan Syabda Perkasa Belawa. Sayang Syabda Perkasa Belawa tidak panjang karirnya karena wafat pada 2023 lalu.

Walau demikian bukan berarti Irwansyah tidak diterpa badai. Prestasi pebilutangkis tunggal putra yang anjlok sepanjang 2023 dan awal 2024 membuat dirinya dikritik tidak layak melatih di Pelatnas bahkan banyak yang meminta agar PBSI memutus kontraknya.

Namun Irwansyah tetap fokus bekerja dan terus membenahi aspek teknis dan mentalnanak anak asuhnya. Pendekatannya yang kebapakan bahkan begitu mengena di hati anak - anak asuhnya. Maka tak jarang ketika Ginting, Jojo dan Chico sukses mereka kerap mengajak Irwansyah untuk berfoto bersama di tengah lapangan dan di podium.

Dan di All England 2024 ini Irwansyah berhasil membuktikan diri jika anak - anak asuhnya belum "habis" dan bisa berprestasi. 2 anak asuhnya Anthony Ginting Sinisuka dan Jonathan Christie membuat kejutan dengan menciptakan "All Indonesian Final" sekaligus memupus dahaga setelah 30 tahun Indonesia tanpa gelar juara di sektor
Tunggal Putra All England.

Terakhir kali Indonesia meraih Juara adalah ketika Hariyanto Arbi meraih Juara Tunggal Putra All England tahun 1994 setelah menaklukkan rekannya Ardi B.Wiranata di Final. Bahkan Ginting sukses memupus tren negatif dalam duel melawan Victor Axelsen dengan mengandaskan Victor Axelsen di perempatfinal.

Kesuksesan ini membuat Irwansyah mendapat pujian setinggi langit. Namun dirinya tetap merendah bahwa kesuksesan ini adalah anugerah ALLAH SWT. Irwansyah memang dikenal relijius. Ketika Jojo memastikan lolos ke Final menyusul Ginting, Irwansyah langsung melakukan sujud syukur di tengah lapangan.

Sosok pelatih rendah hati ini juga kerap melakukan tadarus Al Qur'an di sela - sela aktivitasnya melatih. Semoga sukses terus mengiringi langkah Irwansyah dengan membawa anak - anak asuhnya berjaya di Thomas Cup dan Olimpiade 2024 serta turnamen - turnamen lainnya. (*)