Pada April 2012 ia menandatangani kontrak untuk bermain dengan PSMS Medan di Indonesia Super League dan menggunakan nomor 33. Laga debutnya terjadi pada 9 April 2012, ketika ia masuk pada menit 53 menggantikan Muhammad Antoni dan juga menerima kartu kuning pada pertandingan itu.

Kehadiran pemain yang juga memperkuat Timnas Slovenia di Piala Dunia 2002 dan Kualifikasi Piala Eropa 2004 itu sontak membuat suporter PSMS bergembira karena telah menemukan idola baru di tengah kondisi PSMS yang waktu “berantakan” karena ketidak jelasan manajemen dan dana sponsor serta terjadinya dualisme kompetisi di Indonesia.

Keahliannya mengeksekusi bola – bola mati menjadi gol indah membuat publik selalu mengelu – elukan kehadirannya di Stadion Teladan Medan. Sayang kondisi PSMS serba “gelap” waktu itu yang salah satu imbasnya adalah terabaikannya hak – hak pemain termasuk Nastja Ceh sehingga Nastja Ceh hanya 4 bulan berkostum PSMS Medan. Selama di PSMS empat bulan, Ceh mengoleksi tiga gol indah dari tendangan bebasnya. Gol dicetak ke gawang Deltras, kemudian Persiba dan Gresik United.

Nastja Ceh di laga terakhirnya bersama PSMS ketika melawan PSAP di ISL 2012.

Ceh sendiri bermain terakhir kali di hadapan suporter PSMS di Stadion Teladan 28 September 2012 saat PSMS melawan PSAP yang berakhir kemenangan 2-0 untuk PSMS. Sebuah spanduk khusus untuk Ceh dibentangkan oleh supporter untuknya.

Duel antara bintang Club Brugge Nastja Ceh melawan bintang AC Milan Rui Costa dan Andrea Pirlo di penyisihan grup Liga Champion 2003/2004 di Brugge 4 November 2003.AC Milan menang 1-0 dalam laga ini.

Dalam spanduk putih tersebut, suporter berharap gelandang asal Slovenia tersebut masih bisa membela PSMS musim depan. “We hope you still with us, Nastja Ceh,” begitu rangkaian kata yang ditujukan untuk pemain yang terkenal dengan tendangan bebasnya ini.

Bagikan: