“Dia (Modric) meningkat setiap hari, dan memiliki begitu banyak energi ketika bermain untuk tim nasionalnya. Tapi ya, itu kemungkinan besar akan menjadi Piala Dunia terakhirnya, dan saya yakin dia akan melakukan yang terbaik untuk memberikan kontribusi signifikan,” tutur pelatih Kroasia, Zlatko Dalic.

Jika lini tengah Kroasia punya pemain veteran macam Modric, maka Maroko punya aset serupa dalam diri Hakim Ziyech. Gelandang serang berkaki kidal itu tercatat sudah lama memperkuat timnas. Ia sudah mengoleksi 42 caps (17 gol) bersama Maroko, terhitung dari debutnya sejak 9 Oktober 2015.

Kendati sama-sama berstatus gelandang, Ziyech cenderung beroperasi di sisi sayap dan belakang striker. Hal ini berbeda dengan Modric yang kerap bermain di tengah, tepatnya di depan barisan bek. Apa yang biasa diperankan Ziyech relatif cocok dengan fleksibilitas Maroko di bawah kepelatihan Walid Regragrui. Walid Regragrui punya kecenderungan untuk menyesuaikan gaya bermain lawan.

Namun juru taktik yang ditunjuk sejak 31 Agustus 2022 itu juga dapat menegaskan dominasi timnya. Ia bisa menjalankan skema tersebut dengan memasukkan pemain yang unggul dalam hal teknis, salah satunya Ziyech.
Laman Whoscored menyebut Ziyech cukup unggul dalam hal long shots, passing, dan key passes. Keberadaan penggawa Chelsea itu tentu bisa membuat lini tengah Maroko menyaingi Kroasia yang dipimpin Luka Modric.

Bagikan: