Pewarta PSMS Medan Laporkan Sekjen SMeCK Hooligan ke Polrestabes Medan

MEDANSPORT.ID - MEDAN - Sejumlah awak media yang tergabung dalam Pewarta PSMS Medan melaporkan BG ke Polrestabes Medan, Jumat (3/11/2023). Pelaporan itu dilakukan buntut dari adanya dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan BG terhadap jurnalis senior olahraga sekaligus pemilik media bolahita Abdi Panjaitan.

Kasus dugaan pencemaran nama baik itu tercantum dalam laporan polisi nomor: LP/B/3647/XI/2023/SPKT/Polrestabes Medan/Polda Sumatera Utara. Abdi mengatakan pencemaran nama baik yang diduga dilakukan BG yang diketahui menjabat sebagai Sekjen Smeck Hooligan itu terjadi pada Minggu 29 Oktober 2023.

“Saya diberitahu oleh teman bahwa di Instagram terlapor (Bani Gultom) ada membuat kalimat di InstaStory yang tidak sopan dan menyinggung media BOLAHITA,” ujarnya usai membuat laporan.

Dugaan pencemaran nama baik itu sendiri bermula saat bolahita membuat berita di Instagram tentang PSMS Medan yang didenda Rp12,5 juta akibat ulah suporter tim berjuluk Ayam Kinantan yang hadir di markas PSPS Riau.

Dalam regulasi tercantum jelas bahwa suporter tamu dilarang hadir ke stadion, dan berita itu merupakan keterangan resmi dari Komisi Disiplin PSSI. Kemudian, Bani yang mengetahui unggahan di Instagram bolahita meresponnya dengan membuat InstaStory di akun pribadinya @gultombani.

Dirinya mengunggah ulang postingan bolahita dengan menambahkan kalimat berujar kebencian. “Siapa pun yang merasa pemilik akun berita ini, bisikkan ke kupingnya ta*k anj**g sama kau. Sudah berlalu beberapa minggu masih saja di-up, kekurangan berita?,” tulisnya.

Tak sampai di situ, Bani kembali menggunggah sebuah kalimat di InstaStory seolah menunjukkan arogansinya.

“Jangan membangunkan singa yang lagi tidur, selagi dapurmu enggak diusik. Jangan coba-coba kau usik kami,” ucapnya. Unggahan Bani itu dianggap tidak etis dan telah membuat citra yang buruk terhadap bolahita.

Menurut Abdi berita yang diunggahnya di Instagram dan laman bolahita merupakan keterangan resmi dari Komisi Disiplin PSSI, sebagai jurnalis dirinya telah memberitakan kebenaran sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

“Itu berita dikutip dari situs resmi PSSI. Berita itu juga kebenarannya 100 persen,” ujarnya.

Atas perbuatannya pelaku terancam dijerat dengan Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 Ayat (3) dengan ancaman pidana pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda paling banyak Rp750 juta. (*)

Penulis: Bayu

Baca Juga