Catatan MEDANSPORT.ID

Man City musim ini telah mengalahkan Arsenal dalam perburuan gelar juara Premier League, juga mengalahkan Manchester United di final Piala FA. Jika mampu meraih gelar Liga Champions perdananya, maka impian treble pasukan Josep Guardiola akan menjadi kenyataan. Kini, mereka dihadapkan pada rintangan terakhir, yakni final
melawan peraih treble 2009/2010, Inter Milan.

Di atas kertas, dengan skuad yang lebih kuat, Man City bakal lebih difavoritkan. Namun, Man City tidak akan menganggap remeh lawan. Pasalnya, meski sepak terjangnya musim ini tak sehebat Man City, anak-anak asuh Simone Inzaghi tetap bisa menjadi ancaman yang berbahaya.

Di fase grup, Inter turut andil melempar Barcelona ke Liga Europa. Setelah itu, dengan Andre Onana yang tangguh di bawah mistar, Inter membuat Porto dan Benfica frustrasi di babak 16 besar dan perempat final. Memenangi derby kontra AC Milan di semifinal, Inter pun menginjakkan kaki di final.

Lautaro Martinez, Romelu Lukaku, dan eks Man City, Edin Dzeko, adalah beberapa pemain yang bisa menjadi andalan Inter di final nanti. Meski tak sebuas Haaland, mereka tetap bisa menjadi ancaman besar buat Man City.

Keberadaan Inzaghi sebagai pelatih juga pantas dijadikan pertimbangan. Pasalnya, dalam tujuh final terakhirnya, mantan arsitek Lazio itu selalu bisa mengantarkan tim- timnya jadi juara. Musim ini, meski cuma finis peringkat tiga di Serie A, dia sudah membawa Inter juara Supercoppa Italiana dan Coppa Italia.

Musim ini sendiri, Italia memiliki tiga wakil di tiga final kompetisi Eropa. Selain Inter, ada Fiorentina di UEFA Conference League, juga AS Roma di Liga Europa. Namun, dua tim itu sudah kalah di final. Inter adalah harapan tersisa Italia. Itu bisa bisa menjadi beban, atau justru malah menjadi motivasi bagi mereka.

Man City maupun Inter memiliki keunggulan masing-masing. Strategi, taktik, mental, hingga determinasi benar-benar akan berperan krusial dalam duel penentuan di Istanbul nanti.

Berdasarkan data Transfermarkt, Pep Guardiola tercatat memasang formasi unik 3-4- 2-1 dengan pivot ganda dalam 20 pertandingan saja, atau masih kalah banyak dari formasi 4-3-3. Namun, dengan skema 3-4-2-1, City mampu menang 13 kali, seri 4 kali, dan hanya kalah sekali. Mereka bisa mencetak 47 gol, dan kemasukan 12 kali saja.

Formasi ini akan memberi ruang yang bebas bagi John Stones untuk muncul sebagai sosok tidak terduga dari tengah. Haaland juga cenderung lebih tajam. Inter bakal menghadapi tantangan tersendiri untuk sabar bertahan dan membangun serangan dari belakang. Namun, pelatih Simone Inzaghi mungkin bisa berkaca pada fakta sejarah,
bahwa Inter sudah 5 kali menembus final UCL sebelumnya, dan dalam laga final, semua bisa terjadi.

Man City dan Inter belum pernah bertemu sebelumnya. Ini akan menjadi pertemuan perdana mereka. Ini adalah final Liga Champions Man City yang kedua; mereka kalah di final pertama (0-1 vs Chelsea 2020/2021). Pelatih Man City, Josep Guardiola, sudah pernah 2 kali menjuarai Liga Champions, yakni 2009 dan 2011 ketika menangani
Barcelona. Rekor Man City melawan klub-klub Italia. Man City terakhir kali bertemu klub Italia adalah melawan Atalanta di fase grup Liga Champions 2019/2020 (menang 5-1 kandang, seri 1-1 tandang).

Man City belum terkalahkan di Liga Champions musim ini. Man City adalah tim tertajam di Liga Champions musim ini. Mereka sudah mencetak 31 gol hingga semifinal, sementara Inter cuma mencetak 19 gol. Striker Man City, Erling Haaland, adalah top skor sementara Liga Champions musim ini dengan 12 gol. Pencetak gol terbanyak dari Inter adalah eks Man City, yakni Edin Dzeko dengan 4 gol.

Gelandang Man City, Kevin De Bruyne, adalah pendulang assist terbanyak di Liga Champions 2022/2023 sejauh ini dengan 7 assist. Pencetak assist terbanyak dari Inter adalah Federico Dimarco dengan 5 assist. Inter sudah 5 kali masuk final European Cup/Liga Champions, di mana mereka 3 kali juara dan 2 kali jadi runner-up.

Bagikan: