Barcelona sepanjang 90 menit masih mempertahankan keunggulan penguasaan bola (53,2 persen) dan jumlah tembakan (17 berbanding 12). Bahkan Robert Lewandowski melepaskan total 7 tembakan (2 on target). Namun, mereka tidak bisa mencetak satu gol pun ke gawang Bayern.
“Hasil ini (kalah 2-0) tidak menampilkan kisah yang sesungguhnya. Kami punya banyak peluang untuk memimpin, tapi ketika Anda gagal mencetak gol lawan tim besar seperti Bayern, Anda mesti membayaar mahal. Mereka unggul dari kesalahan kami dalam mengawal pemain dalam tendangan sudut,” kata bintang muda Barcelona, Pedri, dikutip UEFA.
Sedangkan di Anfield, Liverpool membutuhkan perjuangan hingga menit-menit terakhir laga untuk dapat mengatasi perlawanan Ajax Amsterdam pada Rabu (14/9/2022). Berusaha melupakan pertunjukan horor seperti ketika dibantai oleh Napoli, Liverpool berusaha meningkatkan intensitas mereka.
Kehadiran Thiago Alcantara di lini tengah dan Joel Matip di lini belakang membuat The Reds lebih berkembang. Mo Salah membuat tuan rumah unggul lewat tembakan menyambut umpan Diogo Jota pada menit 17. Namun, 10 menit berselang, Mohammed Kudus membuat The Reds harus kembali ke titik nol.
The Reds sempat dilanda frustrasi karena tidak kunjung mencetak gol hingga semenit jelang bubaran. Padahal, dari segi statistik, mereka menciptakan 24 tembakan, dengan 10 di antaranya tepat sasaran. Namun, pertahanan Ajax juga terbukti solid. Faktanya, Mo Salah cuma bisa melepaskan 3 tembakan. Justru gabungan Virgil van Dijk dan Matip total punya 7 peluang, dan salah satunya dituntaskan Matip pada menit 89.
“Kami menghadapi tim kelas utama. Mereka punya intensitas lebih daripada kami. Kenyataannya, Liverpool jauh lebih di atas kami. Ketika laga berlanjut dalam urusan fisik, mereka lebih unggul,” kata Alfred Schreuder, pelatih Ajax. (trt/nt)





