“Kalau Maradona tidak pernah Juara Copa America dan Meraih Emas Olimpiade
Dan peraih 7 kali Ballon D’Or, untuk itu lengkaplah Messi,” lirih Indra Efendi Rangkuti melempar tersenyum.

Boleh dikata, lanjut Indra Efendi Rangkuti, prestasi Messi ini jauh lebih baik dari Mario Kempes dan Maradona. “Mario Kempes hanya membawa Argentina Juara Piala Dunia 1978. Maradona hanya membawa Argentina Juara Piala Dunia U-20 tahun 1979 dan Piala Dunia 1986,” sebutnya lagi.

Ini adalah perbandingan tiga legenda Argentina. Pada 1991 dan 1993 ketika Argentina Juara Copa America, Maradona dicoret dari Tim oleh Alfio Basile. Dan pada periode ini Batistuta muncul.

“Dan malam kemarin Mbappe juga mencatat sejarah sebagai pemain kedua yang buat hattrick gol di Final Piala Dunia 2022,” urai Indra Efendi Rangkuti.

Indra Efendi Rangkuti (Staf Tax Centre USU & Pemerhati Olahraga Sumut).

Nah, yang pertama itu, kata dia, bintang Inggris Geoff Hurst di Final Piala Dunia 1966 di Stadion Wembley Inggris. Bedanya, hattrick Hurst membawa Inggris Juara Piala Dunia 1966 setelah di Final menaklukkan Jerman. Hanya saja satu gol Hurst hingga kini masih jadi polemik karena bola membentur mistar atas dan jatuh ke garis gawang.

Wasit bahkan sampai harus diskusi dengan asisten untuk memutuskan itu gol atau tidak karena waktu itu belum ada VAR. Beda dengan Mbappe, sebutnya, bahwa yang ketiga gol-nya tidak ada kontroversi. Dari segi usia Mbappe juga lebih muda dari Hurst karena bikin hattrick gol di usia 23 sedang Hurst 24 tahun.

“Dan Mbappe adalah yang termuda membuat hattrick di Final Piala Dunia. Jadi kedua pemain ini (Messi dan Mbappe) sangat luar biasa. Messi di akhir masa ‘pensiun’ mampu menorehkan prestasi sedangkan Mbappe dengan umur muda telah mengoleksi sepatu emas dan mencatatkan namanya di Piala Dunia. Selamat bagi mereka dan negaranya,” tandas Indra Efendi Rangkuti. (*)

Bagikan: