Tegas & Humoris

Sekilas, Yongki Haurissa adalah legenda PSMS era 70-an hingga awal 80-an. Yongki Haurissa lahir di Binjai, 17 Oktober 1951. Yongki adalah putra seorang prajurit TNI yaitu YD Haurissa yang berasal dari Ternate. Bakat sepakbola diwarisi dari ayahnya yang mantan pesepakbola di lingkungan TNI pada era 50-an.

Yongki mengawali karirnya di klub anggota PSMS yaitu Dinamo. Di klub ini Yongki pernah bermain sebagai kiper dan bek kiri. Bakatnya kian berkembang ketika pindah ke klub anggota PSMS lainnya, Bintang
Utara. Klub Bintang Utara sendiri pada era 60-an hingga 80-an adalah tim besar yang kerap menjadi Juara Divisi Utama PSMS dan melahirkan bintang-bintang top. Yakni Ipong Silalahi, Eddy Simon, Azis Tanjung, Zulham Yahya, Anwar Ujang, Zulkarnaen Pasaribu, Muslim, Sukiman dan lainnya.

Di klub inilah Yongki menemukan posisi idealnya sebagai penyerang atau striker hingga akhirnya dipanggil memperkuat PSMS. Rekan seangkatan di PSMS adalah Parlin Siagian, Sakirman Saswa, Chaerul San Siregar, Mariadi, Ismail Ruslan, Sunardi B dan ada juga beberapa lainnya.

Bersama PSMS Yongki Haurissa turut membawa tim kesayangan anak Medan menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI pada 1975 (Juara bersama dengan Persija) dan 1983.

Pensiun dari PSMS, Yongki Haurissa tak mau diam begitu saja. Yongki yang juga sebagai pegawai PLN itu turut aktif membina klub binaan di bawah naungan BUMN tersebut. Yaitu Volta dan aktif sebagai pengelola tim PSMS pada berbagai turnamen.

“Saya secara pribadi mengenal Yongki Haurissa sebagai sosok pemain PSMS yang bertipikal petarung, pekerja keras dan kerap mengintimidasi lawannya dengan tujuan untuk menjatuhkan mental lawan,” ujar Indra Efemdi Rangkuti.

Walau bertipikal keras di luar lapangan, Indra sendiri yang merupakan pemerhati PSMS Medan, melihat sosok Yongki adalah seorang yang periang. Itu terlihat saat para mantan pemain PSMS menggelar latihan rutin pada Minggu pagi.

“Sejauh yang saya kenal bahwa almarhum Yongki adalah orang tegas tapi juga humoris. Tak jarang humor-humor segarnya membuat suasana menjadi cair,” tandas Indra Efemdi Rangkuti mengenang. (***)

Bagikan: